728x90 AdSpace

  • Latest News

    27 May 2013

    Pengalaman Penuh Arti

    Catatan Pipih Suyati

    Sabtu, 13 Mei 2012
    Sekitar pukul 17.00 WIB saya pulang dari Ponpes Al Jamhariah Malnu. Saya pulang dijemput sama Kak Soleh. Kami pulang naik motor sangat kencang. Soalnya takut kemagriban. Tidak terasa ternyata kami sudah tiba di depan rumahnya Kak Soleh. Saya turun dari motor. Saya tidak langsung pulang ke rumah tapi ke rumahnya Kak Soleh dulu. Saya langsung buka pintu sambil ucapkan salam. Orang tua Kak Soleh langsung jawab. Ternyata orang tuanya Kak Soleh lagi kumpul-kumpul.

    Ibunya Kak Soleh pun langsung tanya. Eh, pulang, Pih?
    “Iya, Ma,” kata saya.
    Ibunya Kak Soleh namanya Ibu Sukati tapi saya memanggilnya, Mak Kati.
    Dalam bahasa Sunda.
    “Oge, nyaho mun aya acara Pak Ubai?” tanya Mak Kati.
    “Muhun,” jawab saya.

    Saya pun dipersilakan duduk oleh Mak Kati. Saya langsung duduk. Eh, tiba-tiba terdengar suara bedug dipukul. Menandakan sudah tiba shalat magrib.

    Kata saya, Alhamdulillah. “Mak, Pipih mau pulang, ya?” (Mak, Pipih arek uih nya?).
    Mak Kati pun menjawab, “Ih, nanti dulu baru juga duduk!” (Ih, atuh anca bae karek ogeh diuk!”)
    “Iya, Mak.” Kata saya.

    Saya langsung keluar dari rumahnya Mak Kati. Saya tengok kiri-kanan ternyata banyak orang yang mau berjamaah shalat magrib. Saya menyeberang  ke jalan menuju rumah. Soalnya rumah saya sama rumahnya Mak Kati hanya berseberangan doang. Saya langsung membuka pintu sambil ucap salam, yang ada di dalam rumah pun langsung jawab. Ternyata yang jawab salam saya ialah adik-adik saya yang sudah kumpul.

    “Mama-Mama, teteh datang.” Kata adik saya yang paling kecil.
    “Oh, iya.” Jawab Mama.
    Saya langsung bersalaman kepada mama sama bapak beserta adik-adik saya. Saya punya adik 2. Yang satu perempuan, namanya Suryati. Dia kini duduk di kelas 5. Yang satu lagi laki-laki namanya Kusmana. Dia baru usia 4 tahun.

    “Kebetulan pulang lagi ada acara Pak Ubai, Teh.” Kata Mama.
    Pikir saya kok pertanyaannya sama kayak pertanyaan Mak Kati sih.
    “Iya, ini juga pulang disuruh jadi pembawa acara lagi kayak dulu sama Pak Ubai. Sekalian sudah gak punya uang. He…he….” Kata saya.
    “Uh, dasar!” Kata Mama.
    Kebetulan saya lagi gak shalat jadi saya duduk santai sambil nanya sama Suryati.
    “Yati, nanti mulai acaranya jam berapa?”
    “Gak tahu.” Kata Yati
    “Mungkin gimana kumpul anak-anaknya.”
    “Kok gitu. Gimana kalau kumpulnya jam 22.00,” kata saya.
    “Mungkin sekitar jam 19.00,” kata Yati.
    Terdengar Mama manggil dari dapur, “Pih, ya sudah minum dulu tuh makan.”
    “Iya, sudah.” Kata saya.
    “Udah di mana?” Kata Mama.
    “Iya, tadi di kobong.”
    “Ya udah langsung ganti baju aja teteh kalau gitu mah,” kata Yati.
    “Iya, yah mending teteh langsung ganti baju aja. Yati bareng ya ke sananya. Soalnya sekarang mah teteh malu,” kata saya.
    “Ya sudah,” kata Yati.

    Saya langsung masuk ke kamar ganti baju. Setelah selesai saya langsung keluar dari kamar. Terdengar ada suara Mariah ngomong. Saya langsung samperin dia.
    “Eh, Pipih pulang!” Kata Mariah.
    “Iya,” kata saya.
    Saya duduk dulu di sompang depan rumah sama Mariah.
    “Teteh, kalau gitu Yati duluan aja,” kata Suryati.
    “Ya sudah, teteh mau bareng sama Mariah aja,” kata saya.
    “Mar, ketugasin apa sekarang?” kata saya.
    “Baca puisi,” kata Mariah.
    “Em, Mar, ya sudah kita langsung ke sana saja, ya.”

