728x90 AdSpace

  • Latest News

    19 February 2011

    Catatan Reading Group Minggu Ke-28 Novel Max Havelaar


    Oleh Ubaidilah Muchtar

    Aku dan istri berpisah pukul empat lima belas pagi. Ketika kubuka pintu, jalan di depan rumah sangat sepi. Hanya beberapa ekor kucing sedang mengorek sampah. Dingin merambat melewati celah jaket. Dan sepi menusuk sampai ke ulu hati. Kupanaskan mesin sepeda motor. Kuangkat tas yang sejak tengah malam telah kusiapkan. Beberapa potong baju, novel Max Havelaar, buku merah kesan-pesan, catatan dan makanan kecil, serta kamera saku mengisi tas punggung. Sementara beberapa eksemplar buku cerita anak telah mengisi tas tangan yang kukaitkan di sepeda motor. “Hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut!” begitu pesan istri. “Ya.” Begitu kujawab. “Hati-hati nanti berangkat ke sekolah. Bilang ke tukang ojeknya jangan ngebut juga ya!” lanjutku. Selepas menjawab salam. Istriku menutup pintu.
    Begitulah di setiap Senin pagi kami berpisah. Tapi minggu ini aku pergi di Rabu pagi. Rabu ini akan ada Reading Group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli. Rabu ini Reading Group Max Havelaar akan memasuki minggu ke-28. Kutinggalkan istri di rumah sendiri. Penjaga kompleks di depan gerbang utama ngantuk berat. Kuanggukkan kepala sebagai sapa. Dia melihat sekilas lalu kembali tenggelam dalam kantuk yang dalam. Di pertigaan Reni Jaya kuarahkan ke kanan, ke Parung. Jalan Raya Ciputat-Parung menggeliat. Pengendara sepeda motor menuju Jakarta berjalan cepat. Berbagi jalan sambil hati-hati agar tidak saling senggol. Arahku lengang seperti biasa. Hanya satu dua yang menyalip tampak terburu sehabis kerja malam hari.
    Pasar Parung ramai seperti biasa. Pedagang dan pembeli bertemu. Sejak masuk pasar. Keramaian menyergap para pengguna jalan. Pedagang sayuran menggelar dagangannya di kios-kios dan lapak-lapak pinggir jalan. Begitu pula pedagang ikan, buah-buahan, tahu, tempe, pisang, dan barang dagangan lainnya. Menikmati keramaian Pasar Parung di awal pagi sungguh menarik. Berjalan pelan, berbagi dengan pejalan kaki. Sesekali harus berhenti sebab sopir angkot berhenti menunggu penumpang yang akan naik. Beberapa mobil baru menurunkan barang bawaannya. Sementara kuyakin para pedagang sudah menyiapkan dagangannya jauh sebelum subuh. Kuli-kuli angkut sibuk mengangkut barang. Sementara tukang ojek sabar menunggu sang pelanggan memilih barang.
    Sempat kulihat seekor ikan melompat dari tempatnya. Menggelepar di tanah menunggu diangkat kembali ke bak air. Pengupas kelapa cekatan memegang pisau. Penjual pisang bersabar menanggapi penawar. Kios-kios di Pasar Parung sangat banyak. Tidak hanya yang di pinggir jalan besar. Kios di belakang pasar tidak kalah ramainya. Pengunjung tidak pernah bosan datang.
    Di ujung pasar, kubangan besar di tengah jalan siap menyergap. Jika hujan tiba jalan menjadi hilang. Dan tenggelam. Di samping jalan yang rusak ini. Pedagang ayam dan sejenisnya siap menunggu para pembeli. Perlu hati-hati melewati jalan di sini. Jika tidak ingin terpeleset atau kecebur masuk kubangan. Terkadang cipratan ban kendaraan besar melemparkan air bercampur lumpur. Jika tidak siap menghindar, airnya dapat membasahi pakaian wangi para pengemudi.
