Friday, June 1, 2012

Cerita Rumah Multatuli, Kampung Ciseel

: membaca sambil bernalar tentang masa depan
(Pengantar Buku Rumah Multatuli: Kumpulan Catatan 2011 Menyusuri Jejak Multatuli)

Ben Abel

Ada apa di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten? Bagi pemirsa televisi, pada bulan Februari lalu stasiun DAAI TV menayangkan sebuah film dokumenter yang berjudul Rumah Multatuli. Yang kemudian dianugerahi hadiah Favorit Penonton pada Selatan ke Selatan (StoS) Film Festival, di Jakarta. Gambar film ini sebagian diambil dari acara napaktilas jejak Multatuli yang diadakan pada Mei 2011. Diikuti para peserta reading group yang merupakan murid-murid sekolah (SD, SMP & SMA) setempat, ditambah kawanan pendukung dari berbagai kota.

Rumah Multatuli merupakan nama wadah Max Havelaar Reading Group Ciseel. Didirikan pada 10 November 2009, dengan nama TAMAN BACA MULTATULI. Digagaskembangkan oleh guru Ubaidilah Muchtar (Kang Ubai atau Pak Ubai). Pada acara napaktilas Multatuli peserta mendapat kesempatan mencatat semua yang dilihat, dirasa, dipikirkan, dan dikenang dari kegiatan membaca bersama, yang dilakukan setiap Selasa dan Kamis, semenjak 23 Maret 2010. Maka sebagian hasilnya dapat kita simak seperti yang hadir dalam buku di tangan pembaca sekarang.

Mari kita kenal sedikit tentang Multatuli. Ia penulis Belanda yang hidup antara tahun 1820-1887. Mencipta novel Max Havelaar (1859). Menurut penulis Amerika, Louis Fisher dalam The Story of Indonesia (1950) kehadiran buku ini membuat negeri Belanda guncang. Ia membuat mereka merasa ketakutan dan malu sekaligus. D.H. Lawrence penulis pengantar edisi bahasa Inggris (1927) menyatakan novel ini merupakan karya yang paling mengganggu (a most irritating work). Ia samakan dengan buku Uncle Tom’s Cabin, penginspirasi gerakan anti-perbudakan dan kampanye kesetaraan antarras di Amerika Serikat, yang kemudian menimbulkan perang saudara (civil war, 1861–1865). Darmono S. Hubojo (penulis Majalah Indonesia, 1951) mencatat bahwa; Multatuli telah menggugat kelobatamakan para pemimpin palsu, yang hanya mencari kesenangan dan kenikmatan sendiri, meskipun semua itu dicapai dari cucuran keringat dan air mata rakyat yang tidak berdaya. Multatuli dengan caranya berusaha membawa mereka yang khilaf dan sesat itu ke jalan yang benar. Dan sastrawan kenamaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer membicarakan buku ini dalam tulisannya berjudul The Book That Killed Colonialism (Buku yang membunuh kolonialismeThe New York Times Magazine, 19 April 1999). Bahkan dalam mahakaryanya Bumi Manusia salah satu tokoh diberi nama Max Tolenaar yang merupakan anak rohani dari Max Havelaar.  

Setelah terbit, bagaimana negeri Belanda bisa guncang? Karena buku ini mampu membeberkan segala keburukan sistem kolonial di Hindia Belanda (Indonesia kita sekarang). Ini  membuat para pembaca Belanda merasa seperti hidup di atas kesengsaraan negeri lain. Akibatnya sangat memukul kesadaran untuk insaf, yang mendorong gerak pembebasan dengan ide reformasi administrasi dan sistem pemerintahan di Hindia Belanda. Ini dikenal sebagai politik etik yang tujuannya mengembangkan irigasi, mobilisasi penduduk antarpulau, dan pendidikan. Untuk emansipasi manusia.

Hingga awal abad ke-20 sejumlah kecil orang Indonesia yang kebanyakan anak para priayi, mulai pula merasakan dampaknya, serta tak ketinggalan ikut membaca dan mempelajarinya. Pada saat bersamaan kaum liberal Belanda semakin kuat, maka kebangkitan pun menuju puncaknya dalam revolusi tahun 1940-an. Yaitu revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Semangat kemerdekaan ini bukan sekadar di Indonesia tetapi juga ke seluruh negeri terjajah di Afrika.

