728x90 AdSpace

  • Latest News

    14 February 2011

    Catatan Reading Group Minggu ke-27 Novel Max Havelaar


    Oleh Ubaidilah Muchtar
    Saat aku memasukkan beberapa potong baju dan beberapa buku untuk ke Lebak, terbayang di kepalaku Saijah. Sedang berdiri di bawah pohon ketapang, Adinda berada di samping, dengan kain panjang melilit pinggangnya hingga kaki. Dan buntalan Saijah bertengger di pundak rapi dalam kain sarungnya. Dengan perasaan penuh sayang kepada Adinda, dirobeknya kain linen biru yang lusuh dan diberikannya potongan kain ikat kepala itu untuk kekasihnya. Adinda lalu memberikan isi kepalan tangannya yang tidak lain adalah bunga melati. Saijah berpamitan pergi. Dengan caping butut pemberian ayahnya, beberapa kuntum bunga melati dari Adinda, pemuda itu berkelana selama tiga kali dua belas bulan dari Badur menuju Batavia untuk mencari bekal hidup rumah tangganya. Teringat nasib Saijah, aku memutuskan berhenti mengepak tas. Aku pergi ke kamar melihat kembali kain biru yang juga dikenakan Saijah. Kain yang sejak setahun lalu mengisi kojaku, yang digantung di lemari. Aku memutuskan memasukkan buku Saija berbahasa Sunda di tasku.
    Semula, rencanaku adalah berkendara dari Depok menuju Lebak melalui rute biasa. Namun, sebenarnya rute yang lain dapat dicoba. Rute itu adalah lewat Tangerang Selatan melalui Pamulang dan Muncul lantas jalan di Cisauk yang penuh truk besar dan jalan di Tenjo yang berlubang-lubang. Ada dua tantangan di rute ini. Pertama, jalan Cisauk adalah jalan padat dengan kendaraan berat. Truk-truk pengangkut pasir dan batu berjalan beriringan tak putus-putus. Jalan yang tak pernah tidur. Debu menyelimuti udara. Memenuhi jalan dan penggunanya. Menutupi kios-kios yang berjejeran di sepanjang jalan. Mengalihkan warna daun pisang yang semula hijau menjadi hitam kecoklatan. Di jalan ini sering terjadi kecelakaan. Sopir truk pengangkut pasir dan batu dari Parung Panjang yang tak siap atau mengantuk akan membawa truknya terperosok ke lubang atau terguling. Menumpahkan pasir atau batu, memenuhi sebagian badan jalan dan memacetkan lalu lintas. Tidak heran jalan ini sangat padat sebab beberapa pabrik besar dan kecil berdiri di sepanjang pinggiran jalan.
    Jika telah selamat melewati jalan Cisauk, aku akan berada di Tenjo dengan hamparan sawah dan padang rumput yang tidak ada habisnya. Hanya sesekali bertemu dengan perkampungan dan kantor Kecamatan Tenjo yang berdiri kokoh sendirian, yang membuat pandangan pengendara akan segera tersadar sedang berada di mana. Jalan lurus dengan hamparan sawah itu menyisakan lubang-lubang yang dalam. Jika musim penghujan tiba, genangan air menipu pengendara. Dan dengan segera roda depan akan terperosok dan terbentur keras ke kubangan itu. Pengendara yang kurang pandai memilih jalan untuk dilewati akan dengan cepat terbanting dari kendaraannya. Dan terjatuh dengan lumpur memenuhi pakaian, bawaan, dan kendaraannya. Bahkan di sebuah titik kubangan, selepas kantor Kecamatan Tenjo, ada warga kreatif menanami kubangan di tengah jalan itu dengan pohon pisang. Tampaknya pilihanku atas rute ini adalah terjerembab ke dalam kubangan di Tenjo atau tergilas truk pengangkut pasir dan batu di Cisauk.
    Dalam perjalanannya ke Batavia, Saijah melewati Rangkasbitung yang belum menjadi pusat administrasi Lebak, dan Warung Gunung yang kemudian menjadi tempat tinggal Asisten Residen. Hari berikutnya dia sampai di Pandeglang. Akhirnya hari berikutnya dia sampai di Serang, untuk pertama kali dia melihat banyak rumah terbuat dari batu dan beratap genteng merah. Dia singgah sebentar dan keesokan harinya dia sampai di Tangerang sebelum kabut turun ke bibirnya. Dalam tiga hari dia tiba di Batavia. Multatuli menulis bahwa dalam tiga hari itu Saijah menjadi semakin dewasa.
