Wednesday, July 16, 2014

Radio VPRO Netherland

Ini link reading group Max Havelaar di radio VPRO Belanda yang disiarkan tanggal 25 Maret 2014.
Simak mulai menit ke-26 hingga 30. Selamat mendengarkan.


http://www.vpro.nl/buitenland/speel.segment.39140004.html 

Salam Multatuli,
Taman Baca Multatuli
Ciseel, Sobang, Lebak, Banten

Saturday, May 31, 2014

Kata Kawan #3



Oleh Ubaidilah Muchtar


Kata Kawan #3 tentang Ciseel Day. Kegiatan tahunan di Taman Baca Multatuli. Di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kec. Sobang, Kab. Lebak, Banten. 50 Km dari Rangkasbitung. Ciseel Day 3 di tahun 2013. Dilaksanakan pada tanggal 27-28 April 2013. Sabtu-Minggu harinya. Drama Saijah Adinda, Penanganan Gigitan Ular (Komunitas Sioux), Kosidah, Gondang, dan Pegi Ke Badui Luar (Kaduketug, Balimbing, Gajebo).

Kawan Komunitas Sioux, pencinta ular dari Jakarta datang di Ciseel Day 3 ini. Ini kata mereka juga kata mereka yang datang. Kata Kawan #3.

Mas Kisoet Sioux menulis, “Yayasan Sioux Ular Indonesia. Waspada, tapi jangan dibunuh!” Kemudian, www.ularindonesia.com, tulis Jabrix Sioux, “senyum lugumu tak tergantikan, Taman Baca Multatuli,” lanjutnya. Sementara Mas Koetoe Sioux menulis, “Semangat kalian adalah inspirasi buat kami. Tetaplah tersenyum untuk dunia J.” Terakhir Mas Andi Sioux, “Tetap berani bermimpi,” tulisnya.

Ada kawan-kawan Pengajar Muda (PM) dari program Indonesia Mengajar. Ini kawan-kawan IM yang ada di Kabupaten Lebak. Terima kasih ya sudah datang. Ada Mas Fandy, Mas Agung, Mbak Ite, dan Mbak Devita.

Mas Fandy Ahmad menulis, “Menikung masuk tak harus lurus!”

“Menyadari bahwa kami tak berjalan sendiri. Kita berjalan di jalan yang sama,” tulis Mas Agung. Agung Hari Cahyono.

Mbak Ite, lengkapnya Mbak Irma Latifah Sihite. Mbak Ite membaca satu puisi malam itu. Mbak Ite menulis, “Menggugah!”

 “Semangat itu,” katanya, “menular seperti gravitasi,” tulis Mbak Devita. “Ia menarik apapun di sekitarnya. Semakin banyak kita tahu, sesungguhnya kita tidak tahu apa-apa,” masih tulis Mbak Devita Anggraini.

Ada Mas Erlang. Mas Erlang setiap tahunnya bersama kawan yang berbeda. Setelah Mbak Ade dan Mas Adi. Tahun ketiga ini, ia bersama Mas Andes. Mas Andes atau Andes Yuliadi Saputra menulis, “Pertama dan bukan yang terakhir. Rumah yang membukakan mata hati.”

“Rumah baru dan lebih terang, dengan perjalanan yang sama menegangkan.” Tulis Mas Erlang. Oh ya, di tahun ketiga ini sudah ada rumah baru. Tidak lagi di rumah Kang Sarif.

Di tahun ketiga, Mas Sigit dan berdua saja dengan Mas Tommas.

Mas Sigit mencatat, “Menikmati rumah mungil yang indah & penuh dinamika.”

Mas Tommas menulis agak panjang. Ini tulisnya, “Selalu ada hal baru di Ciseel, dan selalu ada keterikatan emosi dengan anak-anak Ciseel. Selamat menjelajah dunia melalui taman baca! (Membacalah maka engkau akan mendapati satu hari yang berharga). Salam untuk: Sumyati, Suryati, Mariah, Elah, Irman, Sangsang, Cecep, Pak Sarif, Kang Ubai, dan kawan-kawan Kampung Ciseel.”