Dalam pengantar edisi Indonesia terjemahan H.B. Jassin (1972) Mashuri, Menteri Pendidikan dan Kebudajaan R.I. masa itu, mencatat bahwa Multatuli mempunyai arti khusus bagi bangsa Indonesia. Karena bukunya merupakan bahan dokumentasi yang penting bagi studi ilmu-ilmu kemasyarakatan dan politik. Tetapi lebih lagi nilai yang tiada taranya adalah segi-segi kemanusiaan, kesatriaan, dan pendidikan watak yang ditampilkannya.

Buku hebat ini pun tak lepas dari kritik. Seperti Rob Nieuwenhuys (penulis Belanda) dengan buku Hikayat Lebak terjemahan Sitor Situmorang (1977) menilai bahwa Max Havelaar, benar-benar sebuah roman. Yang mengkhayalkan dan membumbui keadaan nyata menjadi sebuah cerita. Dia sama sekali tak menganggap kritik buku ini atas kekejaman pamong praja Lebak kala itu, sebagai sesuatu yang benar. Kritik Multatuli dinilai cumalah kritik etika, tanpa menuding hal yang lebih besar, yakni kolonialisme itu sendiri. Kritik begini memang banyak dan keras. Tapi bila nama Multatuli tidak surut-surut karenanya, perlu dipertanyakan: Mengapa kolonialisme dihapus, kalau feodalisme tetap saja memeras rakyat? Mungkin di masa itu, rakyat Lebak memang dengan rela saja menyerahkan kerbaunya, dan melakukan kerja paksa demi kanjeng Bupati. Tetapi sesuaikah itu semua dengan harkat manusia? Inilah Multatuli menyerukan suara mereka yang digilas kekuasaan, atas nama apa pun.

Tetapi banyak kritik sesungguhnya menyerang kepribadian si pengarang yang bernama Eduard Douwes Dekker. Bisa kita baca dalam buku Willem Frederick Hermans, Multatuli yang penuh teka-teki, terjemahkan H.B. Jassin (1988). Dalam pengantarnya sastrawan Subagio Sastrowardoyo memperingatkan: Multatuli memang penting bagi Indonesia, dan bagi pembaca Indonesia menariklah mengikuti riwayat hidupnya …… tetapi kita tidak boleh silap, bahwa di dalam periode yang amat panjang sesudah gagasan-gagasan Multatuli didengar dan berpengaruh itu, di dalam masa-masa penjajahan yang suram dan menekan itu, Multatuli dengan Max Havelaar-nya makin lama makin nampak sebagai tokoh yang makin susut sosok kepribadiannya di ufuk sejarah, yang berteriak sia-sia di tengah padang pasir yang tak memantulkan kembali kumandang suaranya.

Maksudnya greget semangat dari apa-apa yang disuarakan oleh Multatuli dalam buku Max Havelaar dalam meringkus ketidakadilan, melawan pembodohan dan pemiskinan ini, janganlah dibiarkan pupus. Tetapi nyalakanlah, jadi lentera abadi. Salah satu cara mengenal, melanjutkan semangat pikiran tersebut ke dalam pengidupan kebermasyarakatan kita, adalah dengan membaca bukunya. Terutama kalangan pemuda-pelajar kita. Satu peringatan yang sungguh bijak, karena ia memberi tanda agung akan betapa kejujuran di dalam karya ini, dari sekian masa setelah terbit, sekalipun terus-menerus dihujani banyak kritik keras, toh tetap relevan dibaca dan terus menggugah. Di sinilah  kekuatan jenius kesusasteraan Eduard Douwes Dekker. Seperti satu ungkapan yang sering nian dikutip darinya, yaitu:

sebab kita bersuka-cita bukan karena memotong padi, kita bersuka-cita karena memotong padi yang kita tanam.

Emansipasi memang jiwa yang  mengubah diri sendiri menjadi sesuatu yang berkembang, bergerak dan berdayaguna memajukan penalaran. Di sinilah kesetaraan, kejujuran Max Havelaar Reading Group di Ciseel. Mereka bukan saja membaca dan membicarakan Max Havelaar, tetapi dengan semangat yang sama bernalar akan lingkungan suasana hidup keseharian sendiri yang masih terpencil, sekalipun sesungguhnya tidaklah begitu jauh dari metropolitan Jakarta.