    Aku tidak seperti Saijah yang berjalan kaki meninggalkan Badur menuju Batavia. Pilihanku tetap biasa. Sepeda motor yang akan mengantar dan menemaniku ke Lebak. Lebak terletak di Banten wilayah Selatan dengan segala kelebihannya: alam pedesaan yang sejuk dan menentramkan, hutan-hutan dengan pohonan beraneka jenis, serta wisata budaya dan adat di Baduy. Baduy itu sendiri sebuah nama untuk masyarakat yang masih memegang kuat adat dan tradisi serta menolak modernitas. Tempat itu sendiri adalah beberapa perkampungan yang menyatu dengan hutan alami. Baduy tentu saja berbeda dengan Badur, tempat Saijah dan Adinda dilahirkan.
    Hari Selasa tanggal 30 November 2010 aku memandu Reading Group Max Havelaar seperti minggu-minggu terdahulu. Selasa ini kami akan membaca bab ketika Havelaar menerima sepucuk surat dari Regen Cianjur yang mengabarkan bahwa dia ingin mengunjungi pamannya, Adipati Lebak, Karta Natanagara. Selasa ini pertemuan kami kali ke-27. Novel Max Havelaar telah diturunkan. Aku duduk di antara dua puluh tujuh peserta yang telah siap membaca. Ada Dede, Siti Nurhalimah, Sumyati, Sadah, Rukanah, Elis, Mariam, Nuraenun, Suryati, Samnah, Mamay, Yeni, Iis, Ida, Acih, Suarsih, Haerudin, Cecep, Ucu, Suherti, Yani, Unang, Elah, Nuraeni, Niah, Pipih, dan Mariah.
    Aku membacakan paragraf pertama bab 16 yang sedang kami hadapi. Peserta menyimak bacaanku dan kuminta peserta yang tidak memegang buku untuk bergabung dengan peserta yang lain. Ya, kuminta mereka untuk saling berbagi bacaan. Taman Baca Multatuli memang hanya memiliki 20 eksemplar Max Havelaar dari penerbit yang sama. Kubaca paragraf pembuka ini.
    Havelaar menerima sepucuk surat dari Regen Cianjur yang mengabarkan bahwa sang Regen ingin mengunjungi pamannya, Adipati Lebak. Ini adalah berita buruk. Havelaar sudah menyadari jika para pemimpin di Kabupaten Priangan telah terbiasa memamerkan kekayaan, dan bahwa sang Tumenggung Cianjur tidak akan melakukan perjalanan tanpa diiringi ratusan pengawal, yang bersama dengan kuda-kudanya, harus diberi tempat menginap serta makanan. Sebelumnya dia merasa senang jika bisa menahan kunjungan ini, namun meskipun telah mencoba semampunya, dia tidak bisa memikirkan cara lain untuk dapat melaksanakannya tanpa menyakiti perasaan Regen Lebak, yang begitu angkuh dan akan merasa gusar jika kemiskinannya diajukan sebagai alasan agar tidak dikunjungi. Lagipula jika kunjungan itu tidak bisa dihindari, maka dipastikan bisa memperburuk beban yang sudah lama memberati orang-orang. [hlm. 287]
    Aku jelaskan hubungan kekerabatan antara Regen Cianjur dengan Regen Lebak. Hubungan antara paman dengan keponakan. Hubungan yang telah dijelaskan di bab 8 di mana Regen Lebak adalah Regen yang miskin. Sementara Regen Bandung dan Regen Cianjur yang tak lain dari keluarganya jauh lebih kaya darinya. Padahal Regen Lebak adalah kepala keluarga. Adipati Karta Natanagara adalah Adipati, dan Regen Cianjur hanyalah Tumenggung, dan juga karena Lebak tidak cocok untuk ditanami kopi. Oleh karena dia tidak mendapatkan tambahan apa pun, pendapatan Adipati Karta Natanagara bahkan tidak dapat mengizinkan dia untuk bersaing dalam kemegahan dan keuangan dengan seorang Demang biasa di Kabupaten Priangan. Padahal para sepupu Regen itu harus memegang pijakan kaki ketika Adipati mau menaiki kudanya.