    Alur perjalananku masih sama. Tak ada yang beda. Akan kutemukan kembali pasar-pasar lainnya. Dari Cinangka di Sawangan hingga ke Ciseel di Lebak, perjalananku akan melewati Pasar Gobang, Pasar Cigudeg, Pasar Jasinga, Pasar Cipanas atau Gajrug, dan Pasar Ciminyak. Pasar Parung yang paling besar dan ramai. Pasar Gobang sebaliknya. Kukira hanya beberapa kios saja. Keramaiannya tidak sempat menghambat perjalanan.
    Antara Ciseeng hingga Leuwiliang aku berjumpa dengan deretan pohon karet. Jika kebetulan bertemu, para penyadap getah karet sedang menaikan hasil sadapannya ke truk di pinggir hutan. Sadapan getah karet dalam kaleng berbentuk kendi besar berwarna perak berbaris menunggu diangkut. Kupikir jam berapa para penyadap itu mulai bekerja. Sepagi ini mereka telah membawa hasilnya ke pinggir jalan. Itu kutemukan sebelum perjalananku memasuki Pasar Gobang.
    Dari Leuwiliang hingga Cipanas aku jumpai perkebunan kelapa sawit. Kulewati empat perkebunan kelapa sawit. Sering kutemui para petani yang akan bekerja di perkebunan. Duduk-duduk di tepi jalan. Menunggu truk jemputan yang akan membawa mereka ke perkebunan. Di perjalanan ini, bus-bus pengangkut pekerja tambang emas Pongkor juga sering berpapasan.
    Jika para pengendara sepeda motor atau mobil yang hendak ke Jakarta sedang bergulat menghindari kemacetan. Maka perjalananku sebaliknya. Tentu saja tak akan ada kemacetan yang menggelisahkan di jalan ini. Para pengguna jalan disuguhi pemandangan alam nan hijau. Jalan lengang diapit perkebunan kelapa sawit. namun tetap harus hati-hati dan waspada. Sewaktu-waktu rombongan truk besar pengangkut pasir atau tanah mengisi jalan. Tentang perjalananku ini, pernah seorang penjual bensin di Rumpin berkata padaku suatu ketika, “Orang lain mah rumah di Lebak dan bekerja di Jakarta. Kok ini malah bekerja di Lebak, tinggal di Jakarta!” Aku hanya mengiyakan saja. Tentu saja dia salah sebab aku tinggal di Depok bukan di Jakarta.
    Selepas tempat wisata air panas, perjalananku berbelok ke kanan. Ke arah Rangkasbitung. Jika hendak ke tempat wisata arung jeram Sungai Ciberang, maka arah sebaliknya yang harus pembaca pilih. Aku masuki halaman SMP Negeri 1 Cipanas jika aku pergi di Senin pagi. Di sekolah ini aku mengajar hari Senin dan Selasa. Sejak Juli lalu aku di sekolah ini mengajar untuk menambah jumlah jam mengajar kewajibanku. Kewajiban mengajarku 24 jam setiap minggu. Di SMP Negeri Satap 3 Sobang, aku hanya mendapatkan setengah kewajibanku mengajar. Maka untuk melengkapi sisanya, di SMP Negeri 1 Cipanas ini aku habiskan dua hariku.
