Saturday, March 29, 2014

Buku Merah



oleh: Ubaidilah Muchtar

Ini tentang empat tahun membaca “Max Havelaar”.

Sore hari. Matahari hampir hilang. Pengeras suara dari atas rumah menyemburkan lagu-lagu. Ramai orang lalu lalang. Mengantar beras dan kue-kue. Ibu-ibu sibuk di dapur. Pemuda di depan bangunan dengan terpal biru sibuk mengisikan beras ke dalam karung. Memberikan tanda pada tiap baskom. Pemuda yang lain mencatatnya di buku.

Ada keramaian di Ciseel sore itu. Selasa, 23 Maret 2010.

Di tempat lain. Di rumah Kang Sarif, Ketua RT yang rumahnya dijadikan Taman Baca Multatuli beberapa anak telah berkumpul. Ada 17 anak yang tercatat dalam buku. Mereka menuliskan nama dan kesan pertamanya. Juga membubuhkan tanda tangan di kolom yang tersedia. Inilah pertemuan pertama kelompok baca novel Max Havelaar.

Ketujuh belas peserta yang hadir di sore Selasa itu merupakan murid SMPN Satu Atap 3 Sobang. Mereka anak-anak yang tinggal di Kampung Ciseel. Kampung Ciseel merupakan bagian dari Desa Sobang. Letaknya di kaki Gunung Halimun Salak yang kini menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Tepatnya di wilayah Kabupaten Lebak, Banten.

Peserta pertemuan pertama kelompok baca Max Havelaar yaitu Rohanah, Anisah, Siti Nurhalimah, Pendi, Pepen, Coni, Sumi, Pipih Suyati, Siti Alfiah, Nurdiyanta, Mano Hidayat, Aliyudin, Sujatna, Sanadi, Fahruroji, Dedi Kala, dan Maman Suparman.

Sejak sore Selasa itu pertemuan demi pertemuan dilakukan. Hingga pada tanggal 21 Februari 2011 pembacaan novel Max Havelaar untuk pertama kalinya tamat. Tamat setelah 37 pertemuan. Pembacaan Max Havelaar pertama kali berlangsung selama 11 bulan.

Pembacaan Max Havelaar untuk kedua kalinya pun dilakukan. Selasa tanggal 31 Mei 2011 mengawali. Tercatat ada 21 peserta yang ikut dipetemuan pertama pembacaan kedua ini. Mereka itu adalah Nuraenun, Sujana, Radi, Irman, Oom, Unang, Rukanah, Sadah, Suarsih, Suha, Elah Hayati, Sangsang, Asep, Ano Sumarna, Yani, Sanadi, Sujatna, Mariah, Rohanah, Nurdiyanta, dan Aliyudin.

Novel Max Havelaar setebal 396 halaman ini ditamatkan untuk kedua kalinya pada pertemuan ke-78. Pertemuan terakhir ini berlangsung pada tanggal 21 Agustus 2013. Selama 2 tahun 3 bulan Max Havelaar dibaca untuk kedua kalinya.

Saat catatan ini ditulis pembacaan Max Havelaar untuk ketiga kalinya sudah memasuki pertemuan ke-19. Sejak pertama dimulai, ini pertemuan ke-134 kali. Pembacaan ketiga novel Max Havelaar dimulai pada 11 September 2013. Pertemuan pertama pembacaan ketiga dilaksanakan di tepian Sungai Ciminyak dengan peserta lebih dari 50 orang. Sementara yang mencatatkan namanya di pertemuan perdana ada 35 orang. Mereka yang ikut membaca Max Havelaar kini tidak hanya anak-anak dari Kampung Ciseel. Mereka juga datang dari Kampung Babakan Aceh, Cigaclung, Cireundeu, Ciparahu, dan Cikadu. Mereka mencatatkan namanya di buku merah.

Buku Merah

Orang kiri dari Kendal yang lama tinggal di Swiss menulis dalam bukunya Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Jilid 2 tentang buku kecil itu. Ia menulis tentang buku saku berwarna merah. Buku tersebut dilihatnya saat berkunjung ke China selama dua minggu. Terhitung sejak tanggal 21 September sampai 5 Oktober 2006.