Dari Kampung Ciseel, inilah ceritanya Rumah Multatuli.

Ithaca, New York, Maret 2012

Ben Abel
Pekerja Perpustakaan
Koleksi Pusat Studi Asia Tenggara
Cornell University

Tuesday, May 22, 2012

Merayakan 152 Tahun Max Havelaar

 
“Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.”
 
Demikian kalimat terkenal dan sering dikutip yang diambil dari novel masyhur, Max Havelaar. novel Max Havelaar dikarang oleh penulis Belanda, Eduard Douwes Dekker, kemudian dikenal Multatuli. Novel Max Havelaar yang mengambil cerita pengalaman Multatuli di Lebak ini telah dibaca selama 2 tahun dalam kelompok Max Havelaar Reading Group. Kelompok baca Max Havelaar ini dilaksanakan di Taman Baca Multatuli setiap Selasa sore. Taman Baca Multauli berlokasi di Kampung Ciseel, Kecamatan Sobang, Kab. Lebak, Banten.
 
Sebagai bentuk apresiasi atas umur novel tersebut yang pada tanggal 14 Mei ini tepat: 152 Tahun. Taman Baca Multatuli menggelar kegiatan bertajuk Sastra Multatuli 2012: 152 Tahun Max Havelaar, Multatuli bagi Indonesia. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari. Jumat-Sabtu, 11-12 Mei 2012. Berikut laporan kegiatan acara Sastra Multatuli 2012.
 
Jumat, 11 Mei 2012
Drama Saijah dan Adinda
 
Jumat, 11 Mei 2012 pukul 14.00 WIB. Kegiatan Sastra Multatuli 2012 dengan tajuk 152 Tahun Max Havelaar: Multatuli bagi Indonesia dimulai dengan pementasan drama Saijah dan Adinda. Drama dilaksanakan di halaman Madrasah Ibtidaiyah Al Hidayah Ciseel. Drama Saijah dan Adinda dipentaskan oleh anak-anak Taman Baca Multatuli. Drama Saijah dan Adinda ini juga menggunakan kerbau sungguhan sebagai pemain.
 
Drama romantis-tragis ini berkisah tentang sepasang pemuda dan gadis desa Saijah dan Adinda. Ayah Saijah dikisahkan kehilangan kerbaunya setelah dicuri oleh pemimpin Distrik Parangkujang. Demang Wiranatakusumah yang tak lain adalah menantu Adipati Lebak, Karta Nata Nagara. Saijah lantas pergi ke Batavia untuk mencari pekerjaan. Saijah pergi setelah ayah dan ibunya meninggal karena kemiskinan. Saijah meninggalkan kekasihnya Adinda. Saijah berjanji akan kembali setelah pergi selama tiga kali dua belas bulan lamanya. Adinda yang ditinggalkan diminta untuk membuat hitungan bulan dengan tanda di kepala lesung.
 
Kisah Saijah dan Adinda terdapat dalam Bab 17 Novel Max Havelaar.
 
Drama ini disaksikan oleh warga masyarakat Ciseel, Camat Sobang, O. Najamudin dan tamu undangan yang datang dari beberapa kota. Di antaranya: Sigit Susanto (pegiat sastra, moderator milis apresiasi sastra, dan penulis buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia) yang bermukim di Swiss. Rama Prabu dari Dewantara Institut Bandung. Heri Chandra Sentosa dari Pondok Baca Ajar, Kendal. Daurie Bintang Reborn dari Bogor. Penulis Niduparas Erlang dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang. Ali Sobri, pegiat kesenian dari Serang. Adi Prasetyo dari Kubah Budaya Serang. Boy Angky, guru SMPN 1 Muncang, Lebak. Tommas Titus Kurniawan, potografer dari Semarang. Dian Hardiana dan Fifi dari Pandeglang. M. Nofal Kurniawan dari Jakarta. Ariv Yudi dari Laskar Cinta Pustaka, Semarang.
 