    Sudah kukatakan bahwa aku pergi di Rabu pagi. Aku pergi sebab akan ada Reading Group Max Havelaar. Tapi lebih dulu aku terpaksa menyimpang, sesuatu yang tidak dapat dihindarkan jika kita hendak menggambarkan sesuatu yang baru. Aku pergi di hari Rabu sebab hari Jumat minggu yang lalu kepalaku harus dijahit. Seorang pengendara sepeda motor menubrukku dari sebelah kiri. Kepalaku terbentur aspal jalan meskipun mengenakan helm kepalaku tetap bocor juga. Maka sejak hari Sabtu hingga Selasa aku harus di rumah saja. Yang kumaksud sesuatu yang baru tentu saja buka tentang kepalaku, namun Reading Group Max Havelaar. Kegiatan Reading Group merupakan kegiatan membaca sastra yang murah, massal, dan ada nilai sosialnya. Selain sekadar membaca karya sastra yaitu novel, kegiatan Reading Group yang dilaksanakan di desa Ciseel dan di kampung-kampung lain ini menjadi hiburan yang murah. Reading Group juga dilakukan dengan banyak peserta. Membaca sastra bukan lagi hanya dilakukan oleh mahasiswa sastra di kampus-kampus namun oleh anak-anak kampung di daerah pedalaman Lebak yang terpencil yang belum tersentuh listrik, televisi, telepon, dan hanya dapat penerangan dari lampu minyak tanah, senter atau kayu bakar di tungku dapur. Ada kesenangan saat anak-anak dengan kaos dan kemeja lusuh serta kerudung warna-warni ini membaca Max Havelaar dengan tekun setiap Selasa sore tanpa mengeluh apalagi terpaksa. Membantu anak-anak yang hampir setiap hari makan dengan ikan asin dan nasi putih serta sambal ini mengenal sastra dalam hal ini novel Max Havelaar yang mendunia. Juga mengenalkan kepada mereka yang menganggap telur serta mi instan sebagai barang mewah, apa yang disebut kolonialisme dan tentu saja sejarah kampung halamannya, Lebak.
    Rabu ini kami kembali melakukan Reading Group Max Havelaar. Kami akan melanjutkan membaca bab 16 Max Havelaar. Ini pertemuan kami yang ke-28. Kami bertemu di Rabu, 15 Desember 2010. Pertemuan ke-28 ini kami membaca bagian saat Stern mulai mempersiapkan pembaca untuk kisah Saijah dan Adinda yang akan muncul pada bab 17 yang akan datang. Aku dan peserta selalu tersentuh dengan kisah Saijah dan Adinda. Aku telah membacakannya berulang selepas Reading Group di minggu-minggu yang lalu. Namun sebelum memasuki kisah tersebut, Stern mengetuk hati pembaca dengan cerita tentang seekor semut yang selalu jatuh terguling karena beban berat. Beban berat seperti beratnya kehidupan Saijah.
    Stern mengungkapkan bahwa kisah Saijah merupakan kisah yang monoton. Semonoton kisah seeokor semut pekerja. Kubaca paragraf pembuka pertemuan ke-28 ini dengan pelan. Para peserta menyimak dengan saksama. Mereka tekun membaca teks yang kubaca nyaring. Ini kisah semut pekerja yang monoton tersebut.
    Ya, akan menjadi kemonotonan! Semonoton kisah seekor semut pekerja yang harus menyeret kontribusinya untuk persediaan musim dingin di atas tanah liat—sebuah gunung—yang terdapat di jalan menuju gudang. Berkali-kali dia jatuh dengan bebannya, dan berkali-kali juga dia mencoba melihat apakah ada kemungkinan untuk mencapai batu kecil di sana… batu yang ada di puncak gunung. Namun antara dia dan puncak itu terdapat jurang yang harus dilewati… jurang yang tidak cukup dimasuki seribu semut. Untuk tujuan tersebut makhluk kecil ini, dengan nyali ciut untuk mau menyeret bebannya di sepanjang tanah datar itu—sebuah beban yang beratnya berkali lipat daripada tubuhnya sendiri—harus mengangkat beban itu di atas kepalanya sembari berusaha berdiri tegak di lokasi yang tidak stabil itu. Dia harus menjaga keseimbangan, karena dia harus naik lurus dengan membawa beban di antara kaki depannya. Beban itu harus dia ayunkan ke depan dan ke sisi lain, sehingga dia bisa sampai di sebuah bagian yang menonjol di dinding batu. Dia terhuyung, terbanting, memulai lagi, terbalik, mencoba berpegangan pada pohon yang separuh tercerabut, yang pucuk teratasnya merunduk ke kedalaman itu—tangkai rumput!