Buku saku berwarna merah tersebut semacam buku panduan dari Mao untuk rakyat China. Buku tersebut berjudul: Quotations From Chairman Mao Tse-Tung. Buku tersebut ditulis dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Setidaknya terdapat 31 foto Mao menghiasi bagian dalam buku mini tebal berwarna merah tersebut. Tebal buku kecil merah itu 590 halaman dan memuat 33 Bab, yang berisi nilai-nilai kepemimpinan politik Mao.

“Ketika kedua patung sudah kubungkus, aku masih penasaran dan melirik sebuah buku saku berwarna merah. Pertanyaan segera memenuhi benakku, kitab apakah yang berwarna merah itu, sehingga sampai di pelosok desa bisa ditemukan? Ketika buku yang kuanggap kitab semacam kitab suci itu kuraih, segera kuketahui ternyata buku itu semacam buku panduan dari Mao untuk rakyat China. Aku membeli sebuah dan lebih jauh kuperiksa isinya tertulis: Quotations From Chairman Mao Tse-Tung. Buku mini tebal berwarna merah itu dilengkapi sebuah foto Mao di sampul plastik depan. Buku itu ditulis dalam dua bahasa, mandarin dan Inggris. Halaman awal bersebelahan dengan foto Mao yang besar tertulis: Workers off all countries, unite! Foto-foto  Mao dalam berbagai pose dan kegiatan, ikut menyertai di dalam buku tersebut. Belakangan hingga perjalanan kami sampai di Beijing, ternyata memang buku merah tentang Maoisme itu cukup popular dan bisa ditemukan di banyak tempat. Aku mengukir Tanya, begitukah cara Mao menyebarkan ajarannya?” (Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Jilid 2, hlm. 310) 

Buku merah tentang Maoisme ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Oncor tahun 2010. Buku dengan sampul putih tersebut berjudul: The Little Red Book: Leadership Secrets of Mao Tse-Tung.

Buku kecil Kutipan Ketua Mao tersebut dibuat pada tahun 1964 melalui penggabungan pidato dan tulisan Mao. Dibuat oleh Departemen Politik Umum dari Tentara Pembebasan Rakyat China berdasarkan perintah Lin Biao. Buku yang berisikan 426 paragraf tersebut disusun berdasarkan topik mulai dari perjuangan partai dan kelas, peperangan dan tentara, hingga metode berpikir, pengembangan ideologi secara pribadi, kritik dan otokritik, dan tentang pemuda serta perempuan.

Buku Merah Kecil ini telah disebarluaskan ke seluruh China lebih dari 5 miliar eksemplar. Hal tersebut berlangsung sejak permulaan Revolusi Budaya pada tahun 1966. Buku Merah Kecil ini termasuk salah satu dari 50 lebih buku yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia yang disusun Andrew Taylor. Buku yang dimaksud yaitu: Buku-Buku yang mengubah Dunia (2011). Buku terbitan Erlangga tersebut menempatkan Buku Merah Kecil atau Kitab Merah Kecil ini di posisi ke-48.

Pembaca, maaf saya, saya tidak bermaksud menghentikan keasyikan pembaca. Namun yang saya maksud buku merah yaitu buku kesan dan pesan peserta reading group Max Havelaar. Ya, buku merah yang itu!

Mari, kita mulai!

Buku merah itu kini tiga jumlahnya. Memuat sekian banyak kesan dan pesan dari peserta pembaca Max Havelaar secara berjamaah di Taman Baca Multatuli. Sejak awal dimulai hingga catatan ini dituliskan. Namun saya akan membatasi pada kesan dan pesan peserta dari kawan-kawan yang datang bukan dari Ciseel. Kesan dan pesan para peserta dari luar. Ya, ini juga yang sempat saya janjikan di catatan sebelumnya. Catatan tentang empat tahun Taman Baca Multatuli. Melalui catatan ini saya berusaha melunasi janji.

Baca Pertama

Saya akan memulainya dari pembacaan Max Havelaar pertama kali. Tanggal 7 Mei 2010 merupakan pertemuan ke-7 pembacaan Max Havelaar untuk pertama kali. Sore itu hari Jumat. Ya, Jumat sore kami kedatangan tamu. Mas Sigit Susanto tamu tersebut. Ia penulis buku perjalanan. Sayangnya ia tak sempat menuliskan kesan dan pesan di buku merah. Namun namanya tertera di sana.