Usai drama, para pemain berfoto bersama dengan camat Sobang dan peserta tamu. Acara dilanjutkan dengan sulapan dari Daurie Bintang Reborn. Acara sulapan ini masih di lapangan MI Al Hidayah Ciseel. Sulapan yang ditampilkan merupakan sulapan ilmiah.
 
Sore hari selepas makan. Peserta diajak untuk melihat tanah yang akan dibangun Taman Baca Multatuli. Selama ini, Taman Baca Multatuli menempati rumah milik ketua RT 02 Ciseel. Rumah dengan ukuran 5x3 meter yang dikontrak tiap bulan dan dijadikan sebagai taman baca.
 
Kesenian Lesung dan Pencak Silat
 
Malam harinya, kegiatan Sastra Multatuli berpindah ke sebuah panggung yang terletak di samping Taman Baca Multatuli. Kegiatan malam hari dibuka dengan petasan dan kembang api. Sebelumnya, sesepuh Ciseel, Bapak Barnas membuka acara. Dilanjutkan dengan ucapan selamat datang oleh pengelola Taman Baca Multatuli, Ubaidilah Muchtar. Kegiatan selanjutnya diisi dengan sulapan oleh Sigit Susanto. Selesai sulapan, pembacaan puisi Saijah untuk Adinda yang dibacakan dalam 6 bahasa mengisi panggung. Keenam bahasa yang dimaksud, yaitu Belanda, Jerman, Italia, Inggris, Indonesia, dan Sunda. Pembacaan puisi ini dilakukan oleh Siti Nurajizah (16 tahun), Mariah (15 tahun), Rukanah (14 tahun), Rohanah (16 tahun), Nurdiyanta (17 tahun), dan Siti Nurhalimah (16 tahun). Masih pembacaan puisi oleh Irman (13 tahun). Irman membacakan puisi berjudul “Lihatlah Bajing” karya Multatuli. Puisi yang dibawakan sangat apik oleh Irman.
 
Ada juga pembacaan catatan perjalanan menyusuri jejak Multatuli di Lebak, Banten. Catatan kegiatan ini diambil dari buku Rumah Multatuli: Kumpulan Catatan 2011 Menyusuri Jejak Multatuli. Semakin malam kegiatan makin meriah dengan kesenian memukul lesung yang disebut gegendeh. Kesenian memukul lesung ini ditampilkan oleh ibu-ibu warga Ciseel. Setelah gegendeh, waktunya pencak silat. Pencak silat ditampilkan oleh anak-anak Ciseel yang tergabung dalam rombongan Kendang Penca Paku Lumejang. Selesai pencak silat, tetangga Kampung Ciseel, Cangkeuteuk. Menampilkan atraksi debus. Acara malam pertama ditutup dengan suguhan dangdut hampir tengah malam.      
 
Sabtu, 12 Mei 2012
Bertandang Ke Baduy Dalam
 
Pagi sekali anak-anak Taman Baca Multatuli dan peserta tamu acara Sastra Multatuli bergegas meninggalkan kampung Ciseel. Tujuannya yaitu Lapangan Rasamala di Kampung Cikadu. Mereka menuju ke tempat pemberhentian truk yang akan membawa mereka ke kampung Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak. Jalan kaki dari Ciseel menuju Rasamala ditempuh satu jam. Keringat bercucuran. Jalan terjal dan menanjak tak menjadi halangan. Matahari panas membakar. Tiba di lapangan Rasamala, para peserta langsung mengisi dua buah truk yang telah menunggu. Perjalanan pun dimulai.
 
Jalur perjalanan yang akan kami lalui yaitu Kampung Cijahe di Kecamatan Cirinten. Cijahe merupakan pintu masuk ke perkampungan Baduy Dalam selain Ciboleger dan Cilebang. Truk melaju membelah jalanan beraspal yang terkadang mulus dan berlubang. Beberapa pemuda Ciseel menguntit truk dengan sepeda motor. Kami melalui Ciminyak, Pasir Nangka, Cisimeut, Leuwi Damar, Ciboleger, dan Cirinten. Perjalan dengan truk berlangsung selama dua jam. Beberapa anak mabuk kendaraan.
 