    Saya pun bersama Mariah berjalan menuju di mana acara hajatan Multatuli akan dilaksanakan. Hajatan Multatuli kali ini yaitu hajatan Multatuli yang kedua. Waktu hajatan yang pertama saya ikut suting. He…he… itu merupakan pengalaman yang tak akan bisa terlupakan. Waktu itu saya menjadi Adindanya. Ya Allah, kapan ya saya ikutan drama Saijah dan Adinda lagi. Semoga saja suatu saat bisa ikutan lagi saya berharap banget.

    Pada saat berjalan menuju di mana acara akan dilaksanakan saya bertanya kepada Mariah, “Mar, gimana drama Saijah Adinda seru gak? Siapa-siapa aja pemainnya?”
    Mariah pun menjawab, “Lebih seru lagi sekarang mah. Adinda kecil biasa adik kamu, besar saya. Saijah kecil Yani lagi, Saijah besar Nurdi….”
    “Oh, Nurdi Saijah besarnya?” kata saya.

    Kami di jalan bertemu Rohanah beserta teman-teman yang lain. Kami pun bersalaman sambil saling menanyakan kabar, yang tadinya kami berdua kini jadi banyakan. Tidak terasa ternyata kami sudah sampai rumahnya Kang Acip. Anak-anak yang lain sudah kumpul. Saya langsung samperin Pak Ubai. Saya pun bersalaman sambil bertanya, “ Pak, gimana acaranya sudah disusun?”
    “Sudah,” kata Pak Ubai.

    Terus Pak Ubai pun berkata, “Tuh, Pih, Yani lagi pakai kostum buat pembaca susunan acara. Bagus tidak?”
    Saya pun menoleh ke samping kiri.
    “Oh, iya,” kata saya. Saya pun langsung nyamperin Yani.
    Saya pun bertanya, “Yani, emang kamu mau pakai baju ini?”
    “Iya,” kata Yani.
    Saya menahan tawa. Hiks…hik..
    “Kenapa, Pih?” kata Yani.
    “Enggak,” kata saya, “lucu aja.”

    Yani kini pakai baju merah terus bawahannya rok batik. Ketika dia mau jalan dia itu lucu banget.
    Katanya, “ribet, gak bisa jalan.” Kata bahasa Ciseel mah, jingjet. Terus pakai topinya sama batik kayak roknya.

    Pakaiannya itu pokoknya kayak pakaian adat.

    Saya pun terus bertanya, “Yani, kamu juga mau jadi pembaca susunan acara?”
    Yani pun menjawab, “Iya,” katanya.
    “Oh, kalau begitu kita gentian saja!” Kata saya.
    Yani agak nyengir mungkin dia kurang mengerti maksud saya.
    “Yani, gini maksud saya, missal acara pertama yang baca saya. Acara kedua kamu gitu…”
    “Oh!” kata Yani. Dia baru mengerti.

    Sambil memberikan kertas itu, Pak Ubai pun berkata, “Gimana, Pih, Yani sudah siap belum? Kalau sudah kita mulai saja sekarang.”
    “Ih, gimana, Pak?” Yani merengek.
    “Ya, sudah, Yani gini aja mukadimahnya yang biasa aja yang suka dipakai naswir itu.”
    “Ya, sudah,” kata Yani.

    Saya dan Yani pun berangkat menuju panggung.
    Kata Pak Ubai, “Sip,” katanya. Sambil mengacungkan ibu jarinya, pas turun dari rumahnya Kang Acip.
    “Weeeehh, penonton sudah ramai sekali.” Kata saya.
    Saya dan Yani pun berjalan agak sempit. Kami pun maaf-maafan.

    Kami pun langsung membuka acara. Seperti acara-acara yang lain. Acara demi acara pun berlangsung. Kami bacakan atau panggilkan dengan bergantian. Saya sekarang tidak begitu malu. Soalnya saya sekarang membaca susunan acaranya berdua, yaitu dengan Yani. Yang tadinya saya malu jadi rasa malunya berkurang.

