728x90 AdSpace

  • Latest News

    29 November 2012

    Perasaan

    "Anakku jam berdentang, sembilan kali—dengarkan!
    Angin malam berhembus, dan udara menjadi dingin,
    Terlalu dingin bagimu, mungkin: keningmu berkilau!
    Kau telah bermain dengan bebas sepanjang hari,
    Kau pasti lelah, jadi kemari, tikarmu telah menanti."
    "Oh ibu, biarkan aku tinggal sebentar lagi!
    Aku sedang berbaring nyaman beristirahat sekarang ... dan
    di sana,
    Di atas tikarku, aku segera tidur,
    Bahkan tanpa mengetahui aku sedang bermimpi apa! Tetapi
    di sini,
    Di sini aku bisa memberitahumu dengan segera tentang
    apa yang kuimpikan,
    Dan bertanya padamu apa artinya... oh, dengar, Ibu,
    "Apa itu?"
    "Itu sebuah kelapa yang jatuh."
    "Apakah menyakitkan bagi kelapa?"
    "Tidak, Ibu kira tidak,
    Karena baik buah maupun batu, mereka berkata, tidak memiliki perasaan."
    "Dan bunga-bunga, kalau begitu—apakah mereka mereka tidak merasakan apa pun?"
    "Tidak,
    Mereka berkata tidak memiliki perasaan juga."
    "Ibu,
    Kemarin, ketika aku merusak pukul ampat,
    Mengapa Ibu berkata jika itu menyakiti bunga-bunga?
    "Anakku, pukul ampat begitu indah,
    Kau dengan kasar merobek kelopaknya yang lembut,
    Dan Ibu merasa kasihan dengan bunga cantik yang malang itu.
    Meskipun bunga itu sendiri tidak merasakan apa-apa
    Ibu merasakannya untuk bunga-bunga itu, mereka begitu cantik."
    "Tetapi Ibu, apakah kau juga cantik?"
    "Tidak, nak,
    Ibu tidak merasa begitu."
    "Tapi apakah kau memiliki 'perasaan'?"
    "Ya, manusia memiliki itu... tapi tidak semuanya sama."
    "Dan adakah sesuatu yang bisa menyakitimu? Apakah kau merasa sakit
    Ketika kepalaku diletakkan, begitu lama, di pangkuanmu?"
    "Tidak, itu tidak menyakitkan ibu!"
    "Dan, Ibu, Aku...
    Apakah aku memiliki 'perasaan'?"
    "Tentu saja! Ingat
    Saat kau tersandung, dan melukai tangan kecilmu
    Di atas sebuah batu, lalu menangis begitu sedih.
    Kau juga menangis ketika Saudin memberitahumu
    Di atas sana di antara bukit-bukit seekor kambing kecil
    Terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan mati. Kemudian
    Kau menangis dalam waktu yang lama. Lihat, itu adalah perasaan."
    "Tetapi, Ibu, apakah 'perasaan' ini menyakitkan, kalau begitu?"
    "Ya,
    Seringkali, tetapi... tidak selalu, terkadang tidak! Kau tahu,
    Ketika adik menarik rambutmu,
    Dan... menarik wajahmu agar dekat dengan wajahnya,
    Lalu kau tertawa riang, dan itu juga perasaan."
    "Dan adik, kalau begitu... dia begitu sering menangis,
    Apakah itu karena rasa sakit? Punyakah dia, kalau begitu,
    'perasaan' juga?"
    "Mungkin, sayangku, tetapi kita tidak mengetahuinya,
    Karena dia masih terlalu kecil untuk bisa memberitahu kita."
    "Tapi, Ibu... dengar, apa itu?"
    "Seekor rusa
    Terlambat pulang di dalam hutan, dan sekarang sedang bergegas
    Menuju rumahnya, serta menemukan keinginannya untuk
    beristirahat
    Bersama rusa lain yang dia cintai."
    "Ibu, apakah seekor rusa
    Seperti itu juga memiliki adik? Apakah dia memiliki
    Seorang ibu seperti aku?"
    "Nak, Ibu tidak tahu."
    "Akan menyedihkan juga, jika dia tidak punya!
    Tetapi Ibu, lihat... apa yang bersinar di semak sana?
    Lihat bagaimana dia meloncat dan melompat... apakah itu
    bunga api?"
    "Itu adalah kunang-kunang."
    "Boleh kucoba menangkapnya?"
    "Boleh, tetapi serangga kecil itu begitu lembut
    Jadi kau pasti menyakitinya, dan segera
    Setelah kau dengan kasar menyentuhnya dengan jarimu,
    Makhluk itu kesakitan, mati dan tidak lagi bersinar!"
    "Oh, itu akan menyedihkan. Tidak, aku akan membiarkannya!
    Lihat, sekarang dia hilang... tidak, dia datang kemari...
    Tapi aku tidak akan menangkapnya! Sekarang dia sedang
    terbang,
    Bahagia karena aku tidak menangkapnya.
    Itu dia di sana... tinggi! Tinggi, di sana... apa itu,
    Apakah mereka kunang-kunang kecil juga?"
    "Itu adalah
    Bintang-bintang."
    "Lihat, satu! Dua puluh! Seribu!
    Berapa banyak di sana?"
    "Ibu tidak tahu,
    Belum ada yang berhasil menghitung jumlah bintang."
    "Tapi beritahu aku, bahkan Dia juga tidak bisa melakukannya?"
    "Tidak, sayang, bahkan Dia juga tidak."
    "Apakah jauh sekali,
    Nun jauh di atas di mana bintang berada?"
    "Sangat jauh!"
    "Tetapi apakah mereka memiliki 'perasaan' ini juga, bintang-bintang itu?
    Dan akankah mereka, jika aku menyentuhnya dengan tanganku,
    Langsung kesakitan, dan mati, serta kehilangan cahayanya,
    Sama seperti kunang-kunang? Lihat, dia masih berputar-putar!
    Katakan, apakah aku juga akan menyakiti bintang-bintang?"
    "Oh tidak,
    Kau tidak bisa menyakiti bintang-bintang! Lagipula, mereka
    terlalu jauh
    Bagi tangan kecilmu: kau tidak bisa meraih terlalu tinggi."
    "Bisakah Dia menjulurkan tangannya dan mengambil bintang?"
    "Tidak, sayang, bahkan Dia tidak bisa; tidak ada yang bisa!"
    "Oh, sayang sekali! Betapa inginnya aku
    Membrimu satu! Tapi tunggu hingga aku besar,
    Dan aku akan sangat mencintaimu semampuku!"
    Anak itu jatuh tertidur, dan memimpikan "perasaan",
    Tetapi bintang-bintang yang tertangkap dan diambil oleh
    tangan kecil...
    Lama sebelum sang ibu tertidur! Tetapi dia
    Juga bermimpi, memikirkan Dia di jauh sana...

    Cassel, Januari 1859
    [Sumber: Max Havelaar karya Multatuli, hlm. 261-266]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Perasaan Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top