Tiba di Cijahe. Truk diparkir di depan rumah Jaro Asep, Jaro Cijahe. Terpal warna biru digelar. Makanan bekal pun dibuka. Anak-anak membuka perbekalan yang dibawa. Nasi dan lauknya. Peserta tamu membuka nasi timbel 5 buah sebesar buah kelapa. Goreng jengkol, ikan asin, telur balado, sambal, dan tempe jadi menunya. Peserta semuanya makan.
 
Usai makan, Sigit Susanto dan Rama Prabu memberikan tips seputar penulisan catatan. Ya, anak-anak yang mengikuti kegiatan ini akan membuat catatan perjalanan. Selesai pengarahan para peserta menyiapkan bekal air minum. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Kami berjalan dalam rombongan besar sejumlah 60 orang memasuki tanah Baduy Dalam. Perjalanan kami kali ini ke Cibeo dan Cikartawana. Sedangkan Kampung Cikeusik telah kami kunjungi setahun yang lalu. Jembatan kayu menjadi batas. Tanah merah dengan semak dan pepohonan yang tidak terlalu tinggi menyambut kami. Matahari terik memanggang para peserta.
 
Kampung Baduy Dalam tujuan pertama kami, yaitu Cibeo. Perjalanan panjang antara Cijahe dan Cibeo dilalui dengan senang. Anak-anak berjalan cepat. Di sungai Ciparahiang kami istirahat. Mencuci muka dan kaki. Batu-batu besar menjadi tempat kami duduk. Air sungai Ciparahiang dingin dan jernih. Perjalanan dilanjutkan. Kami tiba di Cibeo. Jembatan bambu menjadi pintu masuk. Pohon-pohon besar dan rumpun bambu memagari Cibeo. Cibeo, perkampungan warga Baduy Dalam. Rumah berjajar dalam bentuk dan bahan yang sama. Kebersamaan yang luar biasa. Anak-anak bermain dalam balutan pakaian yang sama. Di pinggang mereka terselip golok. Di kepala, ikat kepala menambah wibawa. Ayam betah di kolong rumah. Perkampungan Cibeo bersih dan rapi. Batu kali menghiasi gang di antara rumah. Sebuah lapangan dengan rumput hijau di ujung deratan rumah. Asri. Tempat menumbuk padi di tepi sungai.
 
Beberapa orang ronda sedang bertugas. Pak Acang sebagai pemandu memperkenalkan kami. Warga Cibeo ramah dan pandai berbahasa Indonesia. Rumah di Cibeo ada 89 unit jumlahnya dengan 130 kepala keluarga. Beberapa peserta mencatat. Sedangkan yang lain bertanya kepada warga yang sedang duduk di bale-bale. Asap mengepul di tungku api di depan salah satu rumah. Sedangkan di rumah yang lain, beberapa wanita dan laki-laki sedang menganyam kiray. Kiray dianyam untuk dijadikan atap rumah mereka. Ada yang membersihkan bambu untuk dijadikan tali. Ada yang merapikan daun kiray. Ada pula yang bertugas menjemur dan merapikan kiray yang sudah siap dipakai.  
 
Selanjutnya peserta berpencar. Ada yang terus melanjutkan obrolan dengan warga. Sebgaian menawar barang yang jadi oleh-oleh seperti ikat kepala, gantungan kunci, gelang, tas dari kulit kayu, kain tenun, dan alat penghisap rokok. Sebagian lagi menikmati sungai di belakang pemukiman warga Cibeo. Mandi di sungai dengan airnya yang dingin dan jernih. Di bawah jembatan bambu.  Bebatuan besar dan pohon rindang menjadi pemandangan tambahan. Ada pula yang menyaksikan ibu-ibu dan gadis Cibeo yang sedang menumbuk padi di lesung.
 
Pukul 15.00 kami meninggalkan Cibeo. Warga Cibeo baik hati memberi kami buah kokosan. Kami menyusuri jalan yang kami lalui sebelumnya. Tepat setelah menyeberangi sungai Ciparahiang kami berbelok. Tujuan kedua, Kampung Cikartawana. Di Cikartawana kami tak lama. 15 menit saja. Hampir seluruh warga Cikartawana sedang di ladang. Cikartawana nyaris ditinggalkan semua warga. Hanya menyisakan Ayah Sali yang sedang bertugas sebagai ronda di kampung. Setelah bertanya dan para peserta mencatat. Akhirnya kami memulai perjalanan pulang. Perjalanan menuju Kampung Cijahe.
 