    Acara demi acara berjalan dengan lancar. Acaranya seperti tahun kemarin. Biasa aja ada gegendeh ibu-ibu, ngagondang, baca puisi, sambutan. Tapi sekarang ada silat. Tahun kemarin juga ada tapi silatnya dari Kampung Cigaclung. Kalau sekarang mah dari kampung setempat, yaitu Kampung Ciseel.

    Acara demi acara selesai. Tinggal acara hiburan saja. Saya turun dari panggung. Saya ke rumahnya Mak Hewi, yaitu ibunya Kang Acip. Di rumahnya Mak Hewi saya bertemu dengan Pak Dadang. Kami ngobrol-ngobrol sebentar. Tak lama saya langsung pamitan.

    Saya pun pamit. Saya mau pulang. Pak Ubai pun ada. Saya juga pamitan sama Pak Ubai, “Pak saya pulang, ya?”
    “Iya, makasih, ya, Pih.”
    “Iya, Pak sama-sama.”
    Saya keluar dari rumahnya Mak Hewi. Pas di depan panggung saya mau lewat agak malu soalnya masih banyak penonton tapi terpaksa mau tidak mau saya harus lewat.

    Pas di rumahnya Teh Hindun saya mampir dulu soalnya melihat ada Teh Odah. Saya pun samperin Teh Odah. Teh Odah pun berkata, “Oh, Pipih juga ada!” sambil mengulurkan tangan mau salaman.
    “Iya,” kata saya. Saya pun mengulurkan tangan.
    Yang tadinya saya mau pulang saya malahdi rumahnya Teh Hindun ngobrol-ngobrol dulu sama Teh Odah.

    Tidak lama terdengar katanya ada hiburan debus. Saya dan Teh Odah pun melihat debus. Pas kami di depan panggung, kami melihat orang yang sedang dipukul bambu yang besar. Saya dan Teh Odah pun menjerit-jerit katakutan soalnya itu kepala orang dipukulin bambu dan yang paling heran bambunya itu pecah. Bukan kepalanya. Ya Allah itu benar-benar kepala apa batu. Ih, melihatnya juga ngeri.

    Yang paling ngeri lagi perut dipukul besi. Besinya itu jadi melengkung bukan perutnya. Ih, ngeri. Kami tidak sampai selesai melihat. Saya dan  Teh Odah langsung pulang. Saya langsung pulang ke rumah. Teh Odah ke rumahnya Teh Hindun.

    Di rumah saya langsung tidur. Sebelum tidur saya masih terbayang debus tadi. Benar-benar orang itu kuat pikir saya. Saya pun tidur.

    Minggu, 14 Mei 2012

    Saya bangun agak siang sekitar jam 5 lewat. Saya bangun langsung mandi. Setelah beres mandi saya ditanya sama Suryati.
    “Teh, mau ikut gak ke Badui?”
    “Gimana, ya?” Kata saya.
    “Ya sudah, ikut saja!” Kata Mama.
    “Tapi kan belum ngambil id card-nya?”
    “Ya sudah, sekarang Yati ambil ke Pak Ubai masih ada ini. Yati sambil mau olah raga bareng nanti diambilin.”
    “Oh, emangnya mau olahraga bareng lagi?”
    “Iya,” jawab Yati.

    Yati pun berangkat mau olahraga bareng sama teman-teman kayak tahun kemarin. Tidak lama Yati sudah kembali lagi sambil bawa id card saya.
    “Kok, cepet amat?” Tanya saya.
    “Gak olahraga. Yang lain tidak ada. Hanya saya dan Herti doang,” katanya.
    “Oh,” kata saya.
    Yati langsung ganti baju persiapan mau ke Badui.

    Setelah selesai kami pun berangkat. Ternyata teman-teman yang lain mah sudah pada berangkat tinggal kami berdua. Eh, malah ketinggalan hp. Terpaksa Suryati disuruh ngambil hp dulu. Udah mah ketinggalan sama teman-teman. Ada-ada aja. Pikir saya. Kalau gak diambil gimana nanti gak bisa foto-foto. Tidak lama Suryati udah kembali lagi sambil terengah-engah. Dia kacapekan kali soalnya lari.

    Di jalan kami bertemu Kak Soleh. Kami diajak naik motor. Ya sudah kami langsung mau. Seperti tahun kemarin mobil menunggu di Rasamala. Jadi anak-anak harus jalan dulu ke Rasamala. Lumayan jauh. Nanjak lagi.