Di pembacaan pertama ini juga ada dua orang peserta dari luar Ciseel yang ikut serta membaca Max Havelaar. Siapa dia. Mereka yaitu Suryo Wibowo dan Pram. Mereka datang di pertemuan ke-12 tanggal 8 Juni 2010. Hari Selasa. Ini kesan mereka, “Teman-teman teruskan membaca Max Havelaar! Teruskan semangat kalian!” dan “Kalian semua: HEBAT!!! Banyak baca & menulis, ya…” Suryo merupakan juru foto dan Pram pewarta. Mereka dari Tempo majalah.

Baca Kedua

Pembacaan Max Havelaar kali kedua dimulai tanggal 31 Mei 2011. Pada pertemuan kedua, Selasa, 7 Juni 2011 tiga orang tamu ikut serta. Satu dari Jakarta dan pasangan suami istri dari Italia. Mas Wid Widodo  dari DAAI TV yang pertama. Carlo Laurenti serta Maria Eleonora Catureali orang kedua dan ketiga.

Mas Wid Widodo sayangnya tak sempat mengisi buku merah. Sore itu selepas ikut membaca Max Havelaar ia kembali ke Jakarta. Sementara Carlo dan Maria tinggal empat hari di Ciseel. Berikut kesan Carlo di buku merah, ia mencatat.

“A most unespected boomerang of my homage to Multatuli in Italian Cultural Institute last week. Now I understand in a new light the mind of Multatuli! It is home the most hidden place that one can look at Europe with different eyes.”

Carlo Laurenti merupakan penerjemah puisi-puisi Lu Xun (188?/1936). Hampir 15 tahun lamanya ia menggeluti puisi-puisi Lu Xun. Selain menerjemahkan puisi Lu Xun. Carlo juga membuat beberapa film dokumenter tentang China dan sastrawan dunia.

Sementara itu Maria Eleonora menuliskan kesannya di buku merah seperti berikut:

“I have come in a far away village, green hills and mountains and paddy fields. I have been roudied by an unfrebeing recital on “MAX HAVELAAR” by Multatuli. Children, boys and girls listening and participating in a still a now always actual story.”

Di bulan Juli pada pertemuan keempat, Selasa, 12 Juli 2011 ada tiga kawan dari DAAI TV yang ikut membaca Max Havelaar. Vince Rumintang, Bannu Maulana, dan Prayitno. Mereka membuat liputan untuk program Meniti Harapan: Menyerap Semangat Multatuli. Berikut kesan ketiganya.

“Pertama kali menginjakan kaki di Multatuli cuma kaget, ternyata jaraknya jauh dan susah ditempuh. Hanya untuk melihat taman baca di pemukiman warga. Eh… pas liat anak-anak semangat baca, dan tahu tentang Multatuli seneng banget. Malah malu, karena saya tidak tahu banyak soal Multatuli. Teman-teman di Taman Baca Multatuli terus tingkatkan minat bacanya! I Love U all… mmmuah…”

“Keep your spirit an dedication to increase their knowledge. One day they gonna be better then they are now … and it come from you…”

“Buku Max Havelaar wajib dibaca masyarakat Indonesia karena isinya inspiratif dan bisa membangkitkan nasionalisme yang tinggi. Untuk lebih cinta pada negara dan bangsa Indonesia.”

Masih di Juli juga hadir Mbak Nima Sirait dan Mas Sapto Agus. Mereka berdua juga dari DAAI TV. Mereka sedang membuat film dokumenter Rumah Multatuli untuk program Refleksi. Mbak Nima menulis di buku merah.

“Teman-teman Taman Baca Multatuli, kalian sangat beruntung sudah mengenal, membaca, dan mendalami karya sastra sekelas Multatuli di usia yang sangat muda. Manfaatkan fasilitas taman baca ini sebaik-baiknya dengan membaca banyak buku. Buku akan membawa kalian ke tempat mana saja di dunia, menjadikan kalian apa saja yang kalian cita-citakan. Semangat selalu ya…”

Sementara Mas Sapto Agus menulis.