Ada Mas F. Rahardi juga bersama ibu. Mas Rahardi penyair dan mantan pemred Majalah Trubus. Mas Rahardi menulis, “Tidak seperti teman-teman yang kapok datang lagi ke Ciseel, saya akan datang lagi.” Terima kasih Mas Rahardi. Semoga selalu sehat. Juga untuk ibu.

Ada Mas Subhan Ahmad di tahun ketiga ini. Mas Subhan sedang menyelesaikan tesisnya tentang reading group. Ya, di sini! Di Taman Baca Multatuli. Oh ya, Ada istriku—Linda setiap tahunnya. Tahun ketiga ini juga ada. Terima kasih, Nta. Terima kasih untuk kawan Multatuli yang datang juga yang datang lewat hembus semangatnya. Salam.

Kata Kawan #2



Oleh Ubaidilah Muchtar

Tahun kedua acara Ciseel Day masih di depan rumah Pak RT Sarif. Sebab Taman Baca Multatuli masih menempati rumahnya. Acara Ciseel Day 2 dilaksanakan Jumat-Sabtu, 11-12 Mei 2012. Drama Saijah Adinda, Kesenian Debus, Sajak Saijah Adinda, Kosidah, Pencaksilat, Godang, Gegendeh, dan Pergi Ke Badui Dalam (Cibeo dan Cikartawana).

Beberapa kawan datang. Ini catatan Kata Kawan #2 yang datang di 2012.

Mas Sigit Susanto, penulis buku perjalanan. Bukunya Menyusuri Lorong-Lorong Dunia sudah tiga jilid banyaknya. Ada sekitar 42 negara yang telah dikunjunginya. Ini kedatangnnya yang ketiga kali ke Ciseel.

Mas Sigit menulis, “Ciseel tetap sama memikatku, walau listrik telah masuk 2 bulan silam. Setahun silam kudatangi dengan kawan-kawan, pesona warga, bocah-bocah, alam, militansi Ubai dengan reading group menjadi magnet terkuat untuk datang, selain semur jengkol. Terima kasih tim dapur.”

Di tahun kedua ini juga datang bersama Mas Sigit, yaitu Mas Heri. Heri Chandrasantosa. Mas Heri yang wartawan ini menulis, “Sangat mendebarkan dan melelahkan ketika ngojek dari Cipanas menuju Ciseel tempat Rumah Baca Multatuli. Bersama tukang ojek, tercatat 4x aku harus melompat dari motor saat turunan & tanjakan tajam. Namun begitu, rasa lelah & lungkrah itu sirna saat sampai di sini. Ada keguyuban, kegotongroyongan, senyum lugu anak-anak & orang kampung yang tulus. Ciseel seperti negeri dongeng…memang sulit menujunya….tapi saat telah bisa memasukinya banyak kebahagiaan yang memancar. Salut buat Mas Ubai dkk. Terima kasih untuk bala Reading Group Multatuli. Terima kasih. TETAP KONSISTEN dan DINAMIS.”

Ada penyair dari Bandung. Mas Rama Prabu. Mas Rama dari Dewantara Institut. Tulis Mas Rama di buku merah, “Perjuangan mendidik butuk konsistensi dan keteguhan hati, tapi di sana kita terus menyimpan apinya jadi bara abadi. Tentu ini dengan sikap sahaja dan ikhlas. Taman Baca Multatuli adalah satu langkah melestarikan ingatan, dan mengingatkan penduduk setempat bahwa daerahnya punya permata terpendam, yaitu novel Max Havelaar. Mari, bergandeng tangan, Dewantara Institut mengapresiasi dan siap kapanpun mendukung setiap taman bacaan yang berkarakter dan saya melihat di sini menerapkan Ing Madyo Mangun Karso, Ing Ngarso Sung Tulodo, Tut Wuri Handayani. Sampai bersua lagi.”