    Tak terasa kami sudah sampai Rasamala. Kami pun turun dari motor. Langsung naik mobil soalnya anak-anak yang lain sudah pada naik. Ketika sudah kumpul semua mobil pun berangkat. Melaju kencang menuju Badui.

    Selama di perjalanan kami di atas mobil tidak jenuh soalnya sambil yel-yel, lagu band, dan lain-lain.

    Tiba di Pasar Ciminyak mobil berhenti dulu. Anak-anak pada beli makanan dan minuman dulu. Ketika sudah membeli makanan dan minuman kami berangkat lagi. Tiba-tiba Suryati dipanggil sama istrinya Pak Ubai disuruh pindah mobil ke mobil engkel di depan. Suryati pun pindah.

    Jadi kini aku tidak usah ngurusin Suryati lagi. Tenang deh…. Masalahnya kalau Suryati di mobil losbak kayaknya mabok. Terus saya sebagai tetehnya (kakak) harus merawatnya.

    Tidak terasa di jalan mobil melaju dengan sangat kencang. Kami sambil yel-yelan, ngelagu-lagu yang lain. Band dan dangdut dengan begini ramai.

    Pak Ubai menyediakan mobil 2 yang satu mobil losbak yang saya tumpangi beserta Ida, Maryam, dan temen-teman yang lain. Sangat penuh. Yang satunya lagi mobil engkel. Itu pun penuh. Ada beberapa motor juga. Banyak pokoknya seru.

    Ketika ada motor di belakang kami singgung dengan yel-yel. Hanya seperti di belakang ada cowok. Cowoknya, cowok matre hobinya makan pete. Baunya, baud age. Kami ketawa semua. Eh, tiba di daerah mana kali kami berhenti katanya mobilnya betus ban.

    Lagi seru-seru terpaksa kami turun semua. Mobil engkel dan motor mah udah di depan ninggalin kami. Untung sopirnya sedia ban. Terus diganti bannya. Setelah selesai kami semua naik lagi. Tidak terasa ternyata kami sudah sampai Cijahe yaitu kampung yang mau masuk ke Badui Dalam. Kami turun semua. Kampung ini tidak berubah seperti tahun kemarin saja.

    Setelah kami istirahat, kami pun makan bareng. Setelah itu kami diberi arahan agar tetap menulis catatan perjalanan. Setelah itu kami semua berangkat.

    Sekarang kami ke Baduinya mau ke Cikartawana dan Cibeo. Saya semangat soalnya pengen tahu Cibeo. Setelah nyeberang jembatan bambu semua tanpa dipaku hanya diikat tali, talinya pun dari ijuk. Tahun kemarin kami jalannya ke sebelah kanan, yaitu ke Cikeusik. Tapi sekarang kea rah kiri menuju kampung Cibeo dan Cikartawana.

    Kami berjalan sama-sama menuju Cibeo dan Cikartawana dengan begitu semangat dan tidak merasa lelah. Tak terasa walau perjalanan panas dan sangat panjang. Terkadang kami istirahat dulu lalu jalan lagi. Ternyata kami sebentar lagi juga datang.

    Setelah kami melewati hutan yang sangat panjang dan agak menakutkan. Tiba-tiba teman-teman yang lain berhenti ternyata ada sungai. Sungai ini tidak ada jembatannya. Jadi terpaksa kami harus nyeberang. Di sungai itu kami istirahat dulu ada yang foto-foto, ada yang cuci tangan cuci kaki, dan lain-lain.

    Saya, Rohanah foto-foto dulu kadang kami foto berdua kadang gentian. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata kami sudah sampai di Cibeo, kami semua kegirangan sudah sampai. Alhamdulillah. Ternyata sampai juga pikir saya, walaupun betis agak pegal.

    Setelah sampai di Cibeo saya tidak jalan-jalan karena saya merasa pantat saya sakit. Kenapa ya? Pikir saya, tidak saya ucapkan karena takut ada yang mendengar nanti malu. Saya hanya cengar-cengir sendiri saja kesakitan. Saya hanya duduk, sambil foto-foto saya, Rohanah, dan teman-teman yang lain.

    Kami duduk di depan rumah salah satu penduduk Cibeo. Saya melihat anak-anak penduduk sana. Saya pun ngomong sama Rohanah, “Roh, lihat anak-anak itu. Kalau kita bawa semua terus masukin ke Islam. Soalnya kasihan melihatnya.”
    “Iya, sih kalau bisa mah, tapi gak mungkin,” kata Rohanah.
    Dan anehnya anak-anak itu hampir semua bawa golok. Kata Kak Ucun, katanya, “Keren.” Anak-anaknya bawa golok panjang lagi.