“Sangat mengagumkan melihat semangat kalian. Galilah terus ilmu dari buku yang kalian baca. Kalian boleh berada di tempat yang jauh dan terpencil tapi pikiran kalian akan sanggup keluar dari keterpencilan ini dengan membaca.”

Pertemuan ke-30 pembacaan kedua Max Havelaar juga ada beberapa kawan kru Kick Andy Hope dari Metro TV. Pertemuan ke-30 dilaksanakan pada 10 Maret 2012. Di buku merah terdapat nama-nama: Budiyanto, Sriyanto, Hermawan Prasetyo, Bambang Rakhmanto, Aisy Ilfiyah, Bronto, Kumala Dewi, dan Andika Maryanto. Mereka berkunjung ke Ciseel dari tanggal 9 hingga 12 Maret 2013.

Berikut kesan yang terulis di buku merah:

“Melihat anak-anak antusias melakukan RG Max Havelaar di pinggir kali, sangat menyenangkan.”

“Hmmm diajak shooting ke lokasi-lokasi yang mengagumkan + medan yang begitu luar biasa.”

“Hidup sastra and Jas Merah!”

“Saya kalah saing dengan anak-anak Kp. Ciseel, mereka tahu cerita Max Havelaar, saya tidak…”

“Medan RG luar biasa… tapi semangattt….”

“Amazing!”

“Gokillah, pokoknya! Keep reading guys!

Baca Ketiga

Pembacaan ketiga kali novel Max Havelaar berlangsung pada Rabu tanggal 11 September 2013. Pertemuan pertama pembacaan ketiga ini diikuti pula oleh empat kru dari Bali TV. Salah satunya Mas Juli. Mas Juli dan kawan-kawan sedang membuat dokumenter untuk program Sebuah Pengabdian yang ditayangkan di Bali TV dan Bandung TV. Dokumenter yang mereka buat berjudul; Asa di Kampung Ciseel. Mereka tinggal dari tanggal 10 hingga 13 September 2013. Berikut salah satu kesan yang mereka tuliskan di buku merah.

Reading book ‘Max Havelaar’ ini sangat luar biasa dalam arti mampu membantu dan menambah wawasan masyarakat Kampung Ciseel. Dengan kondisi kampung yang terisolir dan kurangnya sarana infrastruktur namun dengan adanya reading book ‘Max Havelaar’ ini setidaknya mampu mengobati hasrat masyarakat khususnya anak-anak dalam hal membaca.”

Pada pertemuan keempat tanggal 7 Oktober 2013 juga datang peserta dari Metro TV mereka sedang membuat liputan untuk program Wideshoot. Selama dua hari mereka mengikuti kegiatan di Taman Baca Multatuli. Saya mohon maaf sebab kesan mereka di buku merah tidak ditemukan. Namun Rukanah sempat menuliskan kesannya seperti berikut.

“Teman-teman hari ini hari Senin. Kita kedatangan tamu 3 orang. Tamu yang gendut itu namanya Kak Ari. Dua temannya lagi aku lupa (Mas Albar dan Pak Malik--saya). Oh, ya, terima kasih Kak sudah datang ke Taman Baca Multatuli. Kami sangat senang atas kedatangan Kakak ke Ciseel, kampung kami.”

Selasa, 11 Maret 2014 pertemuan ke-18 ikut membaca Max Havelaar: Wilma van Der Maten. Wilma koresponden dari Radio VPRO Nederland. Sore itu ia duduk bersama membaca Max Havelaar Bab 5. Wilma memberikan kesannya seperti berikut:

“Had a great trip. I will come back. Lebak is so beautiful especially your village. I can imagine your more happy there then in Jakarta. Hope we meet soon again also my best wishes to the Multatuli children. Salam!

Pada akhirnya: membaca novel Max Havelaar hanyalah satu jalan dari banyak jalan mengenalkan sastra. Satu upaya kecil menghidupkan ingatan melalui bacaan. Dan buku merah mencatatnya.

Bernapas panjanglah kau, bernapas panjanglah kelompok baca Max Havelaar!***

Ciseel, 25 Maret 2014

Sunday, March 2, 2014

Manusia Multatuli



Oleh Ubaidilah Muchtar

Pada tanggal 4 Januari 1839 tiba di Batavia seorang pemuda Belanda. Ia datang dengan kapal Dorothea. Setelah pelayaran yang menyita waktu tiga belas minggu lebih. Kapal itu berangkat 23 September tahun sebelumnya. Pemuda itu yang kemudian hari terkenal sebagai Multatuli, dia yang banyak menderita, alias Eduard Douwes Dekker.

