Wednesday, August 27, 2014











Sumber: http://townmagz.com/taman-baca-multatuli/
Written By: | February 5, 2014
Posted In: komunitas


“cara belajar sastra yang murah, massal, ada nilai sosialnya”

Townmagz.com, Banten, TAMAN BACA MULTATULI merupakan komunitas belajar independen. Yang mengadakan berbagai aktivitas berhubungan dengan pustaka, seni-sastra, jurnalistik, seni rupa, dan drama.
 
Multatuli dijadikan nama taman baca ini sebab secara historis, dia “aku yang banyak menderita” ini pernah menjadi Asisten Residen di Lebak tahun 1856. Selain itu, aktivitas yang memulai di taman baca ini yaitu pembacaan novel Max Havelaar yang merupakan salah satu karya Multatuli. Novel yang menyuarakan pembelaan terhadap rakyat tertindas. Novel yang ditulis Multatuli setelah terjadinya “insiden Lebak”.

Kampung Ciseel RT 04/05 Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, adalah lokasi kami yang menempati ruangan seluas 3×5 meter persegi di rumah milik Pak RT Syarif yang dikontrak tiap bulan. Harapan para anggota Taman Baca Multatuli yang semuanya masih murid SD, SMP, dan SMA ini, bisa mencintai kegiatan belajar serta gemar membaca maupun menulis. Juga bisa dan mampu menyerap semangat kejujuran seperti yang digambarkan Multatuli dalam novel Max Havelaar. Koleksi Taman Baca Multatuli berupa buku-buku didapat dari membeli dan sumbangan. Hingga kini tersedia cerita anak-anak, remaja, dan dewasa. Seperti komik, majalah anak, buku dongeng, dan karya sastra. Juga tersedia beberapa permainan. Kini tersedia novel Max Havelaar dalam enam bahasa, di antaranya Indonesia, Belanda, Jerman, Italia, Inggris, dan Sunda. Juga kumpulan tulisan berupa makalah, esai, dan artikel terkait MULTATULI.
“ Reading group, ya, reading group cara belajar sastra yang murah, massal, ada nilai sosialnya. Reading group membaca novel superlelet, sangat pelan, pelan sekali. Membaca novel secara intensif. Membaca mendalam. Membaca memahami.Reading group dapat dilakukan di mana saja. Di tempat kerja, kawans. Di sekolah. Di komunitas. Atau kelompok-kelompok pemikiran. Reading group membaca novel. Reading group mengaji novel “ ucap Ubaidilah Muchtar pelopor reading group multatuli.

Resensi Buku: Max Havelaar

Sumber: http://best-sellerbooks.blogspot.com/2014/07/resensi-buku-max-havelaar.html


Kisah yang “Membunuh” Kolonialisme

MULTATULI atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) menulis Max Havelaar setelah selama 18 tahun mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Karier Multatuli sebagai penulis berlangsung 18 tahun, sama seperti masa kariernya sebagai pegawai pemerintah. Multatuli kemudian mengasingkan diri ke Jerman dan meninggal pada Februari 1887.

Eduard Douwes Dekker adalah mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha “membayar” utang mereka kepada pribumi.


Meski pendidikan hanya terbuka bagi kaum elite yang loyal kepada pemerintah Hindia Belanda, setidaknya kesempatan itu membuka mata para priyayi pribumi tentang kondisi dunia. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer (pengarang yang lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun, --pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia yang telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing) berpendapat bahwa reformasi pendidikan kaum elite ini pada akhirnya memunculkan pergerakan nasional, yang memunculkan negara Indonesia dan mengakhiri kolonialisme Belanda pada 1945, serta memicu gerakan-gerakan antikolonialisme di Afrika. Karena itu, Pramoedya menyebut Max Havelaar sebagai buku yang “membunuh” kolonialisme.

Penerbit Qanita mempersembahkan Max Havelaar sebagai salah satu buku yang penting dalam khazanah sastra klasik Indonesia. Sebuah karya yang mengunggah kebobrokan pemerintahan dan ketidakpedulian para pejabat, sebuah penyakit yang menjadi momok di Lebak dan Indonesia hingga masa kini. Sebuah karya sastra yang memperkaya batin pembacanya.

