728x90 AdSpace

  • Latest News

    29 November 2010

    Catatan RG Novel Max Havelaar Minggu Ke-21




    Selasa, 12 Oktober 2010/pukul 16.00—waktu magrib/Taman Baca Multatuli/Bab 14 [empat belas]/halaman 232-249/21 [dua puluh satu] orang//

    Mencuri sebuah negera selalu lebih mudah daripada mencuri penggilingan. [MH, Bab 14: 232]

    Pecinta Multatuli yang baik,
    Ini catatan reading group novel Max Havelaar. Novel “jadoel” dengan segala kelebihannya. Novel keren dengan semua kedahsyatannya. Inilah kaya sastra luar biasa. Karya sastra yang membongkar praktik eksploitasi penguasa kolonial atas rakyat bumiputra. Novel yang menguliti mentalitas kelas menengah Belanda. Novel yang menyerukan keadilan. Novel yang membuka borok pejabat pribumi yang menyalahgunakan kekuasaan. Inilah novel yang jauh melampaui tabiat medioker dan puas diri sastra Belanda pada masanya. Inilah novel yang merupakan kritikan tajam yang telah membuka mata dunia tentang betapa perihnya arti dari sebuah penindasan. Betapa busuknya kolonialisme. Inilah novel yang memberi ilham bangsa kita [Indonesia] untuk merdeka. “Inilah novel yang telah membunuh kolonialisme,” demikian Pramoedya pernah berujar.

    Pecinta Multatuli yang baik,
    Novel ini dibaca pertama kali 23 Maret 2010 yang lalu di Taman Baca Multatuli. Kini aku ingin menceritakan pertemuan kami yang ke-21. Kami bertemu setiap Selasa sore. Pertemuan kami dimulai ketika waktu menunjukan pukul empat sore. Kami akan segera berakhir ketika suara azan magrib di masjid Ciseel berkumandang. Selasa ini tanggal 12 Oktober 2010 kami akan membaca bab 14 novel ini.

    Ini dia catatanku. Namun, aku akan kutipkan satu paragraf panjang berikut ini sebagai permulaan. Sebenarnya ini paragraf terakhir yang kami baca saat RG.

    “Rumah pejabat pemerintah di Hindia berdiri di tanah milik masyarakat, sejauh ini masih mungkin untuk berbicara mengenai kepemilikan komunal di sebuah negeri di mana pemerintah bisa mengambil segalanya. Cukup dengan berkata jika tanah itu, pekarangan itu bukan milik sang pejabat yang mendiami. Jika begitu masalahnya, maka dia akan berhati-hati untuk tidak membeli atau menyewa tanah yang melebihi jumlah uang yang harus dia amankan. Sekarang, ketika pekarangan rumah yang diserahkan pada seorang pejabat itu menjadi terlalu besar untuk dirawat, maka pekarangan itu akan merosot menjadi sebuah belantara, karena pertumbuhan vegetasi yang mengagumkan di daerah trofis. Tetapi Anda jarang, jika pernah, melihat sebuah pekarangan dengan kondisi terabaikan. Faktanya, para pelanglang seringkali kagum dengan keindahan taman yang mengitari kediaman Residen. Para pegawai sipil di Hindia Timur tidak memiliki pendapatan yang cukup besar, untuk menunjukkan kerja yang sepadan dengan bayaran yang sesuai. Meski demikian, penampilan mengesankan adalah penting bagi kediaman pejabat yang berkuasa, untuk mencegah masyarakat, yang banyak terkesan dengan tampilan luar, mencari penyebab penghinaan dalam pengabaian seperti itu; karenanya ada pertanyaan yang muncul: bagaimana, kemudian, cara mengaturnya? Di banyak tempat, para pejabat ini mempekerjakan tahanan yang dirantai, yaitu para kriminal dalam masa hukuman dari tempat lain; namun bentuk tenaga kerja seperti ini tidak tersedia di Banten, berdasarkan alasan politik yang kurang lebih valid. Sekalipun begitu, meskipun di suatu tempat jika ada narapidana seperti itu, mereka sangat jarang melakukan pemeliharaan yang pantas untuk pekarangan seluas itu, khususnya dalam sudut pandang dibutuhkannya tenaga kerja untuk kepentingan lain. Maka metode lain harus ditemukan; dan pengumpulan pekerja untuk memenuhi “undang-undang perburuhan” tampaknya yang paling dimengerti. Regen atau Demang yang menerima panggilan sejenis ini segera memberi respon, karena dia tahu pasti setelah itu akan sulit bagi sang pejabat yang begitu menyalahgunakan kekuasaannya untuk menghukum seorang pemimpin pribumi yang melakukan hal serupa. Maka pelanggaran yang dilakukan seseorang menjadi lisensi bagi yang lain.” [MH, 248-249]