    Selain karena tidak mendapatkan tambahan dari apa pun, Adipati memiliki utang. Utangnya itu harus dilunasi yang diambil dari gajinya. Pinjaman Adipati kepada pemerintah tersebut dikarenakan dia meminjam uang dari pemerintah untuk pembangunan sebuah masjid baru yang membutuhkan banyak uang. Juga karena dia memiliki banyak keluarganya. Keluarganya itu bukanlah masyarakat Lebak. Namun mereka berbondong-bondong mendekatinya seperti sekelompok pencuri, dan memeras uang darinya.
    Akibat dari kekurangan keuangan tersebut, Adipati berbuat sewenang-wenang kepada rakyat. Perilaku Adipati dan keluarganya yang sering mengatasnamakan Adipati membuat rakyat Lebak makin sengsara dan miskin. Adipati Karta Natanagara telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengeksploitasi rakyatnya. Salah satunya dengan merampok harta benda seperti kerbau rakyat. Salah satunya adalah kerbau milik ayah Saijah. Aku jelaskan semuanya dengan pelan dan berulang.
    Kehadiran Havelaar di Lebak sebagai Asisten Residen yang berusaha menolak kehadiran Regen Cianjur membuat rakyat yang menderita berani untuk mengeluh, meskipun hanya secara bimbang dan sembunyi-sembunyi.
    Mereka akan merayap mendaki jurang saat petang, karena Tina sering duduk di kamarnya maka dia sering terkejut oleh suara desiran yang tiba-tiba, melalui jendela yang terbuka dia bisa melihat sosok gelap mengendap-endap dengan langkah waspada. Tapi sekarang dia tidak lagi terlonjak, karena dia sudah tahu maksudnya ketika bayangan itu menjelajah mengitari rumahnya seperti hantu, mereka mencari perlindungan dari Max-nya! Dia akan memberi isyarat agar bayangan itu datang, lalu bayangan itu akan mendekat untuk mempertanyakan penghinaan dan penyiksaan yang dia alami. Kebanyakan dari mereka datang dari Distrik Parangkujang, di mana menantu Regen menjadi pemimpinnya.
    Havelaar akan mencatat keluhan mereka. Biasanya, tidak lama setelah para korban melapor padanya, Havelaar telah berada di tempat kejadian. Havelaar akan berada di sana dan menyelidiki kasus demi kasus kejahatan Adipati dan menantunya. Havelaar melakukan penyelidikan tersebut kebanyakan sepanjang malam. Havelaar jelas-jelas telah mengunjungi daerah Lebak yang luas, desa-desa yang terletak sejauh dua puluh empat jam perjalanan dari Rangkasbitung secara diam-diam tanpa diketahui oleh Verbrugge atau Regen. Havelaar melakukan semua ini bertujuan untuk melindungi para pengadu dari bahaya pembalasan. Selain itu dia tidak ingin membuka secara langsung aib Regen jahat itu. Havelaar masih berharap agar Adipati dan menantunya yang jahat itu akan berputar dari jalan berbahaya yang telah sekian lama mereka jalani. Havelaar masih berharap dipati Karta Natanagara dan Demang Wiranata Kusumah akan sadar bahwa memeras rakyat itu perbuatan yang membuat rakyat sengsara tak berkesudahan. Rakyat yang miskin dan sengsara serta kelaparan karena dieksploitasi secara sewenang-wenang.
    Sebenarnya pencurian kerbau hanyalah salah satu dari kejahatan Adipati dan menantunya. Perampokan kerbau dari rakyat oleh pejabat pribumi hanyalah kejahatan yang mudah dideteksi. Mencuri kerbau bukanlah kejahatan utama yang dilakukan Adipati. Justru yang jauh lebih mengerikan sering terjadi. Rakyat diambil tenaganya tanpa bayaran. Disuruh mengerjakan sawah Adipati tanpa bayaran. Sementara sawah mereka tak terurus. Padahal sawah adalah kehidupan mereka. Jika mereka tidak bisa mengolah sawah mereka tidak mempunyai beras untuk dimakan. Jika panen gagal mereka tidak dapat membayar pajak sawah kepada pemerintah. Dan mereka akan disiksa dengan cara dicambuk oleh pejabat pemerintah.