Kemudian ada Mas Opang. Mas Opang datang tengah malam. Ya, ia datang tengah malam dengan ojek! M. Nofal Kurniawan dari Jakarta. Punya komunitas. Namanya Komunitas Libur Tanpa Ke Mal. Mohon maaf jika salah menulis nama komunitasnya. Mas Opang menulis, “Tidak sampai dua hari di Ciseel, telah sangat cukup bagi saya untuk menabung oksigen, dan tidak sampai dua hari di Taman Baca Multatuli telah lebih dari cukup bagi saya untuk menabung pengetahuan dan contoh nyata keteladanan, dan semangat luar biasa anak-anak, masyarakat sekitar memperjuangkan ilmu demi masa depan yang lebih baik. Pak Ubay, akan saya bawa tabungan ini kembali ke rumah, akan saya sampaikan ke keluarga kecil saya dan akan saya ceritakan ke kawan-kawan. Salam hormat dan salut untuk inspirasinya!”

Dari Ciminyak ada Boy Angky S. Mas Boy menulis, “Ciseel bukan tempat asing bagi saya, karena saya dari Kecamatan Muncang, tapi kedatanganku kali ini sangat berbeda, sangat terkesan. Karena kedatanganku kali ini berawal dari ketidaksengajaan membaca pamplet di tempatku. Wah, Ciseel, “Whats Up!” Tapi rasa penasaran dan coba-coba ini tidaklah sia-sia. Karena impianku selama ini, pengen ketemuku selama ini ternyata tercapai. Bukan hanya bertemu, tapi langsung share dan tour bareng. Terus jaga reading. Tetap jaga kebiasaan baikmu.”

Mas Adi Prasatyo datang bersama Mas Erlang. Ya, datang dari Serang. Mas Adi menulis, “Pertama kali datang ke taman baca ini luar biasa perjalanannya sampai-sampai kesasar di depan rumah orang. Buat masyarakat Ciseel tetaplah rajin membaca.”

“Di kali kedua ini,” tulis Mas Erlang, “tetap menantang. Semoga listrik dan televise menjadi fasilitas yang bermanfaat,” lanjutnya.

Mas Arif adalah adik dari Mas Opang. Mas Arif datang dari Semarang. Mas Moh. Arif Wahyudi lengkapnya. Mas Arif menulis, “Butuh niat yang ikhlas dan usaha yang tulus untuk bisa mencapai Ciseel. Perjalanan ini kian membuat saya meneguk ludah semakin dalam, semakin tersadar akan semangat luar biasa Kang Ubay+istri. Bersama teman-teman dari Swiss, Jatim, Kendal, Ciamis, Jakarta, dll. Tetap istiqomah di jalannya yang semoga benar jalannya.”

Kang Ali Sobri datang dari Serang. Kang Ali wartawan di Radar Serang. Saya dengar saat ini ia di Majalah HAI. Sukses Kang Ali! Kang Ali menulis di buku merah, “Pembuktian, satu niatan saya berkunjung ke TB Multatuli. Saya piker ada juga yang sedang berjuang di Lebak dan itu di Ciseel. Buah pikiran dan kerja keras Kang Ubai ini pernah saya dengar dan baca dari dunia maya. Undangan itu telah ada, “Sastra Multatuli 2012”. Saya pun menyaksikan langsung TB Multatuli Amazed! Lebih-lebih saya bermotor single ke Ciseel tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan Kang Ubai dkk. Extraordinary, crazy, and super crazy. Saya belajar banyak dari aksi guru SMP ini.”