Ayahnya bernama Engel Dekker, nakhoda kapal. Sytske Eeltjes Klein: Eduard, ibunya. Engel Dekker, agaknya seorang yang suka berkelakar dan pandai berbicara. Seorang nakhoda yang tegap, yang cepat membahasakan orang dengan “jongetje”, buyung. Ia biasanya tidak di rumah, seperti lazimnya kapten kapal.

Sytske, pembawaannya agak gugup. Dia cepat tangan ringan kaki, kata orang.

Multatuli lahir di sebuah rumah, di jalan sempit, di Korsjespoortsteeg, di Amsterdam. Multatuli anak keempat atau sebenarnya anak kelima. Saudaranya, Antje, lahir di tahun 1818 dan hanya hidup dua belas hari. Saudara-saudara lainnya bernama Catharina (1809-1849), Pieter (1812-1861), dan Jan (1818-1864). Sesudah Multatuli masih lahir seorang lagi di tahun 1832, yaitu Willem. Multatuli sendiri lahir, 2 Maret 1820. Hari ini tepat usianya 194.

Multatuli dibesarkan dalam suatu keluarga yang sederhana. Multatuli kecil banyak menimbulkan kesukaran karena wataknya yang gelisah dan ‘sukar’. Willem Frederik Hermans dalam Multatuli yang Penuh Teka-Teki (1988) mencatat, “ketika ia dimasukkan sekolah dasar orang cemas dengan daya pikirnya, seperti yang sering terjadi pada anak-anak yang terlalu cerdas”.

Orang tua Multatuli berharap ia menjadi pendeta. Maka selepas Sekolah Dasar, ia masuk Sekolah Latin di Singel. Di bulan Maret 1832 ia menulis namanya dalam album sekolah: Eduard Douwes Dekker, nama rangkap.

Tidak dijelaskan mengapa ia meninggalkan Sekolah Latin setelah belajar dua atau tiga tahun. Ia mengatakan bahwa ia senang di sekolah tersebut dan tidak terlalu bodoh untuk mengikuti pelajaran. Ia tidak enggan melakukan olahraga untuk kaum laki-laki seperti meluncur di atas es dan ia tidak segan-segan berkelahi. Ia selalu tampil membela yang lemah dan terinjak-injak. Ia menolong menyelamatkan topi pet yang diterbangkan angin milik seorang anak Yahudi yang tidak seorang pun mengacuhkannya. Ia bahkan pernah ingin pergi ke Yunani untuk berjuang buat orang Yunani dalam perang kemerdekaan mereka melawan Turki. Tapi perdamaian ditandatangani ketika ia berusia dua belas tahun. Ia terlambat lahir!

Di usianya yang kedelapan belas, ia kemudian menjadi pegawai kecil pada firma tekstil Van de Velde, di persil Singel 134. Ia minta berhenti bekerja setelah tiga tahun bekerja. Kekasihnya yang pertama bernama Louis. Dan itu sama sekali bukan kekasihnya yang terakhir.

Eduard sudah sejak dini secara impulsif bisa jatuh kasihan kepada orang yang lemah dan orang cacat, bahwa ia berani melawan ketidakadilan, bahwa hatinya mudah terbakar dan bahwa ia cenderung terlibat dalam kesulitan-kesulitan keuangan.

Sebagai pemuda 18 tahun Multatuli bekerja pada Pemerintah Belanda, yakni pada Dewan Pengawas Keuangan di Batavia. Ia cakap untuk pekerjaannya. Di masa pertama ia menjadi amtenar (pegawai pemerintah) ini ia mengalami guncangan batin sebab terputusnya hubungan dengan Caroline Versteegh. Penyebabnya karena dianggap oleh orang tua si gadis calon suami yang kurang serius dan lamarannya ditolak.

Tahun 1842 Multatuli dipindahkan ke Sumatra Barat. Bulan Juli 1842 Douwes Dekker ditempatkan sebagai kontelir di Natal, suatu jabatan yang bukan saja meminta segala tenaga kerjanya, tapi yang juga buat pertama kali membawanya berhadap-hadapan dengan penderitaan penduduk.