Qanita menerjemahkan Max Havelaar dari edisi bahasa Inggris terjemahan Baron Alphonse Nahuys, dengan referensi edisi terjemahan Indonesia oleh HB Jassin. Penerbit juga melakukan beberapa penyesuaian minor agar bahasanya lebih bisa diterima pembaca sekarang, tetapi dengan tetap mempertahankan nuansa klasiknya.

Tragis, lucu, dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik naruni. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi dalam film dan drama, gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca sejak terbit tahun 1860 hingga kini. Selamat membaca.

 

Judul : MAX HAVELAAR
ISBN : 978-602-1637-45-6
Penulis : Multatuli
Penerbit : Qanita, PT Mizan Pustaka
Cetakan : 2014
Jenis Cover : Soft Cover
Tebal : 480 halaman
Dimensi : 13 x 20,5 cm

Max Havelaar Sampul Ciseel

Max Havelaar l Penulis Multatuli l ISBN: 978-602-1637-45-6 l Penerbit Qanita, Mizan Pustaka l Bandung l Cetakan pertama, Mei 2014 l Soft Cover l 480 halaman l 13 x 20,5 cm

Ada-ada Saja, Buku-buku Bekas Ini Jadi Kambing


Kelak anak kambing itu akan diberi nama Little Multatuli, seperti anaknya Che yang dijuluki Little Mao oleh Che sendiri.

 


JAKARTA, Jaringnews.com - Ada-ada saja postingan seorang penulis catatan perjalanan dan sastra Sigit Susanto yang kini bermukim di Swiss ini. Dengan nada seloroh ia memposting sebuah tulisan berjudul "Metamorfosis Kambing" di akun Facebooknya, Rabu, 16/7.

Berawal dari kiriman buku-buku bekas bahasa Inggris (dikirim oleh Sigit), mayoritas buku sastra dari Swiss ke Lawang Buku di Bandung, Denny Jenggot (Pengelola Lawang Buku) membuat keputusan mengejutkan. Ia menjual buku-buku tersebut di lapaknya pada lantai dasar di sebuah supermarket di Bandung.

"Ketika buku-buku tersebut terjual dan sampai terkumpul Rp 2 juta, aku mohon dana tersebut dijadikan kambing. Dikirimlah dana itu dari Denny ke Ubai," aku Sigit merujuk pada Ubaidilah Muchtar, Pengelola Taman Baca Multatuli di Lebak yang lokasinya di pedalaman dan di tepat itu lebih banyak rumput ketimbang jalan beraspal. Sigit berpendapat sangat cocoklah tempat itu untuk memelihara kambing.
Semua berjalan seperti yang direncanakan. Untuk tujuan itu, Ubaidilah Muchtar membelikan kambing peranakan Garut, pejantan seharga Rp 2 juta dari penjualan buku bekas tadi, sedang Ubai sendiri menambah membeli kambing betina seharga Rp 1,3 juta.

"Kompak lah simbiosis multatulisme. Kelak anak kambing itu akan kami beri nama Little Multatuli, seperti anaknya Che yang dijuluki Little Mao oleh Che sendiri," seloroh pria kelahiran Kendal, 21 Juni 1963 yang naik daun dengan buku-bukunya yang berjudul "Menyusuri Lorong-Lorong Dunia".

"Siapa hendak titip kambing di Dusun Ciseel, Lebak? Ada petani yang mengurusnya, bagi hasil. Dipersilakan. Setahun sekali ditengok sambil bersastra," ujarnya.

Terang saja, postingan itu mendapat tanggapan dari sejumlah rekannya. Ben Abel misalkan menanggapi demikian ini "Bagus nian, Multatuli bukan cuma bersastera, tetapi juga ngurus kambing dan beternak .... hasilnya buka bikin otak berisi, akal pun berlaku .... yang kita agungkan bukan oleh kambingnya dari buku rombengan, tetapi karena kita mencintai buku dengan akal sendiri menjadi juga penunjang hidup ....seperti padi yang kita tuai dari hasil tanam tangan sendiri."