Ada Dian Hardiana. Kami—saya dan kawan-kawan di IKIP/UPI Bandung sering memanggilnya: Samnyong atau Nyong. Samnyong naik motor enam jam dari Pandeglang. Ia sebenarnya asli Bandung. Namun telah lebih dua tahun ini memelihara burung dan menghidupkan ekonomi rakyat di Pandeglang. Samnyong mencatat, “Bukan jarak atau jalan atau sekadar acara yang membuat saya datang dan terkesan. Tapi semangat dan kebaikan. Kerja keras dan impian. Semua orang itu guru/alam raya sekolahku/sejahteralah bangsaku//. Nuhun ka masyarakat Ciseel. Terima kasih Kang Ubai. Gracias.”

Mas Daurie di tahun kedua ini menulis, “Kali kedua ke Ciseel, tak banyak berubah di TBM Multatuli. Antenna TV makin banyak, listrik udah bukan barang langka. Terus membumi & explore kreativitas kegiatan.”

Mas Tommas Titus K. menulis, “Ciseel mantabs! Badui mantabs! Jengkol mantabs! Gadis Ciseel mantabs! Salam hangat dari Semarang J.”

Terkahir ada Mbak Fifi yang menulis, “Pertama kali datang ke Ciseel disambut dengan medan yang mengejutkan tapi niat untuk menemui seorang guru yang hanya mendengar nama dan perjuangan demi pendidikan membuatku bertambah semangat. Setelah sampai dan bertemu masyarakat di sini serta melihat semangat anak-anak. Lelah yang ada tak terasa. Terima kasih, saya pasti akan kembali.”

Terima kasih yang telah datang di 2012. Ada juga Mas dan Mbak kawannya Samnyong yang datang bersama. Terima kasih. Oh, istriku—Linda, tentu ada! Terima kasih, ya. Salam Multatuli. Terima kasih untuk kawans yang jauh. Salam kembali.

Kata Kawan #1



Oleh Ubaidilah Muchtar

Ini Kata Kawan #1. Ini tentang kesan kawan-kawan yang datang ke acara Ciseel Day 1. Mereka yang datang ke Ciseel di tahun 2011. Tepatnya, 13-15 Mei 2011. Jumat-Minggu. Tiga hari acaranya. Drama Saijah Adinda, Menyusuri Jejak Multatuli di Rangkasbitung, Pencaksilat, Kesenian Rakyat, dan Pergi Ke Badui Dalam (Cikeusik).

Pertama Mas Adi. Ya, lengkapnya Adi Toha. Mas Adi dari Pekalongan. Kata Mas Adi, “Mantabs! Perjalanan yang penuh teror terbalas oleh kemenarikan acara dan suasana Ciseel & Rumah Baca Multatuli. Dari pojok kecil nan terpencil kelak akan lahir Multatuli baru untuk Indonesia. Semoga”.

Kemudian ada dari Mbak Ita Siregar. Mbak Ita ini penerjemah dan penulis. Mbak Ita dari Jakarta. “Perjalanan dan medan: menegangkan tapi seru. Drama Saijah & Adinda: Bagus karena berbahasa daerah & anak-anak berani tampil. Warga ramah & kompak,” demikian tulis Mbak Ita.

Mbak Esther Mahanani, pemandu reading group novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemmingway dari Boja. Mbak Esther menulis: “Salut untuk adik-adik reading group Max Havelaar berhasil menampilkan drama Saijah & Adinda dengan bagus dan mengharukan J Edan! J.”

Mbak Djamali. Mbah Djamali ini usianya sekira 71 tahun. Kuat berjalan jauh. Mengikuti acara-acara di berbagai kota. Mbah Djamali serombongan dengan Mbak Esther dari Boja, Kendal, Jawa Tengah. Mbak Jamali menulis, “Semoga pemerentah peduli dengan desa yang masih belum terjangkau listrik dan jalan yang masih alami. Warga penduduk harus kreatif.”

Lalu ada Mas Daurie. Mas Daurie Bintang Reborn berdomisili di Bogor. Pakar NLP. Tulis Mas Daurie, “Senang bisa kolaborasi dengan TBM Multatuli. Kalian hebat!”