    Tiba-tiba ada ibu-ibu. Masih muda sih! Dia lewat ke depan kami. Dia itu tidak pakai baju hanya pakai sarung. Terus kalau kita mah beha kali ya. Hanya dia mah kayak kerudung atau selendang panjang dia pakai pas di buah dadanya itu. Kami semua saling melirik sambil senyum. Soalnya kalau ketawa nanti kedengar sama dia. Tidak lama dia lewat lagi. Terus ada yang bilang siapa kali. Pokoknya laki-laki katanya awas ada model, Dewi Persik mau lewat. Udah semuanya pada ketawa.

    Eh, ternyata tidak lama dia lewat lagi! Terua ada yang bilang ampun ini Dewi Persik jalan-jalan aja. Dia itu ada kali 4 kali mah mundar-mandir saja di depan kami.

    Ketika kami sedang capek salah satu penduduk yaitu ibu-ibu. Dia memberi kami buah kokosan. Kami berterima kasih. Tidak lama setelah kami melepas rasa lelah kami, terdengar ada yang ngomong katanya ayo lanjutkan lagi tapi saya tidak tahu siapa yang ngomongnya siapa karena tidak melihat siapa yang ngomong. Saya dan teman-teman yang lain langsung siap-siap lagi.

    Kata saya ke teman-teman, “Hey, awas tuh cangkang buahnya jangan diberantakin. Buang pada tempat sampah!”

    Halaman rumah orang Badui itu bersih, tidak ada sampah-sampah tergeletak di depan rumah. Apalagi di dalam rumahnya kali. Walaupun orang-orangnya tidak pakai sandal. Wajarlah halamannya juga bersih. Tapi kalau kita mah mending pakai saja, ya! Soalnya takut nginjak kotoran ayam.

    Saya dan teman-teman semua melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami datang di salah satu kampung. Kampung Cikartawana. Kampung ini sangat sepi. Saya tidak melihat satu pun penduduk di sini.

    Saya merasa agak puyeng udah mah pantat sakit. Pantat saya ternyata kayak melepuh itu mungkin waktu naik mobil itu di jalan kan banyak batu-batu. Jadinya mobilnya gejlag-gejlug.

    Di kampung ini saya melihat lesung panjang sekali. Lesung ini tidak seperti lesung biasa yang saya lihat di kampung saya. Lesung ini dua kali lipat. Mungkin tiga kali lipat juga ada saking panjangnya. Dan lagi halunya banyak. Saya pengen difoto lesung itu tapi katanya jangan. Dilarang, katanya. Sama penduduk di sini. Saya gak jadi deh. Di kampung ini kami tidak lama langsung pulang.

    Kami melanjutkan perjalanan menuju pulang. Semua di jalan saya melihat setiap tikungan itu selalu ada daun aren diikat. Di kampung-kampung kita juga suka ada sih tapi itu kalau ada acara pernikahan dan juga bukan daun aren tapi daun kelapa dihias ditaruh di tikungan atau pas mau masuk ke kampung. Menandakan bahwa ada acara pernikahan. Mungkin di Badui mah adatnya lain.

    Hutan sudah kami lewati. Sungai sudah kami seberangi. Tak terasa ternyata kami sudah sampai lagi di Cijahe. Tidak lama kami istirahat di Cijahe. Setelah itu anak-anak semua pada naik mobil. Anak-anak yang di mobil losbak memanggil-manggil saya.
    “Teh Pipih, ayo, naik mobil ini lagi. Kita yel-yelan lagi.”
    “Maaf , teman-teman saya mau naik motor saja.” Kata saya.

    Mungkin mereka agak kecewa setelah mendengar perkataan saya. Saya sekarang pulangnya naik motor. Masalahnya pantat saya sakit. Saya naik motor sama Kak Mulyadi. Untung dia mau bawa saya. Kalau tidak gimana nanti pantat saya makin parah.

    Mobil losbak, mobil engkel, dan beberapa motor sudah berangkat. Kini tinggal saya sama Kak Mul. Saya naik motor sama Kak Mul. Kami naik salah satu tanjakan. Setelah pas di jalan yang datar, Pak Ubai nyuruh Kak Mul menjemput, teman-teman yang lain katanya masih di bawah. Masih ada beberapa orang lagi di sana, kata Pak Ubai. Saya turun. Kak Mul menjemput.

    Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan. Beberapa kampung telah kami lewati. Ada kerumunan di salah satu bengkel. Ternyata kata teman-teman, Pendi bannya bocor. Jadi saya dan Kak Mul berhenti. Kami menunggu Pendi. Setelah bannya ditambal kami pun semua, jalan lagi.

    Kampung demi kampung telah kami lewati tak terasa ternyata kami sudah sampai Pasar Ciminyak. Kami di Ciminyak berhenti dulu karena magrib. Setelah yang adzan selesai kami pun berjalan lagi.

    Setelah berjalan, berjalan, dan jalan kami pun sampai di kampung halaman. Saya langsung turun dari motor. Ternyata orang tua saya lagi nunggu di depan rumah. Saya pun salaman. Ternyata adik saya sudah di rumah. Saya langsung mandi. Setelah itu saya lihat jam ternyata sudah hampir jam tujuh malam. Saya masuk ke kamar. Saya pakai baju. Setelah itu saya tiduran. Ternyata saya tidur beneran.

    Saya bangun dari tidur kaget sekali. Saya langsung keluar dari kamar. Ternyata orang tua dan adik saya pada gak ada. Saya langsung pakai kerudung sambil menggerutu. Mungkin orang tua dan adik saya sedang melihat film karena katanya malam ini film. Saya pakai kerudung terburu-buru.

    Saya langsung ke luar rumah. Saya jalan kea rah di mana panggung berada. Setelah saya lihat penonton tenyata banyakan banget. Saya agak malu masalahnya saya bangun tidur. Saya melihat layar lebar. Ternyata Pak Ubai lagi tayang. Saya melihat di mana yang kosong, mata saya tertuju ke arah Teh Odah. Ternyata Teh Odah lagi duduk dan di sampingnya kosong. Saya langsung samperin, saya pun duduk di sampingnya.

    Mata saya pun langsung tertuju ke layar tadi.
    “Teh, ini sudah mulai dari tadi, ya?” Tanya saya.
    “Iya,” katanya.
    “Terus itu Pak Ubai apa maksudnya?”
    Teh Odah pun menjelaskan, “Itu Pak Ubai waktu lagi diberi uang. Katanya Pak Ubai itu ada yang ngasih uang 50 juta. Terus katanya itu uang mau dipakai buat membangun perpustakaan itu.”
    “Oh,” kata saya.
    Saya kurang tahu soalnya pas saya datang sudah hampir selesai.
    “Terus Teh, drama Saijah Adinda sudah diputar?”
    “Sudah sepertinya sebab teteh juga ke sininya baru sebentar.”

    Tidak lama saya diajak main ke rumahnya. Saya pun ke rumahnya. Di sana kami ngobrol-ngobrol. Tidak lama saya pulang. Saya pulang ke rumah. Saya langsung tidur biar besok tidak kesiangan. Saya pun tidur.

    Kepada teman-teman jangan sia-siakan waktu saat ini. Kita pergunakan dengan sebaik-baiknya karena waktu tidak akan kembali. Dan selagi Pak Ubai masih mendampingi kita, kita ikuti kegiatan yang ada karena suatu saat pasti akan merasakan betapa berarti semua. Dan ilmu itu bukan dari ruangan kelas saja melainkan dari pengalaman pun kita dapat memetik ilmu.

    Mulai dari sekarang mari kita sama-sama pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk masa depan kita.

    Pak, maaf ya terlambat. Soalnya perasaan Pipih sudah nyatat perjalanan ini tapi bukunya entah di mana. Jadi Pipih bikin lagi….

    Pak, Pipih longmarch ke Ciboleger. Teman-teman semua katanya mau ke Ciboleger juga, ya? Jadi kalau Pipih ikut nyatat perjalanan tahun ini boleh tidak, Pak? Kalau boleh, Pipih mau nyatat terus nanti dikirim lagi. Tapi mungkin Pipih beda ya acaranya. Pak maaf ya tahun sekarang (2013) Pipih tidak hadir di acara. Semoga tahun yang akan datang bisa. Sedih loh, Pak, tidak bisa ikut acara tahun ini.

    Salam dari,
    Pipih

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pengalaman Penuh Arti Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top