Truk membawa kami kembali ke Lapangan Rasamala. Matahari sudah tenggalam. Gelap menyergap kami di jalan menurun menuju Cikadu. Di jembatan gantung Cikadu sebagian peserta dijemput dengan sepeda motor. Panggung malam kedua menanti.
 
Puisi “Ibu” Layar Tancap
 
Pembacaan puisi “Ibu” karya Multatuli yang ditulis saat bertugas di Padang membuka malam kedua acara Sastra Multatuli. Puisi ini dibacakan dengan menawan oleh Cecep Nurkholis (13 tahun). Selanjutnya pembacaan puisi oleh Adi Prasetyo dari Kubah Budaya Serang dan pembacaan cacatan perjalanan tahun 2011 oleh Sigit Susanto dan Niduparas Erlang.  Ibu-ibu dan bapak-bapak warga Ciseel kemudian tampil ngagondang. Ngagondang adalah kesenian rakyat berupa tarian dan nyanyian yang dibawakan secara bersama-sama. Selanjutnya hiburan qasidah oleh Group Qasidah Ciseel.
 
Sebelum pemutaran film, Pak Kosim menutup acara dengan memukul kentongan. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film di antaranya: Semangat Menembus Batas (Dokumenter MetroTV), Garuda Di Dadaku, Rhoma Irama, dan Wiro Sableng hingga pukul lima pagi.  
 
Sampai jumpa di 153 Tahun Max Havelaar tahun depan.

Tuesday, May 8, 2012

Antara Code dan Ciseel

(Penutup Buku "Rumah Multatuli: Kumpulan Catatan 2011 Menyusuri Jejak Multatuli")

F. Rahardi

             Awal tahun 1980an, Pemerintah Kota Yogyakarta, berencana menggusur pemukiman kumuh di sepanjang tepi Kali Code, Gondolayu. Idealnya bantaran kali memang harus bersih dari bangunan, terlebih Kali Code juga merupakan saluran material lahar dingin dari Puncak Merapi. Waktu itu tak ada suara-suara yang membela masyarakat Kali Code. Maka Romo (Yusuf Bilyarta Mangunwijaya 1929-1999), terjun membela masyarakat yang akan tergusur itu. Antara tahun 1983-1987, Romo Mangun, tinggal di tepi Kali Code. Pelan-pelan pemukiman ditata. Sebagai arsitek lulusan Jerman, Romo Mangun menunjukkan kepiawaiannya.
            Kawasan kumuh itu segera berubah menjadi pemukiman rapi. Para mahasiswa UGM, Sanata Dharma, dan dari beberapa perguruan tinggi di Yogya ikut terjun sebagai relawan, membantu masyarakat Kali Code. Pemerintah Kota Yogya menyerah. Penggusuran dibatalkan. Romo Mangun telah menunjukkan cara pembelaan terhadap kaum lemah dengan cara yang tepat, yakni secara konkrit masuk ke satu komunitas masyarakat, yang paling mendesak untuk dibantu. Tahun 2000an ini, saya melihat hal yang kurang lebih mirip, dengan pola pembelaan yang dilakukan oleh Romo Mangun; namun dengan cara dan skala yang berbeda, di lokasi yang berbeda pula.

