728x90 AdSpace

  • Latest News

    27 May 2013

    Resleting Rusak, Aduh!

    Catatan Irman

    Pada hari Sabtu tanggal 12.05.2012 saya bangun pukul 05.30. Saya langsung mandi. Sesudah mandi saya pulang ke rumah. Sesudah sampai di rumah saya ganti baju. Sesudah ganti baju saya makan. Sesudah makan saya berangkat menuju Rasamala.

    Di perjalanan aku dan saudaraku ada yang menjemput. Aku naik motor sampai ke Rasamala. Sampai di Rasamala dilapangan Karang. Saya turun di sana. Sudah ada Nuraenun dan Sujatna. Lalu yang lain datang lagi, yaitu Ano, Yani, dan Tomi. Ketika Yani hendak menjemput yang lainnya motornya jatuh dan terkena kotoran kerbau. Kami semua tertawa.

    Tidak berapa lama kemudian semuanya kumpul. Aku naik mobil yang berwarna biru bersama Radi, Cecep, Iis, Acih, Idayanti, Elis, Dede, Teh Pipih, Mas Sigit, Ano, Ajis, Oom, dan Pupuh. Lalu mobil berangkat. Kami semua melambaikan tangan sambil berkata, “Dadah.”

    Lalu kami semua menyanyi “Pelangi-pelangi”.

    Pelangi-pelangi
    Alangkah indahnya
    Merah, kuning, hijau
    Di langit yang biru
    Pelukismu agung
    Siapa gerangan
    Pelangi-pelangi
    Ciptaan Tuhan

    Lalu kami nyanyi lagi.

    Potong bebek angsa
    Masak di kuali
    Nona minta dansa
    Dansa empat kali
    Sorong ke kiri
    Sorong ke kanan
    La…la…la…la.

    Di perjalanan Acih mabuk. Lalu dia pindah ke depan. Lalu kami nyanyi lagi. Tidak berapa lama kami semua sampai di Ciminyak. Lalu aku jajan ice cream. Mobil berangkat lagi. Lalu kami nyanyi. Di belakang ada cowok.

    Di belakang ada cowok
    Cowoknya cowok matre
    Sukanya makan sate
    Baunya bau dage

    Lalu mobil berangkat lagi. Di persimpangan kami semua nyanyi lagi. Menyanyi lagi. Dengarkan ya.

    See you tomorrow
    Sister day, aha
    See you tomorrow
    Sister day, aha

    Lalu kami nyanyi lagi, mau dengerin nggak? Mau ya dengarkan.

    Di depan ada cewek
    Ceweknya cewek matre
    Sukanya makan cabe
    Baunya bau jahe

    Bagaimana para pembaca, seru kan?

    Dan kami nyanyi lagi. Mau dengerin lagi nggak? Dengarkan, ya.

    Wingki. Wingki. Wingki.
    Dipsi, Lala, Po

    Bagaimana lagunya bagus nggak? Jawab ya.

    Tidak berapa lama kami sampai di jembatan di atas mobil. Saya melihat ke bawah. Di bawah ada sungai yang kelihatan airnya jernih. Saya ingin sekali mandi di sungai itu tapi sayang saya sedang jalan-jalan. Lalu kami nyanyi lagi. Dengerin ya.

    Mana di mana anak kambing saya
    Anak kambing saya di belakang saya

    Kami semua saling tunjuk. Mas Sigit tersenyum melihat kami semua saling tunjuk. Lalu kami menyanyi lagi. Dengarkan, ya. Ini nyanyian anak-anak. Mesti ini lagu anak-anak tapi yang baca harus tetap mendengarkan ya. Walaupun yang baca buku ini sudah dewasa. Tetapi tetap baca, ya. Dengarkan, ya.