Sigit Susanto pun  menimpali, "Idealnya, Taman Baca Multatuli punya kerbau sendiri, Ben Abel, simbol kesetiaan hewan dengan ayah Saidjah dan Saidjah sendiri. Selama ini pentas drama Saidjah, pinjam kerbau dari petani, tapi karena kerbau mahal, kambing pun jadi hehehe....kukira mencintai buku tidak harus dengan cara yang kaku dan kering, bisa dengan renyah. Yang menyenangkan, ya buku jadi kambing itu....suatu pagi Multatuli bangun dari mimpi buruknya, tiba-tiba didapati tubuhnya sudah berubah menjadi kambing raksasa....salam multa-kafka."

Penulis: Johannes Sutanto de Britto
Kamis, 17 Juli 2014 08:55 WIB 
Link: http://jaringnews.com/seleb/umum/64636/ada-ada-saja-buku-buku-bekas-ini-jadi-kambing

TAMAN BACA MULTATULI: Membuka Dunia dengan Buku

Penulis: MI/Hera Khaerani
Kamis, 26 Juni 2014 
Sumber: http://www.mediaindonesia.com/hottopic/read/1693/TAMAN-BACA-MULTATULI-Membuka-Dunia-dengan-Buku/2014/06/26
 
"ADUH!" ucap penduduk yang kami jumpai di Ter minal Rangkasbi tung saat tahu tujuan kami. Tujuan kami tidak lain ke kawasan Ciminyak, Kampung Ciseel, Lebak, Banten. Kawasan yang dianggap terisolasi dari ojek, karena perjalanannya cukup ekstrem dengan tanjakan, tebing curam, dan jalan setapak yang berbatu. Kenyataannya memang begitu. Untuk mencapai lokasi yang berada di provinsi tetangga Ibu Kota, Jakarta, itu bukan perkara mudah. Kami memulainya dengan naik kereta dari Jakarta menuju Stasiun Rangkasbitung, dilanjutkan dengan menumpang mobil elf menuju Pasar Ciminyak yang ada setiap 3 jam sekali dengan biaya Rp20 ribu.

Perjuangan baru dimulai dari Pasar Ciminyak. Akses ke Ciseel hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor. Karena itu, jangan kaget ongkos ojek bisa mencapai Rp50 ribu karena kondisi jalanan yang tidak bagus. Apa sebenarnya yang dicari di Ciseel? Di kaki Gunung Halimun-Salak yang terpencil itu kami menemukan bahwa buku bisa membawa manusia berkelana jauh dari lokasi mereka. Ada Taman Baca Multatuli di sana, komunitas belajar independen yang mengadakan berbagai aktivitas berhubungan dengan pustaka, seni-sastra, jurnalistik, seni rupa, dan drama. Ubaidilah Muchtar-lah yang mendirikan Taman Baca Multatuli pada Maret 2010. Sejak akhir 2009, pria yang akrab dipanggil Ubai itu dipindahkan mengajar ke SMPN Satu Atap 3 Sobang.

Karena bertugas jauh dari istrinya yang tinggal di Depok, Ubai sempat mengontrak di rumah milik Ketua RT bernama Syarif. Sebelum memiliki tempat sendiri, di rumah Ketua RT itu pula Taman Baca Multatuli menumpang, demi menampung anak-anak yang ingin memenuhi rasa haus akan membaca dan belajar menulis. Sesekali, mereka juga membaca buku di tepian Sungai Ciminyak.
Berkat sumbangan, kini aktivitas taman baca itu pindah ke bangunan 7x4 meter di atas tanah seluas 90 meter persegi. Tempat baru itu ditempati sejak 23 Oktober 2012.

Multatuli

Salah satu buku kesukaan anak-anak ialah Multatuli. Perkenalan mereka dengan buku itu, kata Ubai, dinilai penting karena dekat dengan kehidupan mereka. Multatuli, yang berarti `aku yang banyak menderita' itu, sejatinya nama pena Eduard Douwes Dekker yang pernah menjadi Asisten Residen di Lebak pada 1856. Kegiatan yang mengawali taman baca tersebut merupakan pembacaan novel Max Havelaar, salah satu karya Multatuli. Novel itu menyuarakan pembelaan terhadap rakyat tertindas, banyak bercerita soal kesewenangan yang terjadi di Lebak, dan, Ciseel pun berada di Lebak. Menariknya, konsep yang digunakan Ubai bukanlah pola baca yang menuntut cepat selesai.