    Rumah pembesar pada akhirnya sering digunakan untuk membahas permasalahan penyalahgunaan dan ketidakadilan terhadap rakyat jelata. Bagaimana Adipati atau Regen akan memaksa rakyat untuk mengerjakan pemeliharaan rumah dengan mengerjakan pekerjaan rodi. Namun tidak dengan Havelaar. Havelaar tidak mau menyalahgunakan kekuasaannya.

    “Namun, terdapat satu keadaan di Lebak yang mengganggunya. Max kecil tidak dapat bermain di kebun, karena banyak ular di sana. Ketika Tina menyadari hal ini dan mengeluhkan hal itu pada Havelaar, dia menawarkan hadiah pada para pembantu untuk setiap ular yang mereka tangkap; namun di hari pertama dia harus mengeluarkan begitu banyak uang sehingga dia harus membatalkan tawarannya, meskipun pada kondisi normal, tanpa kebutuhannya saat ini untuk berhemat, pembayaran itu lambat-laun akan melebihi jumlah uang yang dimilikinya. Maka diputuskan untuk selanjutnya Max kecil tidak boleh meninggalkan rumah, dan bahwa, untuk memperoleh udara segar, dia harus puas dengan bermain di beranda depan. Meskipun sudah ada pencegahan ini Tina selalu khawatir, khusunya di malam hari, karena sudah banyak yang tahu jika ular seringkali merayap ke dalam rumah dan bersembunyi mencari kehangatan di kamar tidur.” [MH, 247]

    Pecinta Multatuli yang baik,
    Setelah membaca paragraf ini, semua peserta tertawa keras. Bagaimana tidak, Havelaar akan membayar setiap orang yang berhasil menangkap ular. Dan di hari pertama banyak sekali yang datang padanya. Jelaslah, di pedesaan orang akan sangat mudah dan pandai menangkap ular. Bahkan anak yang masih kecil sekalipun.

    Selain tidak mau mempekerjakan rakyat untuk membersihkan halamannya, Havelaar bahkan tidak mau menyuruh rakyat untuk membeli roti ke Serang. Havelaar tidak mau menggunakan tenaga kerja yang tidak dibayar. Baginya, tenaga kerja yang tak dibayar adalah semacam penyakit kanker yang menginfeksi Lebak. Max dan istrinya, Tina sudah sangat terbiasa dengan keadaan sederhana.
    “Mereka telah mengalami peneritaan yang lebih buruk sebelumnya! Bukankah Tina yang malang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan berlayar di kapal Arab, tanpa ada tempat tidur kecuali di geladak kapal, tanpa ada tempat perlindungan dari panas matahari dan guyuran hujan musim muson barat daya kecuali sebuah meja kecil, tempat dia menekankan kedua kaki di antaranya? Bukankah dia kemudian harus puas dengan satu ransum kecil beras dan air kotor? Dan bukankah dia, pada dan banyak keadaan lain, selalu puas, selama dia masih bersama Max-nya?” [MH, 246-247]