Kelompok Baca Max Havelaar
            Ubaidilah Muchtar (Ubai) adalah lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2004. Dulunya UPI bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung. Setelah sebentar menjadi relawan sebuah LSM, ia kemudian menjadi guru Bahasa Indonesia di SMPN Satu Atap 3 Sobang, Kabupaten Lebak-Banten. Dia tinggal di Kampung Ciseel, masih di Desa Sobang, sekitar delapan kilometer, dari sekolah tempatnya mengajar. Kawasan ini berjarak sekitar 50 kilometer, dari Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak. Di kampung Ciseel belum ada listrik, sinyal telepon seluler juga tak sampai ke sana. Satu-satunya sarana transportasi hanyalah ojek sepeda motor.
            Di rumah yang disewanya untuk tempat tinggal, Ubai menaruh buku-buku, yang diperlukannya untuk mengajar, juga buku-buku lain, termasuk buku sastra. Karena sama sekali tak ada hiburan, anak-anak berdatangan untuk "numpang membaca". Karena listrik tak ada berarti radio, dan televisi juga tak ada. Karena sinyal seluler tak ada berarti BB, Ipad, Iphod, juga tak mungkin. Maka, membaca menjadi satu-satunya alternatif hiburan bagi anak-anak. Ubai pun berupaya menambah buku-buku bacaan, dan membawanya ke Ciseel. Sampai kemudian ia membuat rumah tempat tinggalnya menjadi Taman Baca Multatuli. Ia pun membentuk Kelompok Baca (Reading Group) novel Max Havelaar.
            Selama satu dekade belakangan ini, di Indonesia, khususnya di Jawa memang bertumbuhan "taman baca" dan "kelompok baca" semacam ini. Salah satunya Pondok Maos Guyub, Bebengan, Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Pondok Maos Guyub, didirikan oleh Sigit Susanto, penulis Buku Perjalanan (Travel Story), kelahiran Boja, yang sekarang bermukim di Zug, Swiss. Sigit Susanto juga pendiri Komunitas Apresiasi Sastra (APSAS), di dunia maya.  Admin APSAS ada di tiga negara: Swiss, Hongkong, dan Indonesia. "Kantong-kantong" APSAS terdiri dari taman baca, dan kelompok baca, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia termasuk Taman Baca Multatulinya Ubai.

Sastra Multatuli 2011
            Sigit Susanto, termasuk penulis dan pegiat sastra yang low profile. Beda dengan beberapa penulis dan pegiat yang berpenampilan garang, baik dalam tulisan, maupun secara lisan. Kelompok-kelompok "garang" ini biasanya memasang tokoh sastrawan, atau kelompok lain, untuk jadi sasaran tembak. Sigit Susanto dengan APSASnya, membuat aktivitas tanpa sikap "garang" seperti itu. Pribadi Sigit memang agak unik. Ia punya tradisi mudik tiap tahun bersama istrinya, dan sekaligus membuat aktivitas sastra, bekerjasama dengan komunitas-komunitas setempat. Tahun 2011, ia juga mudik, dan salah satu aktivitas yang ia selenggarakan adalah Sastra Multatuli 2011.
            Acara ini berlangsung tanggal 13 - 15 Mei 2011, dan berpusat di Kampung Ciseel, dengan penyelenggara Taman Baca Multatuli, dan Kelompok Baca Max Havelaar. Meskipun ini acara "kecil-kecilan", bolehlah saya menyamakannya dengan yang pernah dilakukan oleh Romo Mangun tahun 1980an dulu. Bedanya, Romo Mangun berlatar belakang pendidikan arsitek. Maka ia mendekati pemukiman kumuh di Kali Code, dengan bermodalkan ilmu arsitekturnya. Ubai dan Sigit masuk ke kantong "udik" ini dengan aktivitas apresiasi sastra, praktek menulis, dan tanpa semangat untuk membantai pihak mana pun. Meskipun saya Katolik, dan Romo Mangun Imam Katolik, saya kritis terhadap beliau.
            Romo Mangun memang telah berpihak terhadap yang lemah di Kali Code, dan kemudian juga di Kedung Ombo. Waktu itu jarang ada yang berani kritis terhadap Pemerintahan Orde Baru. Namun demikian, yang mendapatkan publisitas dari aktivitas tersebut, justru Romo Mangun. Dan sekarang, tahun 2012 ini, saya sedih tiap kali lewat Kali Code. Apa yang telah dilakukan oleh Romo Mangun, tak ada yang melanjutkan. Sigit Susanto, dan Ubai, juga pasti masih banyak nama-nama lain, telah berbuat sesuatu yang lebih strategis; dibanding yang telah dilakukan oleh Romo Mangun. Diam-diam mereka memperkenalkan semangat untuk membaca, dan menulis di kalangan anak-anak, tanpa niat mendapat publisitas. 