Drs. G. Termorshuizen dalam Pendahuluan novel Max Havelaar (1973) mencatat: Menarik perhatian reaksinya yang hampir spontan terhadap penderitaan penduduk itu, berupa pendirian yang pada hakekatnya akan menentukan tindakannya dalam ‘perkara Lebak’ 13 tahun kemudian. Dalam suatu laporan tanggal 21 Maret 1843 ia menulis: ‘Saya kira orang sedikit saja atau sama sekali tidak bekerja, baik di kebun-kebun lada maupun di sawah-sawah, tapi saya kira pula (……) bahwa yang menjadi sebabnya ialah tenaga yang patah oleh tiada bekerja (……). Haruslah diberikan gambaran masa depan yang lebih menyenangkan bagi pekerja, harapan masa depan yang lebih menggembirakan dan dalam hal ini baiklah dimulai dengan memberinya makanan yang cukup.’

Natal adalah dukacerita yang pertama dalam hidup Multatuli sebagai amtenar. Di bulan Juli 1843 ia dipecat oleh jenderal Michiels, atasannya. Setelah di Natal, ia perbantukan kepada residen Padang Hulu. Setelah dari Padang, berturut-turut ia bertugas di Purwakarta, Karawang, Purworejo, Manado dan di musim gugur 1851 ia menjadi asisten residen Ambon, tapi tidak lama karena sakit keras.

Sewaktu tinggal di Purworejo, dua tahun lebih ia di sana, Eduard Douwes Dekker hidup dengan miskin tapi jujur. Rochussen, gubernur jenderal mengunjunginya dan Dekker adalah satu-satunya pejabat yang tidak menerangi rumahnya karena tidak punya uang untuk itu.

Atasannya, residen Bagelen, Von Schmidt auf Altenstadt, menyebutkan dalam daftar kecakapannya bahwa kelakuan dan cara hidupnya baik, ia banyak kepandaiannya, rajin, hormat, tapi bebas dalam sikapnya.

Tanggal 10 April 1846 bagi Dekker adalah tanggal kebahagian. Dekker menikahi Everdine Huberte van Wijnbergen, yakni Tine—pahlawati—dalam Max Havelaar. Dekker dan Everdine menikah di Cianjur.

Pagi-pagi jam sepuluh ada keramaian yang tidak lazim di jalan besar yang menghubungkan daerah Pandeglang dengan Lebak.

Demikian kalimat pertama dalam Bab V novel Max Havelaar. Hari itu 21 Januari 1856. Dekker tiba dengan keluarganya di Rangkasbitung, ibukota Lebak. Di hari itu juga Dekker  mengucapkan sumpah jabatan. Dekker berjanji bahwa ia “akan melindungi penduduk Bumiputera terhadap penindasan, penyiksaan, dan penganiayaan”. Dekker diangkat sebagai asisten residen Lebak. Keesokan harinya, ia mengucapkan pidato yang ditujukan kepada kepala-kepala Lebak. Lebak daerah miskin dan bahwa penduduknya dihisap oleh bupati dan kepala-kepala (bawahan)nya.

Multatuli bertugas menjadi asisten residen di Lebak selama tiga bulan dari 21 Januari 1856 sampai 29 Maret 1856. Atasannya, residen Banten Brest van Kempen dan gubernur jenderal Duymaer van Twist. Gubernur jenderal Albertus Jacobus Duymaer van Twist memasuki sejarah sebagai ‘gubernur jenderal yang dimaki-maki Multatuli.’ Karena itu ia sekaligus menjadi gubernur jenderal paling masyhur yang pernah memerintah ‘Hindia Timur Belanda’.

Baiklah, pembaca, saya cukupkan sampai di sini saja tentang Dekker! Tentang novel masyhur Max Havelaar.

Selanjutnya saya ingin menuliskan manusia-manusia Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Multatuli, dengan Max Havelaar. Anda, tentu saja, saya percaya telah membaca Max Havelaar! Namun saya akan menceritakan Kartini, Pramoedya Ananta Toer, R.T.A. Sunarya, H.B. Jassin, Y.B. Mangunwijaya, dan Asep Sambodja.