    Pecinta Multatuli yang baik,
    Di awal bab ini banyak mengungkapkan contoh masalah penyalahgunaan bahkan tidak hanya yang terjadi di Jawa. Aceh juga disebutkan di awal bab 14 ini. Aceh disebut sebagai salah satu dari kerajaan-kerajaan merdeka di Utara yang berbatasan dengan tanah-tanah milik Belanda di Sumatra. Kemerdekaan Aceh dicurigai oleh Havelaar sebagai perjanjian rahasia Belanda dan Inggris. Karena hal itu, maka ekspansi Belanda diarahkan ke bagian Timur dengan menaklukkan daerah Mandailing dan Angkola yang sebenarnya masih kuat pengaruh Acehnya. Selain itu, kedua daerah ini juga menjadi basis masyarakat Islam yang fanatik.
    “SAYA tidak perlu memberitahu Anda,” Havelaar memulai, jika kekayaan kita di Pantai Barat Sumatra terbatas pada sejumlah daerah bebas di sebelah utara itu, salah satu yang paling utama adalah Aceh. Tertulis di artikel rahasia di Perjanjian tahun 1824, diwajibkan pada kita untuk melakukan perjanjian dengan pihak Inggris agar tidak menyeberangi sungai Singkel. Jenderal Vandamme, Napoleon gadungan kita, ingin memperluas daerahnya sejauh mungkin; namun dia bertemu dengan rintangan tak teratasi untuk tujuan itu. Saya dipaksa untuk percaya jika artikel itu memang ada, karena jika tidak maka akan terlalu aneh jika para Raja Trumon dan Analabu, yang daerahnya sangat penting untuk perdagangan merica, tidak menjadi jajahan Belanda sejak dulu. Anda tahu begitu mudah untuk menemukan alasan palsu guna menimbulkan peperangan di daerah sekecil itu serta mengambil alihnya. Mencuri sebuah negara selalu lebih mudah daripada mencuri sebuah penggilingan.” [MH, 232]

    Havelaar yang pernah bertugas di Natal sekitar tahun 1842 mencatat peristiwa ketidakadilan. Havelaar menceritakan pada Duclari [cerita berjalan mundur]. Havelaar menyebut kasus penaklukan Mandailing. Havelaar ingin berbicara tentang kasus hukum yang gelap, misterius, dan tidak diselesaikan pengadilan. Penangkapan dan pembuangan ke tanah Jawa terhadap Yang Dipertuan Mandailing karena tuduhan menyiapkan pemberontakan yang dilontarkan kontrolir daerah, menantu Asisten Residen Tanah Batak tidak pernah melalui proses pengadilan.
    “Lalu dia menunjukkan putusan Pengadilan Rapat di Natal, di mana dia menjadi pemimpinnya, memberi Si Pamaga hukuman cambuk dan cap (ditempel besi panas berinisial) serta—menurut saya—kerja paksa (waktu itu tahun 1842) selama dua puluh tahun, karena mencoba membunuh Tuanku Natal.” [MH, 238]

    Natal sebagai tempat Havelaar bertugas terdahulu diingatnya sebagai tempat terjadinya peristiwa pemalsuan keterangan oleh pejabat dengan maksud menghilangkan bukti-bukti yang merugikan sang jenderal.
    “Dari pendapat ini saya melawan apa yang menurut saya adalah penyimpangan bukti; tetapi saya tidak seberang (marah) ini, jika saya tahu bahwa sudah jelas masalahnya bukan untuk melindungi korban yang tidak bersalah, namun hanya untuk menghancurkan barang bukti yang bisa menyebabkan kesulitan bagi Jenderal, dengan mengorbankan kehormatan serta kesejahteraan pendahulu saya.” [MH, 242]

    Pecinta Multatuli yang baik,
    Sebelum saya tutup catatan ini saya teringat bahwa sebenarnya Havelaar sudah sangat paham dengan kondisi di Lebak. Havelaar tidak asing dengan masalah yang sedang berlangsung di Lebak. Havelaar tidak asing dengan masalah di Lebak jauh sebelum ia tahu akan ditugaskan di Lebak.
    “Pada 1846 saya berada di Karawang, dan saya sudah sering berkeliling di Kabupaten Priangan, tempat saya bertemu buronan dari Lebak dari tahun 1840. Saya juga mengenal pemilik lahan daerah Bogor, dan di distrik sekitar Batavia, maka saya dapat beritahu jika para ningrat itu selalu memperoleh kesenangan dari kondisi buruk divisi ini, karena memperbanyak jumlah tenaga kerja paksa yang dipaksa bekerja di lahan mereka.” [MH, 235]

    Sekian catatan RG Max Havelaar minggu ke-21 ini kuceritakan. Peserta RG Max Havelaar yang berbahagia di minggu ini, yaitu: Oom, Sona, Nuraeni, Niah, Ucu, Sadah, Rukanah, Arsiah, Jumsinah, Iis, Herti, Elis, Nuraenun, Suana, Mamay, Yeni, Cecep, Dede, Acih, Suryati, dan Heri. Terima kasih. Salam Multatuli.
    [Ubaidilah Muchtar—Taman Baca Multatuli—www.readingmultatuli.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan RG Novel Max Havelaar Minggu Ke-21 Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top