F. Rahardi 
(Ambarawa, 1950) tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya, 1967. Mengasuh majalah pertanian Trubus (1977-1997). Bukunya yang telah terbit, kumpulan puisi Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Tuyul (1990), Silsilah Garong (1990), Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997); kumpulan cerpen Kentrung Itelile (1993); prosa lirik Migrasi Para Kampret (1993). Negeri Badak (Prosa Lirik, Visi Media 2007) meraih penghargaan SEA Write Award 2009. Lembata (Novel, Lamalera 2008) memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2009.

Monday, April 30, 2012

Lihatlah Bajing

Karya Multatuli

“Lihatlah bagaimana bajing mencari makanan untuk dirinya di pohon kelapa.
Dia memanjat, turun, dengan cepat bergerak ke kiri dan kanan,
Dia mengelilingi pohon, melompat, jatuh, berdiri dan jatuh lagi:
Dia tidak punya sayap, namun melayang seperti seekor burung.
Kebahagiaan untukmu, bajingku, semoga kebahagiaan jatuh kepadamu!
Kau pasti menemukan makanan yang kau cari…
Namun aku duduk sendiri di hutan jati,
Menanti makanan hatiku 
Sudah lama perut bajingku terisi…
Sudah lama dia kembali dengan tenang ke sarangnya…
Tapi selama itu jiwaku,
dan hatiku dengan pahit bersedih… Adinda!”

“Lihatlah bagaimana kupu-kupu terbang mondar-mandir.
Sayap mungilnya berkilau seperti burung yang terlalu banyak di cat.
Hati kecilnya menyukai bunga-bunga kenari:
Jelas dia mencari wewangian yang paling dia sukai!
Kebahagiaan untukmu, kupu-kupuku, semoga kebahagiaan jatuh kepadamu!
Kau pasti menemukan apa yang kau cari…
Tapi aku masih duduk sendiri di hutan jati,
Menanti kesukaan hatiku
Lama sudah berlalu sejak kupu-kupu itu mencium
bunga kenari yang begitu dia puja…
Tapi selama itu jiwaku,
dan hatiku dengan pahit bersedih… Adinda!”

“Lihatlah bagaimana matahari berkilau nun jauh di sana:
Tinggi, tinggi di atas bukit pohon-pohon waringin!
Dia merasa begitu hangat, dia akan tenggelam,
Untuk tidur di dalam laut, seperti lengan seorang pasangan.
Kebahagiaan untukmu, Oh matahariku, semoga kebahagiaan jatuh kepadamu!
Apa yang kau cari pasti akan kau temukan…
Tapi aku duduk sendiri di hutan jati,
Menanti peristirahatan hatiku
Akan lama matahari tenggelam, dan tidur di dalam laut,
ketika segalanya menjadi gelap…
Dan selama itu jiwaku,
dan hatiku akan dengan pahit bersedih… Adinda!”

“Ketika kupu-kupu tidak lagi terbang mondar-mandir,
ketika bintang-bintang tidak lagi berkedip,
ketika melati tidak lagi mewangi,
ketika tidak ada lagi hati yang sedih,
maupun hewan liar di hutan…
ketika matahari akan menghilang dari jalannya,
dan rembulan lupa di mana letak timur dan barat…
jika kemudian adinda masih tidak datang,
maka malaikat dengan sayap menyilaukan akan
turun ke bumi, mencari apa yang ada di baliknya.
Maka tubuhku akan terbaring di sini, di bawah ketapang…
Jiwaku dengan pahit bersedih… Adinda!”

“Kemudian tubuhku akan dilihat oleh malaikat itu.
Dia akan menunjukkan ke saudaranya, dan berkata:
“Lihat di sana ada pria yang baru saja meninggal dan terlupakan!
Mulutnya yang dingin, kaku mencium bunga melati.
Ayo, mari kita angkat dan bawa dia ke surga,
dia, yang menanti Adinda hingga mati.
Jelas dia tidak bisa ditinggalkan di sini,
yang hatinya begitu berani untuk mencintai sedalam itu!”

Maka sekali lagi mulutku yang kaku, dingin terbuka
memanggil Adinda, cinta hatiku…
Sekali lagi, sekali lagi aku akan mencium melati
yang dia berikan padaku… Adinda…Adinda!”