Baiklah, saya coba sampaikan satu demi satu!

Kartini memiliki kesamaan dengan Multatuli. Mereka sama-sama menulis. Meski Kartini tidak menulis novel. Ia menulis surat-surat. Kartini sadar bahwa penduduk Jawa dianiaya. Kartini telah melanjutkan apa yang dirintis Multatuli. Kartini menyadari bahwa pangkal kesengsaraan yang membelit bangsanya adalah kolonialisme. Kartini dengan gigih melawan kolonialisme.

Kartini mengetahui Max Havelaar. Kartini begitu tergugah ketika membaca Max Havelaar. “Max Havelaar aku punya,” katanya, “karena aku sangat, sangat suka pada Multatuli.” Demikian  Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Panggil Aku Kartini Saja (2010).

Pembaca, kurang afdal jika menulis Multatuli tak menyertakan Pramoedya Ananta Toer. Ya, Pram! Bagaimana hubungan Pram dengan Multatuli. Orang Kiri dari Lereng Merapi pernah menuliskannya secara mendalam dalam esai, “Denyar Max Havelaar di Bumi Manusia (Sebuah Percobaan Mengenal Dua Sosok: Multatuli dan Pramoedya)”.

Pramlah yang terus mendengung-dengungkan Multatuli. Dalam esainya, Multatuli, Sebuah Kenangan. Pram mengakui bahwa di masa awal tahun 1930-an ia mulai mengenal Multatuli. Pram pertama-tama kaget mengetahui Multatuli sebagai orang Belanda. Akan tetapi semakin lama semakin timbul penghormatannya.

Pram menulis, “Dari bacaan itu dapat kusimpulkan: semua nasionalis barisan terdepan pernah mempelajari, bukan sekadar membaca: Multatuli. Dia tonggak awal dalam sejarah Indonesia yang menampilkan seseorang yang membela rakyat kecil dari kejahatan cultuurstelsel klasik van de Bosch. Yang memberikan keberanian, kelugasan, kecerahan, dan hidup mudanya pada perlawanan terhadap kerakusan para pembesarnya sendiri, para pembesar sebangsa sendiri. Yang memberitahukan, bahwa sampai Raja Belanda pun, dapat dihimbau, bahwa kepala desa, kepala distrik sampai Gubernur Jenderal bukan pagar-pagar kekuasaan yang tak tertembusi oleh daya tulisan dan daya cetak. Dia yang mengajarkan bagaimana tumbuh, berkembang, lurus ke atas, dengan integritas tetap utuh, tidak mondar-mandir dan berpusing dalam lingkaran setan.”

Pram menganggap bahwa Multatuli adalah penyadar. Pram bahkan pernah mengusulkan untuk membangun patung Multatuli. Pram beralasan:

“Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya, di bawah pengaruh Jawaisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah.”

Multatuli banyak sekali jasanya bagi Indonesia. Menurut Pram dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (2008) bahwa seorang politikus yang tidak mengenal Multatuli, tidak akan mengenal humanisme:

“Seorang politikus yang tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal arti humanisme, humanitas secara modern. Dan politikus yang tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politikus yang kejam. Pertama, karena dia tidak kenal sejarah Indonesia, kedua karena dia tidak mengenal perikemanusiaan, humanisme secara modern, dan bisa menjadi kejam.”  

Pram juga pernah menerjemahkan Max Havelaar, yang kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di Bintang Timur. Namun sayangnya terjemahan Pram atas Max Havelaar ini belum dibukukan. Semoga dapat kita nikmati. Itulah Pram!

Multatuli pernah menulis dalam Max Havelaar bahwa jika orang tidak percaya padanya. Jika anggota dewan tidak juga mau memperbaiki keadaan di tanah Jawa. Maka ia akan menerjemahkan bukunya ke dalam berbagai bahasa.

“Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak ……” (Max Havelaar, hal. 348)

Dua orang di antara yang berhasil merealisasikan kalimat Multatuli itu tak lain adalah R.T.A. Sunarya dan H.B. Jassin. Nama pertama, R.T.A. Sunarya adalah penerjemah kisah Saijah dan Adinda yang terdapat dalam Max Havelaar ke dalam bahasa Sunda. Terjemahan R.T.A. Sunarya atas kisah Saijah dan Adinda pertama kali terbit tahun 1932 oleh Bale Pustaka.