—dia kehilangan pegangan yang dia cari; pohon itu terayun ke belakang—tangkai rumput muncul di baliknya! Aduh! Si pekerja keras itu telah terjatuh di tebing curam dengan bawaannya. Dia tidak bergerak untuk sesaat, kira-kira sedetik… yang cukup lama bagi seekor semut. Apakah dia terkejut akibat rasa sakit karena terjatuh? Ataukah dia menyerah dengan sedih karena segala usahanya sia-sia saja? Kesimpulannya, dia tidak kehilangan keberanian. Sekali lagi dia meraih bawaannya, dan sekali lagi dia menyeretnya ke atas, untuk segera jatuh lagi, dan lagi, melewati tebing curam menuju ke kedalaman. [hlm. 295-296]
    Kujelaskan setiap kalimat dalam kisah monoton semut pekerja ini. Bagaimana semut pekerja tersebut terjatuh dan meraih kembali bawaannya. Bagaimana perjuangan semut pekerja untuk mencapai gundukan tanah liat yang baginya sebuah gunung. Aku harus memeragakan gerakan semut ketika terjatuh dan meraih sebuah pohon yang lalu pohon tersebut tercerabut lalu semut terpelanting dan jatuh dari tebing yang curam. Aku harus menjelaskan kata terhuyung dan memperagakannya di hadapan para peserta. Aku juga mengharapkan anak-anak Ciseel meskipun terlahir dari keluarga miskin, makan hanya dengan ikan asin atau sambal. Meskipun baju mereka lusuh dan setahun sekali ganti saja sudah beruntung. Meskipun mereka pergi ke sekolah hanya beralas sandal jepit butut dengan tas butut. Namun aku mengharapkan mereka tidak putus asa. Mereka harus tegar menjalani hari-harinya di kampung Ciseel ini. Mereka harus kuat dan tidak putus asa. Harus tetap sekolah dan terus belajar. Meskipun sukar untuk belajar di malam hari karena hanya berpenerangan lampu minyak tanah atau senter. Mereka harus tetap mengerjakan tugas sekolah sebaik-baiknya. Tidak baik bermalas-malasan hanya karena hidup serba kekurangan. Harus terus bangkit dan memiliki harapan. Harus melanjutkan sekolah. Yang lulus SD atau MI harus melanjutkan ke SMP. Bagi yang lulus SMP harus melanjutkan ke SMA atau MA.
    Begitulah kisah semut pekerja dengan beban berat yang dibawanya. Seperti juga beratnya kehidupan anak-anak Ciseel. Dan tentu saja Si Saijah, pemuda Jawa. Saijah yang juga Stern katakan sama seperti kita, orang Belanda. Yang membedakan hanya kurang beruntung karena beda warna kulitnya.
    Untuk memastikan, mereka yang menghindari perasaan dan ingin menghindari rasa sakit menyedihkan akan berkata bahwa, para pria dan wanita ini berkulit kuning, atau coklat—banyak orang yang menyebut mereka hitam; dan bagi orang-orang itu, perbedaan warna merupakan alasan yang cukup untuk memutar mata mereka menjauh dari penderitaan seperti itu, atau, jika mereka berkenan untuk bagaimanapun juga mengawasinya, mengawasinya tanpa perasaan. [hlm. 296]
    Havelaar tentu saja sangat peka dan mengajarkan banyak hal yang baik kepada pembaca. Havelaar mengajak pembaca untuk tidak melihat seseorang dari warna kulitnya. Orang kulit putih jangan merasa lebih hebat karena saat itu kebetulan lebih maju. Harus menghormati orang lain, membangun komunikasi, peduli dengan kepribadian orang lain.