Nomor enam yang menulis yaitu Mas Tommas Titus dari Semarang. Mas Tommas menulis, “Melelahkan, 17+ hours from Semarang, tapi tidak sabar menanti Badui Dalam. Bahasa Sunda sangat indah, kulit orang Ciseel pun putih-putih. Menarik berada di tempat Kang Ubai. Cheers!”

Ada Mas Ervin dari vhrmedia.com. Ia dari Jakarta datang di saat Ciseel baru saja diguyur hujan. Mas Ervin menulis, “Mantap petualangannya!”

Di tahun 2011 juga ada Mas Husni. Lengkap namanya: Husni K Effendi. Ia wartawan lepas dari Jakarta. Mas Husni menulis, “Salut untuk Ubay…!!!”

Ada Mbak Endah Sulwesi dari Kedailalang. “Pengalaman tak terlupakan,” tulisnya. “Tetap semangat. Seru banget pake nyebur-nyebur sungai. Ubay emang keren!”

Mas Kef menulis, “Heroik, militansi sastra, hal-hal ajaib yang emotif & inspiratif,” kemudian lanjutnya, “kagum dengan semangat sastra di daerah, patut ditiru, ditularkan.” Masih menurut cerpenis asal Jakarta ini, “Jangan berhenti membaca, mengapresiasi, dan menulis.” Oh ya, Mas Kef nama lengkapnya Kurnia Effendi. Sip.

Kemudian ada Mas Natsir. M. Natsir Kongah yang datang bersama putranya, Vito. Mas Natsir menulis, “Eksotis. Supaya diagendakan setiap tahunnya untuk memompa semangat memperjuangkan kehidupan rakyat.”

Mas Wahyu atau Bernard T. Wahyu W. menulis, “Seru. Harus nyebrang kali yang bentar lagi banjir.”

Lalu ada Mas Ragil Nugroho dari Yogyakarta. Mas Ragil menulis, “Mencerahkan. Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa (Milan Kundera).”

Ada Anri Rahman yang datang bertiga dengan Ihung dan Rizki Sharaf. Anri menulis: “Maju terus.”

Sementara Ihung menulis, “Segar. Pingin main bola euy di sini!”

Rizki Sharaf menulis, “Bikin sehat dan ceria. Pol. Keren deh!”

Dari Serang ada Mas Erlang dan Mbak Ade Fitri. Mas Erlang, cerpenis dan pemred tabloid Banten Muda menulis, “Terus bergerak.”

Mbak Ade menulis, “Semangat… menemu semangat.”

Ada Kang Sutan dari Bogor. Lengkapnya Sutanandika. “Selalu terkesan berkunjung,” tulisnya, “dan tidak ada yang baru di sini,” lanjutnya.

Masih ada Mas F. Rahardi, Mbak Indri, Mbak Leni, Mas Sigit Susanto, dan istriku—Linda Nurlinda. Namun saya tidak menemukan tulisannya. Terima kasih sudah datang. Salam Multatuli.



Agenda Acara Ciseel Day 4: Multatuli Teladan Kita



Salam Sastra,

“Mengabdi secara lain dari yang saya lakukan di Lebak, saya tidak bisa.” (Max Havelaar, hal. 327)

Sejak 23 Maret 2010 hingga Rabu, 21 Mei 2014 pembacaan novel Max Havelaar sudah memasuki pertemuan ke-139. Membaca novel Max Havelaar secara pelan-pelan yang dilakukan dalam format Reading Group. Ya, reading group! Membaca bersama-sama. Membaca superpelan. Membaca pelan sekali. Membaca secara mendalam. Membaca secara murah, massal, dan ada nilai sosialnya. Pembacaan novel ini dilaksanakan di Taman Baca Multatuli. Di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kec. Sobang, Kab. Lebak, Banten.

