728x90 AdSpace

  • Latest News

    18 February 2014

    19 Februari


    Oleh Ubaidilah Muchtar

    127 tahun yang lalu ia meninggal. Sebenarnya belum begitu tua, dan cukup sehat, kecuali bahwa ia punya asma, dan levernya sudah sakit sejak di negeri Hindia, hingga warna mukanya kekuning-kuningan. Keadaannya adalah seperti seekor burung kenari.

    19 Februari 1887 Multatuli meninggal di Nieder-Ingelheim, Jerman. Di sebuah rumah yang dibeli oleh pengagum-pengagumnya. Ia meninggal dalam posisi duduk di kursi. Dua bulan sebelumnya, tepat 11 Desember 1886, ia berucap, “Asmaku sangat mengganggu. Tidak selalu sama terus, tapi, kadang-kadang aku seperti mau berhenti bernafas.”

    Tidak lama sesudah Multatuli meninggal, diketahui ia meninggalkan utang. Ada utang 120 Mark pada petani kol, 100 Mark pada beberapa toko buku, 140 Mark pada tukang daging, dan seterusnya, dan seterusnya. Inilah akhir hidup novelis masyhur kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 si “aku yang banyak menderita”.

    Dalam suratnya yang terakhir (17 Agustus 1886) kepada sahabat lamanya Marie Anderson ia menulis: “Terus terang: aku tidak bisa hidup, artinya dalam hal keuangan. Bahwa kami hidup dalam rumah yang relatif bagus, lebih merepotkan daripada sepenuhnya. Disebabkan karena berbagai hal yang kebetulan aku sebetulnya tidak bisa tinggal di sini, namun aku tidak bisa pergi. Bagaimana nasib M. kalau aku mati, hal yang segera akan terjadi, aku kira, aku tidak tahu! Singkatnya, kami sering sangat tertekan. Ini membuat getir tahun-tahunku atau … bulan-bulanku yang terakhir.”

    Multatuli, seorang pendahulu, adalah juga orang Belanda pertama yang dikremasi, di Gotha. Hanya beberapa orang Belanda yang hadir, di antaranya: Mimi dan saudaranya laki-laki, sahabatnya Braunius Oeberius dan istri, dan dua orang muda yang tidak dikenal dari Middelburg: Ghijsen dan Wibaut.
    Abunya mula-mula disimpan oleh Mimi, kemudian bertahun-tahun disimpan di perpustakaan Universitas di Amsterdam. Tahun 1948 didirikan sebuah monumen di pemakaman Westerveld, kotak kaleng berisi abu Mimi dan Multatuli, dikuburkan dengan khidmat di situ. Monumen tersebut direncanakan oleh A.H. Wegerif. Diresmikan 6 Maret 1948. 

    Di monumen tersebut tertulis ucapan Multatuli yang indah bunyinya: “Panggilan nurani manusia ialah untuk menjadi manusia.”

    Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, si pemikir revolusioner, penyair, satirikus, kritikus, moralis, dan pembaharu adalah penulis terbesar, “satu-satunya pengarang Belanda yang lebih dari seratus tahun tetap menarik perhatian.” Demikian Willem Frederik Hermans mencatat. 

    Pengaruhnya juga tertinggal di Indonesia, utamanya pada pemimpin-pemimpin pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan. 

    Mashuri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, masa itu, dalam kata pengantar Max Havelaar edisi pertama, 1972 (terj. H.B. Jassin) mencatat bahwa bagi bangsa Indonesia, Multatuli mempunyai arti yang khusus. Karena bukunya merupakan bahan dokumentasi yang penting bagi studi ilmu-ilmu kemasyarakatan dan politik. Tetapi nilai yang tiada taranya, terletak pada segi-segi kemanusiaan, kesatriaan, dan pendidikan watak yang ditampilkannya.