    Kulanjutkan membaca bagian ketika Batavus menegur Stern karena telah menulis hal-hal yang tidak berhubungan dengan kopi. Stern dalam pandangan Batavus menulis hal-hal yang kurang menguntungkan tentang bursa kopi. Tulisan Stern dalam pandangan Batavus tentu saja akan merugikan perusahaannya. Bahkan lebih jauh lagi akan merugikan kongsi dagang kopi secara keseluruhan. Selanjutnya Batavus juga menegur pengaruh tulisan Stern dan tulisan-tulisan dalam bungkisan Sjaalman terhadap Frits dan Marie, kedua anak Batavus. Frits dan Marie dalam pandangan Batavus menjadi anak yang kurang ajar, angkuh, menolak membaca kisah Lot (keponakan laki-laki Abraham) saat sarapan, egois, tidak patuh, dan tidak sopan sebab Marie turun untuk sarapan tanpa duduk dahulu di meja makan. Sementara Frits banyak melontarkan pertanyaan yang kurang ajar yang telah membuat Blatherer, pengajar atau pelayan Injil yang giat yang disebut Batavus bersifat lemah lembut, marah besar. Ajaran kitab suci yang seharusnya diimani dengan sepenuh hati malah oleh si berandal muda Frits dipertanyakan dengan macam-macam yang menunjukkan pemberontakan hatinya.
    Namun saya akui saya sering kesulitan melakukannya akhir-akhir ini, dengan mendengarkan segala omong kosong yang dibacakan Stern. Apa maunya? Kapan semua ini berakhir? Kapan kita pernah mendapat sesuatu yang solid dan berharga? Apa peduli saya jika saudara Havelaar ini menjaga kebunnya tetap rapi, atau jika orang-orang mengunjungi rumahnya dari depan atau dari belakang?.... Saya tidak pernah punya kerbau, dan saya cukup puas. Beberapa orang selalu mengeluh. Dan perihal semua yang mencaci kerja paksa, dengan mudah Anda pasti tahu bahwa dia tidak mendengarkan seruan Parson Blatherer, jika tidak dia pasti tahu betapa bergunanya kerja seperti itu untuk penyebaran Kerajaan Tuhan. Tapi tentu saja Stern adalah pengikut Luther. [hlm. 299]
    Sosok Parson Blatherer dihadirkan melalui persepsi Batavus, bahkan kemarahannya pun diteropong lewat matanya. Tidak dibiarkan kesimpulan suatu masalah diambil tanpa terlebih dahulu melewati persepsi Batavus. Batavus memang sangat ideologis. Saat membaca bagian-bagian ini, aku harus kembali membuka ingatan peserta Reading Group untuk mengingat sosok Batavus yang tidak suka puisi dan suka menyombongkan diri. Batavus berulang kali menyatakan bahwa dirinya memiliki moralitas yang tinggi. Dan saat pembacaan memasuki kalimat-kalimat pengakuan diri Batavus ini, Pipih Suyati dan Aliyudin serta peserta yang lain tersenyum mesem-mesem.
    Kulanjutkan membaca bagian yang berisi pendapat Batavus tentang kisah Saijah dan Adinda yang akan dimunculkan di bab 17 Max Havelaar. Batavus telah menyinggung masalah kerbau yang merupakan bagian dari kisah percintan romantis-tragis Saijah dan Adinda. Berikut paragraf yang kubaca dan peserta Reading Group Max Havelaar menyimak setiap kalimat dengan tekun dan teliti.