Sebagai bentuk selingan dalam kegiatan menyuntukki teks Max Havelaar, kami mengadakan acara setiap tahun. Ya, acara ini kami namakan Ciseel Day. Tahun ini kegiatan Ciseel Day memasuki tahun ke-4. Selain sebagai selingan, kegiatan tahunan ini juga dilaksanakan sebagai bentuk kecintaan kami pada novel Max Havelaar. Ya, novel kepahlawanan pembela rakyat tertindas yang ditulis Multatuli.

Novel Max Havelaar pertama kali terbit 15 Mei 1860. Tahun 2014 ini novel Max Havelaar memasuki usia 154 tahun. Tahun 2014 ini kegiatan Ciseel Day 4: 154 Tahun “Max Havelaar” mengambil tema: Multatuli Teladan Kita.

Multatuli Teladan Kita sebagai tema Ciseel Day 4: 154 Tahun “Max Havelaar” kami angkat sebab Multatuli sangat peka pada ketidakadilan, Multatuli tahu bagaimana jika Dia melihat ketidakadilan itu terjadi, dan Multatuli pandai menulis.

Harapannya ketiga hal yang dimiliki oleh Multatuli ini dapat melekat pada diri anak-anak pembaca Max Havelaar dan kepada kita. Serta mampu menjadi teladan kita. Teladan yang baik. Teladan yang berpihak kepada kebenaran. Teladan yang mampu menghadirkan sikap peduli dan mau berbuat.

Kegiatan Ciseel Day 4: 154 Tahun “Max Havelaar” akan dilaksanakan pada:
Hari                 : Sabtu-Minggu
Tanggal           : 7-8 Juni 2014
Waktu             : pkl.13.00-selesai
Tempat            : Taman Baca Multatuli, Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kec. Sobang, Kab.
Lebak, Banten

Berikut ini susunan acara Kegiatan Ciseel Day 4: 154 Tahun “Max Havelaar”.

Agenda Acara
Agenda Acara Ciseel Day 4: 154 Tahun “Max Havelaar” sebagai berikut:

Sabtu, 7 Mei 2014
Pkl. 13.00-14.00 Pendataan peserta Ciseel Day 4 (2014)
Pkl. 14.00-14.30 Pembukaan acara Ciseel Day 4 (2014)
Pkl. 14.30-16.00 Pementasan drama Saijah dan Adinda oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
Pkl. 16.00-16.30 Istirahat
Pkl. 16.30-17.30 Fun With English bersama Claudi B. Susanto
Pkl. 17.30-18.30 Istirahat dan makan malam di Taman Baca Multatuli
Pkl. 18.30-23.00 Kegiatan Malam I
-      Pembukaan oleh RT Uding
-      Sulap oleh Sigit Susanto
-      Berbagi pengalaman “Merebut Hak Kesehatan Warga” bersama Agung Nugroho dari Relawan Kesehatan Indonesia (REKAN)
-      Pembacaan Sajak Saijah untuk Adinda dalam 6 bahasa oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
-      Kesenian Ngagondang (nyanyian dan tarian rakyat) oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
-      Kesenian Gegendeh (memukul lesung) oleh ibu-ibu dan bapak-bapak warga Ciseel
-      Pembacaan Puisi oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
-      Tarian dan Nyanyian oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
-      Kesenian Qasidah dan Dangdut oleh warga Ciseel
Pkl. 23.00-05.00 Menikmati mimpi