Cetakan kedua Saija terjemahan R.T.A. Sunarya ini dilakukan oleh Kiblat Buku Utama (Januari 2003). Dalam Panganteur, R.T. A Sunarya menulis:

“Wekasan serat, ieu carita Saija ku simkuring henteu disalin saceplakna sakecap-sakecap, tapi “disundakeun”. Nu dipambrih, sangkan leuwih sumerepna kana rasa Ki Sunda, katuang, babakuna ku batur jenuk balarea di desa-desa.

Ku sabab eta rea kecap jeung iketan nu dirobah, malah ngaran asal Saijah oge, dicoret “h”na, sabab nu maeh kana eta aksara, ilahar ngaran awewe. Ngaran Adinda diganti ku “Ina” nenehna tina “Adina” nu memper kana harti Adinda.

Tapi mungguh jejerna, galur ieu carita, saeutik oge henteu nyimpang tina asal.”

Kita dapat membaca Max Havelaar dalam bahasa Indonesia adalah karena H. B. Jassin. Ya, H.B. Jassin yang menerjemahkan Max Havelaar. Diterbitkan pertama kali tahun 1972 oleh penerbit Djambatan dengan judul: Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda. Cetakan pertama Max Havelaar diberi Kata Pengantar oleh Mashuri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. kala itu. Juga ada Sepatah Kata dari Duta Besar Keradjaan Belanda, Hugo Scheltema. Penerbitan Max Havelaar ini merupakan bantuan subsidi pemerintah Belanda.

Sementara di cetakan kedua Max Havelaar (1973) dalam Kata Pengantar tercatat:

“Cetakan pertama buku Max Havelaar dalam bahasa Indonesia ini terbit pada bulan Juni 1972. Di luar dugaan dalam beberapa bulan saja karya Multatuli ini habis terjual. Mungkin antaranya karena pengarang tersebut mempunyai arti yang khusus bagi bangsa Indonesia. Dan karena edisi pertama itu disubsidi oleh Pemerintah Kerajaan Belanda, sehingga harganya yang murah melancarkannya sampai ke kalangan pembaca yang lebih luas……

Dalam pada itu penerjemahnya, H.B. Jassin dapat undangan untuk berkunjung ke negeri Belanda kuranglebih setahun, telah dianugerahi Hadiah Martinus Nijhoff untuk tahun 1973 yangdiberikan oleh Prins Bernhard Fonds atas karya terjemahan Max Havelaar ini.”

Djambatan menerbitkan Max Havelaar hingga cetakan kesembilan tahun 2005. Dengan edisi khusus pelajar pada cetakan ketiga (1974).

Multatuli adalah salah satu faktor dalam pembentukan para intelektual Indonesia. Salah satunya, Y.B. Mangunwijaya. Dalam Para Tokoh Angkat Bicara: Buku 3 (1996), yang merupakan kumpulan wawancara. Y.B. Mangunwijaya dalam “Saya Tak Mau Jadi Godfather” pewawancara Tuti Indra Malaon dan Drigo L.Tobing, ketika ditanyakan siapa penulis favoritnya, ia menjawab:

“Kalau novel, gimana ya? Pramoedya Ananta Toer. Tapi guru saya yang pertama sebetulnya Multatuli. Max Havelaar.”

Saya yakin bahwa banyak penulis Indonesia membaca Max Havelaar. Salah satunya, Asep Sambodja. Asep Sambodja meyakini bahwa banyak sastrawan yang terpengaruh oleh Multatuli. Asep Sambodja dalam Historiografi Sastra Indonesia 1960-an mencatat:

Multatuli alias Eduard Douwes Dekker yang menulis buku Max Havelaar (1960) juga memengaruhi sastrawan revolusioner Indonesia. “Kalau bukuku diperhatikan dengan baik, dan disambut dengan baik, maka tiap sambutan baik akan menjadi kawanku menentang pemerintah,” tulis Multatuli.

Multatuli telah tiada. Namun karyanya tetap dibaca. Seperti kehendaknya, “Ya, aku bakal dibaca!”

Selamat ulang tahun, Max!***

Pondok Petir, 1 Maret 2014