    “Multatuli dengan Max Havelaar-nya mempunyai kedudukan yang penting dalam sejarah bangsa kita, khususnya masa penjajahan Belanda. Seperti kita maklumi, dengan roman itu Multatuli telah berhasil membukakan mata kaum politik di negeri Belanda terhadap kebobrokan yang terdapat di daerah jajahannya. Akibatnya, sejak terbit karya itu pada tahun 1860 dimulai usaha-usaha pemerintah Hindia Belanda untuk mendatangkan kesejahteraan pada kehidupan rakyat Indonesia lewat kebijakan ekonomi serta kesempatan pendidikan. Gagasan-gagasan dalam roman itu akhirnya juga bermuara kepada kebijaksanaan Politik Etika yang termasyhur itu yang memperhatikan kepentingan dan kemajuan bangsa Indonesia.” Subagio Sastrowardoyo mencatat hal tersebut dalam kata pengantar buku Willem Frederik Hermans, Multatuli yang Penuh Teka-Teki (1988).

    Subagio juga mengingatkan bahwa, Multatuli memang penting bagi Indonesia, dan bagi pembaca Indonesia menariklah mengikuti riwayat hidupnya…. Tetapi kita tidak boleh silap, bahwa di dalam periode yang amat panjang sesudah gagasan-gagasan Multatuli didengar dan berpengaruh itu, di dalam masa-masa penjajahan yang suram dan menekan itu, Multatuli dengan Max Havelaar-nya makin lama makin Nampak sebagai tokoh yang makin susut sosok kepribadiannya di ufuk sejarah, yang berteriak sia-sia di tengah padang pasir yang tak memantulkan kembali kumandang suaranya.

    Semangat Multatuli dalam Max Havelaar yang berisi semangat antikorupsi, melawan pembodohan dan pemiskinan, melawan kesewenang-wenangan dan eksploitasi. Roman dengan banyak hikmah yang harus terus kita renungkan. Roman dengan nilai-nilai yang menyentuh lubuk hati umat manusia. Semangat itu jangan sampai pupus. Membaca Max Havelaar kembali adalah satu upaya. Ya, membaca kembali Max Havelaar!

    Max Havelaar, roman yang mempunyai kekuatan masyarakat. Roman yang merupakan hasil kesusastraan yang tinggi. Roman kepahlawanan, pembela rakyat tertindas. Meskipun sudah 153 tahun sejak pertama kali diterbitkan. Meskipun banyak kritik yang menimpanya.  Namun tetap pada keyakinannya: Ya, aku bakal dibaca!

    Berikut ini ramalan Multatuli yang ia tulis dalam Max Havelaar:

    “Buku itu isinya aneka macam, tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk, tidak Nampak keahlian; …. tidak ada bakat, tidak ada metode.”
    Baik, baik ….. semuanya itu benar, ….tapi orang Jawa dianiaya!
    Sebab orang tidak bisa membantah maksud utama karyaku.
    Semakin keras orang mengeritik bukuku, semakin baik aku rasa, sebab lebih besar kemungkinan bakal didengar; --dan itulah yang aku mau.

    127 tahun yang lalu Multatuli meninggal. Namun membaca Max Havelaar masih relevan dan harus terus diupayakan. Terus dihidupkan. Drs. G. Termorshuizen pernah menulis, “Pertemuan dengan dengan Havelaar tetap aktual: manusia Havelaar yang tidak terikat secara historis, individu yang berjuang melawan kepentingan diri kolektivitas. Terutama motif-motif manusiawi, itulah titik tolak Multatuli, yang menjadikan Max Havelaar mengandung tenaga yang begitu hebat.”

    Kearifan ucapannya tetap bertahan. Membimbing kita agar selalu waspada pada praktik kekerasan dan eksploitasi, penyalahgunaan kekuasaan, dan penindasan. Juga bentuk feodal pemerintahan, serta tokoh-tokohnya yang rakus dan korup. 

    Kearifan seperti: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi, kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam”. Tetap berlaku hingga hari ini.

    Damai selalu di sana, Max! ***


    Pondok Petir, 16 Februari 2014

     
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: 19 Februari Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top