    Satu-satu aku sayang ibu
    Dua-dua aku sayang ayah
    Tiga-tiga sayang adik kakak
    Satu dua tiga sayang semuanya

    Kalau nyanyi “Satu-Satu” aku ingat waktu aku berkemah. Kuceritakan ya. Dengarkan, ya. Waktu itu aku berkemah. Reguku, regu Kancil. Terus aku punya yel-yel. Yel-yelnya mirip sekali dengan lagu “Satu-Satu”.

    Satu-satu kami regu Kancil
    Dua-dua kami paling terampil
    Tiga-tiga kami paling kecil
    Satu dua tiga kami pasti berhasil

    Kancil siap. Kancil siap.
    Kancil siap. Kancil berhasil.
    Yesssssssssss

    Tetapi perjuangan regu kami tidak sia-sia. Juga kami berhasil mendapatkan juara umum dengan hasil poin = 10 poin. Juara satu,  6 poin. Juara dua  4 poin. Kok aku nggak nyambung, ya? Malah tentang perkemahan.

    Maaf, ya, pembaca! Sorry

    Lalu kami nyanyi lagi. Dengarkan ya.

    Nenek ayam-ayamku mana
    Sudah makan dulu
    Ada mi ayam special tuh

    Lagunya keren kan?

    Di persimpangan mobil berhenti. Lalu jalan lagi. Di perjalanan kepala saya mulai pusing. Saya tidur. Saya bermimpi. Kalau HP saya ada yang mencuri. Lalu saya bangun lagi. Ternyata HP aku dipinjam oleh Pupuh. Perasaan aku pun lega. Lalu kami nyanyi lagi. Dengarkan, ya.

    Hai, kawan marilah kita renungkan
    Susah senang kita hadapi bersama
    Pahit manis kita rasakan bersama

    Itulah lagunya. Wahai, pembaca buku catatan perjalanan Irman jangan bosan, ya. Walaupun isi ceritanya hanyalah nyanyian melulu.

    Di perjalanan mobil berhenti karena bannya bocor. Tentu kami semua turun. Di sana ada warung. Aku jajan. Aku melihat sawah-sawah. Di dekat sawah itu ada sungai. Lalu aku membeli manisan. Tidak berapa lama ban mobil sudah tidak bocor lagi. Kami semua naik mobil kembali. Dan mobil pun jalan lagi. Di tanjakan ban mobil yang lain jatuh. Oleh Sanadi dan Kak Rojali ban mobil itu dibawa. Mobil berjalan lagi. Perjalanan itu. Mobil melalui tanjakan yang sangat panjang. Setelah itu menurun.

    Kita sudah sampai di simpangan Cijahe. Lalu Pak Acang berbicara dengan Mas Sigit. Dia memamerkan keping uang. Katanya orang Badui suka sekali. Orang Badui suka beli keping uang itu. Tidak berapa lama kami sampai di Cijahe.

    Wah, ternyata kampung Cijahe banyak perubahan ya. Dulu di sana tidak ada tower. Sekarang ada. Dulu tidak ada kedai minuman di dekat rumah peristirahatan kami. Sekarang ada. Kampung Cijahe benar-benar banyak perubahannya.

    Setelah itu saya makan dengan teman-teman. Wah, enak sekali! Pas lagi lapar langsung makan. Oh, kue aku hampir ketinggalan di atas mobil. Lalu aku mengambil kue itu. Sesudah makan aku masuk ke dalam rumah. Di sana ada Kak Mulyadi, Kak Enday, Fahroji, Suhendar, Pepen, Rojali, dan Sanadi.  Di sana Cecep mulai mengisi catatan perjalanannya.

    Lalu aku mengambil buku. Aku juga langsung mengisi catatan perjalanan. Sayang ya bolpoin aku habis. Ku kembali buka ke dalam tas. Lalu aku keluar. Teman-teman yang lain belum selesai makan. Aku melihat ke depan rumah itu ternyata di dalam sana ada Pak Acang.