Mereka justru membaca dengan sangat perlahan. Pertama kali mereka menamatkan pembacaan Max Havelaar pada 21 Februari 2011, setelah 11 bulan. Pembacaan berikutnya, mereka baru tamat setelah 2,4 tahun. "Saat menemukan istilah yang tidak dipahami, mereka tanya. Misalnya tete-a-tete, istilah dari bahasa Prancis yang artinya percakapan dua orang secara tatap muka," contoh Ubai. Alasan lain pembacaan yang lambat ialah rentang usia peserta yang berbeda. Banyak dari mereka belum bisa baca dan tulis. Meski lambat, anakanak itu paham secara kontekstual dengan kehidupan mereka. Sumiati, 15, misalnya. Siswi kelas 1 sekolah menengah kejuruan itu berpendapat bahwa novel berusia lebih dari 154 tahun tersebut masih relevan dengan kehidupan belakangan ini.

 "Misalnya tentang pejabat-pejabat yang korupsi," katanya tanpa ragu mengambil Gubernur Banten Atut Chosiyah sebagai contoh. Lebih mengejutkan lagi, peserta lain, Irman, turut menimpali, "Iya itu adiknya (Tubagus Chaeri Wardana) juga (korupsi)." Bocah berusia 13 tahun itu merasakan betul bahwa ketertinggalan yang dialami penduduk di tempat tinggalnya merupakan buah kesewenangan pihak yang memiliki kekuasaan. Meski sudah tamat, kegiatan membaca buku Max Havelaar terus berjalan. Reading group Max Havelaar dilakukan tiap Rabu pukul 16.00-17.30 WIB, sedangkan, reading group novelet Saija berbahasa Sunda dige;ar setiap Kamis.

Perubahan

Menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak Ciseel bukan perkara mudah. Apalagi ketika berhadapan dengan kebutuhan ekonomi, di saat anak-anak turut membantu keluarga mereka bekerja. Kini semua sudah berubah. Mereka mulai terbiasa membaca dan para orangtua juga akrab dengan istilah reading group. Maka tak mengherankan jika terdengar celetukan bercampur antara bahasa Sunda dan Inggris, "Hei, ari maneh kunaon teu `reading'?" (Hei, kamu kenapa tidak ikut `reading' (membaca)?" Kendala lain ialah kesibukan Ubai sebagai guru di dua tempat, yakni SMPN Satu Atap 3 Sobang dan SMPN 1 Cipanas. Nurdiyanta, 20, peserta kelompok baca Max Havelaar, mengaku sempat dibuat kecewa. "Dulu sempat lumayan lama Pa Ubai tidak ada karena sibuk, jadi tidak ada `reading'.

Ada yang gantikan, tapi rasanya beda," ungkapnya. Meski merupakan peserta paling tua, Nurdiyanta mengaku itu buka masalah. Namun, pria yang kesehariannya bertani itu khawatir dengan pergeseran kebiasaan. "Sekarang di kampung kita ada listrik, banyak yang lebih suka nonton TV daripada membaca. Saya takut begitu," akunya. Sebagai catatan, sejak Agustus 1,5 tahun silam, Ciseel mulai dialiri listrik dan sedikit banyak hal itu mengubah kehidupan mereka. Kini, anak-anak Ciseel sudah bisa membaca dan menulis buku harian, bermain drama, menonton film, dan belajar bahasa Inggris. Setahun sekali, tepat pada 15 Mei, mereka menggelar Ciseel Day dengan menyusuri jejak Multatuli di Rangkasbitung.

Mengabdi Melalui Karya Multatuli

Terima kasih kepada penulis. Tanggal 27 Agustus ini menemukan link berikut. Terima kasih sudah menuliskannya. Salam Multatuli.
Link: http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/home/1053

TESIS DI TAMAN BACA MULTATULI


Tesis. Konstruksi Makna Membaca di Taman Baca Multatuli Ciseel Sobang Lebak Banten. Penulis: Ahmad Subhan. UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2013.
Link: http://www.academia.edu/4990400/KONSTRUKSI_MAKNA_MEMBACA_DI_TAMAN_BACA_MULTATULI_CISEEL_SOBANG_LEBAK_BANTEN