    Apa arti kerbau jika dibandingkan dengan keselamatan Frits? Bagaimana bisa saya memusingkan diri dengan masalah masyarakat yang jauh di sana, sementara saya memiliki dasar untuk khawatir bahwa Frits beserta keyakinannya bisa merusak urusan saya sendiri, dan bahwa dia tidak akan pernah menjadi makelar yang baik? Karena Blatherer sendiri telah berkata bahwa Tuhan memerintah segalanya dengan cara yang pasti mengantarkan pada kemakmuran. “Lihat dan perhatikan!” katanya, “apakah tidak cukup kemakmuran yang ada di Holland? Itu karena kita memiliki iman. Bukankah perang, pembunuhan, dan kematian tiba-tiba, merupakan hal biasa di Prancis? Itu karena mereka beragama Katolik. Bukankah orang Jawa miskin? Mereka pemuja berhala. Semakin lama orang Belanda berurusan dengan orang Jawa, maka di sini semakin makmur dan di sana semakin miskin. Itu adalah kehendak Tuhan yang mengharuskan!” [hlm. 303]
    Tentu saja harus kuakui bahwa aku harus sangat hati-hati kusampaikan masalah perbedaan pandangan tentang agama ini kepada peserta. Inilah corak betapa liciknya Batavus sebagai seorang Belanda yang belum pernah menginjakkan kakinya di Hindia Belanda. Batavus masih saja dengan sikapnya yang sangat yakin dengan ucapan Blatherer bahwa orang Jawa miskin karena masalah keimanan. Orang Jawa miskin karena menyembah berhala. Tentu saja Batavus tidak mengatakan bahwa kemakmuran yang didapatnya tersebut berasal dari eksploitasi kekayaan bumi pertiwi. Selain menjelaskan tentang kemakmuran, aku juga menjelaskan tentang tanah Belanda. Meskipun tentu saja aku belum pernah pergi ke Belanda. Aku sangat tertolong saat menjelaskan mengenai Belanda ini oleh buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Jilid 1 karangan Sigit Susanto. Terutama di bagian Bersepeda Keliling Amsterdam. Aku mendapatkan informasi banyak di buku tersebut di antaranya keindahan bunga tulip, kota pelabuhan, sepeda, sungai-sungai, kincir angin, dan tentu saja bendungan atau dam. Kota-kota dengan akhiran dam seperti Amsterdam, Rotterdam, Volendam, dan lainnya. Maka hal itu pula yang kukemukakan kepada peserta Reading Group Max Havelaar sore ini.
    Tinggalkan sejenak tentang dam. Kulanjutkan kembali Batavus. Salah satu sifat Batavus yang tergambar dalam paragraf yang kubaca ini yaitu sangat yakin atas pilihannya. Bila Batavus tidak setuju dengan tulisan Stern, Batavus akan dengan segera menghentikannya. Ketidaksukaannya atas tulisan Stern selalu dinyatakan dengan langsung dan cenderung kasar.
    Sekarang, menurut buku saya… saya benar-benar berutang pemberian maaf para pembaca atas cara tak termaafkan Stern yang menyalahgunakan kontrak kami. Harus saya akui bahwa prospek mengenai pesta esok malam, dan kisah cinta tentang Saijah ini, membuat hati saya terpuruk. Pembaca sudah mengetahui pandangan sehat saya mengenai cinta… Anda hanya perlu ungkapan keputusan saya atas wisata Stern ke sungai Gangga. [hlm. 305-306]
    Reading Group minggu ke-28 Max Havelaar ini berakhir saat Batavus mengatakan bahwa barang siapa tidak mau bekerja akan miskin dan selalu miskin. Uang tidak tumbuh di Jawa: Anda harus bekerja! Kusampaikan bahwa kami membaca bagian yang panjang ini berdua puluh delapan. Sudah termasuk aku. Kedua puluh tujuh peserta tersebut yaitu Mariam, Ucu Suharnah, Sadah, Nuraeni, Herti, Mamay, Elis, Samnah, Yeni, Suryati, Elah, Nuraenun, Niah, Sujana, Suarsih, Ajis, Dede, Sumarna, Irman, Radi, Nurdiyanta, Yani, Mariah, Rohanah, Herman, Aliyudin, dan Pipih Suyati. Selesai reading, kami menikmati kue yang terhidang. Selanjutnya kami berfoto bersama. Kami berjanji akan bertemu minggu depan. Minggu depan kami akan membaca kisah Saijah dan Adinda.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan Reading Group Minggu Ke-28 Novel Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top