    Setelah semuanya selesai makan, Pak Prabu. Oh ya, para pembaca nama Pak Prabu itu panjang. Tapi aku tidak tahu soalnya aku lupa. Dia adalah seorang penulis buku. Sudah banyak buku yang dia buat. Dia memberikan lagu yang sangat indah. Kami semua mendengarkannya.

    Siapa yang suka baca tepuk tangan
    Siapa yang suka baca tepuk tangan
    Siapa yang suka baca pasti jadilah pintar
    Siapa yang suka baca tepuk tangan

    Wah, lagunya keren banget! Lalu Mas Sigit dan Pak Ubai membagi-bagikan air minum untuk nanti di perjalanan kalau haus. Aku menerima air minum itu dari Mas Sigit. Setelah semuanya kebagian, kami berangkat menuju Cibeo dan Cikartawana. Kedua tempat itu belum kami jelajahi karena tahun lalu kami hanya menjelajah Cikeusik. Dan perjalanan itu pasti jauh.

    Lalu kami melewati jembatan yang sudah reot. Wajar saja jembatan itu reot karena tiangnya saja hanya bambu yang tidak diikat atau pun dipaku. Tetapi jembatan itu tidak menakutkan karena kalau pun jatuh tidak akan sakit hanya mencebur doang ke sungai.

    Dulu itu kami belok kanan tapi sekarang beda. Sekarang kami belok kiri. Dan langsung nanjak. Di persimpangan jalan itu ada yang ke kiri dan ke kanan. Tetapi semua jalan itu benar tetap menuju Cibeo. Aku memilih jalan kanan karena menurutku jalan kanan itu jalan yang bagus. Lalu lurus  dan teman-teman ada yang bicara.
    “Seandainya saja kita bisa main sepeda di sini. Jalannya bagus sekali. Tidak ada batunya.”

    Di perjalanan aku sangat haus. Sayang ya air yang Mas Sigit berikan padaku itu aku membuangnya. Dan sekarang aku menyesal karena telah membuang air itu. Aku terus berjalan dan aku tiba di jembatan. Jembatan itu terbuat dari bambu. Talinya terbuat dari ijuk tapi anehnya jembatan itu tidak reot. Di jembatan itu sangat sejuk. Aku berhenti sebentar. Lalu aku jalan lagi. Di ujung jembatan itu aku menemukan pulpen. Lalu aku bertanya-tanya pulpen siapa yang jatuh. Dan ternyata pulpen itu milik Cecep.

    Lalu kita berjalan lagi. Di perjalanan aku melihat Kak Rojali membawa daun Hamberang. Dia gunakan untuk menutupi kepalanya karena dia kepanasa. Tidak berapa lama aku sampai di terowongan. Kuberi nama terowongan itu terowongan Casablanca. Lalu aku jalan lagi. Aku melihat orang-orang pada berhenti. Ternyata mereka menemukan air. Tanpa basa-basi aku langsung cuci muka dan kepala agar tidak panas. Lalu aku jalan lagi. Di perjalanan aku melihat lumbung padi orang Badui. Lumbung padi itu sangat tinggi. Lalu aku berdiri di bawah lumbung itu sambil foto-foto. Lalu aku jalan lagi dan melihat orang-orang berhenti. Kami menemukan sungai lagi. Aku lari menghampiri. Kubuka baju. Lalu kuletakan. Aku langsung cuci muka dan foto-foto. Karena terlalu asyik HP aku hampir jatuh ke sungai. Dag-dig-dug hatiku karena kaget. Lalu aku moto lagi.

    Lalu aku jalan dulu ke seberang untuk mengantarkan tas dan sepatu. Lalu aku disuruh Teh Pipih untuk memoto dan aku pun tidak menolaknya. Kupotret Teh Pipih dengan Teh Rohanah. Lalu aku membuka tas untuk mengambil jaket dengan cerobohnya kubuka tas itu dengan sangat kencang. Resletingnya rusak. Aduh!

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Resleting Rusak, Aduh! Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top