    Di bab ini Havelaar melalui Stern juga telah menyinggung kisah pemuda bernama Saijah dari desa Badur. Dan seorang gadis, kekasih Saijah yaitu Adinda. Stern menggunakan kisah percintaan yang romantis dan tragis, Saijah Adinda untuk membongkar perampokan-perampokan di Banten oleh pejabat pribumi.
    Kita akan meninggalkan sejenak dalam kesedihan dan kesulitan tugasnya, untuk memberi tahu para pembaca mengenai kisah masyarakat Jawa yaitu Saijah dari desa Badur. Saya mengambil nama desa dan orang Jawa itu dari berkas Havelaar. Ini adalah kisah mengenai pemerasan dan perampokan; dan jika ada yang mau memerhatikan—yaitu substansinya—sebagai cerita khayalan, maka saya bisa memberikan nama ke-tiga puluh dua orang di Distrik Parangkujang terpisah dengan, dalam satu bulan, tiga puluh enam ekor kerbau yang diambil paksa dengan mengatasnamakan Regen. Atau bahkan, agar lebih pasti, saya bisa menyebutkan tiga puluh dua orang dari distrik itu yang, dalam satu bulan, memiliki keberanian untuk mengeluh, dan keluhannya telah diselidiki dan terbukti benar oleh Havelaar. [hlm. 289]
    Selanjutnya, Havelaar menyinggung soal penyebutan nama “orang Jawa”. Mungkin bagi pembaca Eropa tidak ada yang salah dengan penyebutan ini. Namun bagi mereka yang bersinggungan langsung dengan Jawa akan terlihat janggalnya. Tentu saja Havelaar tahu masalah ini karena ia pernah ditugaskan di Lebak. Ini dia masalahnya. Keresidenan terbarat Banten, Batavia, Priangan, Karawang, dan sebagian dari Cirebon, semuanya disebut daerah Sunda, tidak dianggap sebagai bagian dari daerah Jawa. Orang Sunda jelas berbeda dengan orang-orang di daerah Jawa Tengah atau Timur. Perbedaan ini dapat dilihat dari pakaian, karakter ras dan bahasa. Berbeda dengan mereka yang berada jauh di timur bahwa orang Sunda atau orang Gunung, orang dari pegunungan, mereka memiliki perbedaan besar dengan orang Jawa asli dibandingkan dengan perbedaan antara orang Inggris dengan orang Belanda. Perbedaan ini sering mengakibatkan ketidaksamaan dalam menilai masalah di Hindia Belanda Timur.
    Begitu pula orang yang menafsirkan Hindia Belanda Timur terbatas pada Jawa akan memiliki persepsi salah mengenai orang Melayu, Ambon, Batak, Alifuru, Timor, Dayak, Bugis atau Makassar, jika mereka tidak pernah meninggalkan Eropa. Di bagian ini Havelaar mulai menyinggung tabiat orang Belanda yang lebih dari tiga puluh tahun di Hindia tetapi tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitar, dengan rakyat biasa, dengan pemimpin pribumi, dengan masyarakat Bumiputera.
    Aku sampaikan betapa tajam pandangan Havelaar mengenai masyarakat pribumi dan bangsanya sendiri. Havelaar sangat yakin dengan apa yang diperjuangkannya. Havelaar paham kondisi rakyat Lebak dan masyarakat Hindia Belanda Timur. Kututup Reading Group Max Havelaar Selasa ini dengan menyampaikan sepintas kisah Saijah seperti kusampaikan di pembuka catatan minggu ke-27 ini. Tentu saja buku kesan dan pesan terisi oleh para peserta. Sebagian besar kesan dan pesan peserta berkisah tentang senangnya mengikuti reading ini. Namun aku sampaikan satu kesan dari Pipih. Pipih menulis, “Multatuli itu orang yang peduli sama rakyatnya. Andai Multatuli masih hidup sekarang ya… teman-teman!”
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan Reading Group Minggu ke-27 Novel Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top