Minggu, 8 Juni 2014
Pkl. 05.00 Bangun tidur
Pkl. 06.00-07.00 Yoga pagi di pinggir kali dipandu oleh Sigit Susanto
Pkl. 07.00-08.00 Makan pagi di Taman Baca Multatuli
Pkl. 08.00-08.30 Perjalanan menuju Rasamala untuk naik mobil truk bak terbuka
Pkl. 08.30-10.30 Perjalanan menuju Rangkasbitung
Pkl. 10.30-11.30 Makan siang di Pendopo Kab. Lebak dan mempersiapkan catatan
Pkl. 11.30-14.00 Jalan kaki menyusuri tempat yang terdapat dalam novel Max Havelaar (Alun-
alun Rangkasbitung, Pendopo, Kuburan Adipati Karta Nata Nagara, Bekas Rumah Multatuli, Jalan Multatuli, Sungai Ciujung, dan tempat lainnya dengan nama Multatuli. Seperti Apotek Multatuli dan Perpustakaan Saijah dan Adinda)
Pkl. 14.00-15.30 Istirahat di Pendopo Kab. Lebak
Pkl. 15.30-18.00 Pulang kembali ke Taman Baca Multatuli
Pkl. 18.00-19.00 Istirahat dan makan malam di Taman Baca Multatuli
Pkl. 19.00-21.30 Kegiatan Malam II
-      Bagaimana menulis Cerpen bersama Niduparas Erlang (Cerpenis, Pemred Tabloid Banten Muda)
-      Kesaksian Kawan tentang Multatuli oleh kawan-kawan Multatulian
-      Kisah Semut Pekerja oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
-      Kesenian Pencaksilat oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
-      Tarian dan Nyanyian oleh anak-anak Taman Baca Multatuli
Pkl. 21.30-21.45 Penutupan
Pkl. 21.45-05.00 Pemutaran documenter Taman Baca Multatuli dan film Max Havelaar.

BAGAIMANA TIBA DI TAMAN BACA MULTATULI
  Dari Jakarta:
Kereta api dari Satasiun Tanah Abang, Stasiun Kota, dan Stasiun Senen ke jurusan Rangkasbitung. Dari Stasiun Tanah Abang ada kereta api Rangkas Jaya pukul 08.00 pagi dan 05.00 sore. Kereta ini lumayan baik. Saya menyarankan kereta ini. Dari Stasiun Kota dan Senen banyak juga ke Rangkasbitung. Turun di stasiun kereta api Rangkasbitung. Naik angkot ke terminal Curug. Lalu melanjutkan naik mobil elf ke Pasar Ciminyak. Melanjutkan perjalanan dengan naik ojeg dari Pasar Ciminyak ke kampung Ciseel [Taman Baca Multatuli].
  Dari Bogor:
Ada bus Bogor-Rangkas (Rudi atau Asli Prima) turun di Pasar Cipanas/Gajrug. Lalu naik mobil ke Pasar Ciminyak dan melanjutkan dengan ojeg dari Pasar Ciminyak ke Ciseel.
  Membawa Kendaraan Sendiri:
Dari Jakarta masuk tol Jagorawi keluar BORR [Sentul Utara]. Lalu melaju ke arah Yasmin-IPB-Leuwiliang-Jasinga-Pasar Cipanas/Gajrug. Dari Pasar Cipanas ambil arah kiri ke Pasar Ciminyak. Mobil cukup sampai di sini. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan naik ojeg ke Ciseel.
Atau
Melalui tol Serang menuju Rangkasbitung. Dari Rangkasbitung menuju ke Pasar Ciminyak melalui Sajira. Mobil berhenti sampai di Pasar Ciminyak. Dari Pasar Ciminyak melanjutkan dengan naik ojeg ke Ciseel.

Keterangan:
Kereta api dari Jakarta ke Rangkasbitung Rp15.000 lalu naik angkot ke Terminal Curug Rp3.000. Disambung dengan mobil Elf ke Pasar Ciminyak Rp15.000-Rp25.000. Naik ojeg ke Ciseel dari Pasar Ciminyak Rp25.000-Rp35.000.

Kegiatan Ciseel Day 4: 154 Tahun “Max Havelaar” terselenggara oleh Taman Baca Multatuli bekerjasama dengan Milis APSAS (Apresiasi Sastra).

Lebak,  Mei 2014
PANITIA CISEEL DAY 4 (2014)
TAMAN BACA MULTATULI,


Ubaidilah Muchtar
08567 389 111