728x90 AdSpace

  • Latest News

    24 August 2011

    Catatan Reading Group Minggu ke-35 Novel Max Havelaar


    Oleh Ubaidilah Muchtar
    Bila kukenang kembali masa kanak-kanak dan remajaku, sosok Sadili, Inan, Apen, Ahmad, Jamhur, Ade, Asim, dan Jamal langsung terlintas dalam benakku. Inan kawanku yang paling dekat. Inan dan aku—merunduk di bawah hujan di pematang sawah yang sedang beukah untuk mencari bekicot di saluran air. Inan dan aku—menyusuri sungai meracuni ikan dengan potas, mengambil pasir di Sungai Cipunagara, berkemah di Lapangan Marabunta, dan mengendap-endap memasuki pondokan sepulang menonton pertandingan sepakbola di televisi yang dipasang di pos ronda depan balai desa. Inan dan aku, selalu bersama dalam setiap perkembangan, mulai kanak-kanak hingga lelaki muda. Melekat bagai stempel di prangko dalam surat yang dibubuhkan pegawai kantos pos. Terlebih sekarang, setelah semua kenangan dan kebersamaan itu begitu berjarak menjadi masa lalu untuk selamanya.
    Inan dan aku tamat SD bersama dengan nilai baik. Hari-hari berkutnya, kami akan mengayuh sepeda menuju sekolah baru. Madrasah Tsanawiyah, sekolah setingkat SMP di Pamanukan. Inan sering lebih dahulu tiba di depan rumah ketika hendak pergi sekolah. Sementara aku harus mengantar pesanan kue mangkok ke desa sebelah terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Inan akan dengan sabar menungguku. Akhirnya, kami pergi bersama. Sepeda Inan sama dengan sepeda milikku. Jika sedang bosan mengayuh sepeda sendiri, aku dan Inan akan bergantian mengayuh. Maka hari itu kami hanya membawa satu sepeda. Sepeda ontel kecil berwarna hijau bermerek: Phoenix.
    Inan lulus dengan nilai baik, kemudian melanjutkan ke SMA di Bandung. Aku melanjutkan ke Madrasah Aliyah di Pamanukan. Menulis surat, seperti yang kuduga bukanlah hal yang menyenangkan bagi Inan. Aku harus puas mengetahui kabar Inan dari Jamal, kakak Inan. Inan dan aku telah lama tidak bertemu. Hubunganku dengan Inan sempat kupertahankan dengan surat-surat yang semakin jarang. Terkadang dengan selembar kartu pos yang ditulis tergesa-gesa. Kudengar kabar dari Jamal bahwa Inan kini menetap di Bandung dan mengajar di sebuah Perguruan Tinggi ternama di sana. Kini aku makin sering mengingat Inan, tidak untuk mengharap kehadirannya, melainkan hanya untuk merasakan keakraban seperti suasana di kampungku dulu.
    Di Kabupaten Lebak, tepatnya di Kampung Ciseel, aku menemukan suasana masa kanak-kanak dan remajaku. Aku menemukan cara untuk mengambil kenangan masa lalu itu dengan mengajak anak-anak Ciseel membaca dan menulis di tempat yang kunamai Taman Baca Multatuli. Mengenal dunia yang lebih luas dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak di perkotaan untuk mengenal dunia sastra. Dengan membaca novel secara berjamaah setiap sore di hari Selasa. Membaca novel kepahlawanan pembela rakyat tertindas, Max Havelaar. Juga menyediakan tempat yang tepat untuk mengutarakan kegundahan, kesedihan, kekhawatiran, kesenangan, kesedihan, emosi, lapar, bahagia, dan suka dengan mengajak mereka menulis catatan harian.
    Oh, tunggu sebentar, aku akan simpan kisahku. Aku kira pembaca sudah tidak sabar menunggu lanjutan Reading Group Max Havelaar. Maka selamat tinggal!
    Hari Selasa, tanggal 8 Februari 2011, hampir sebelas bulan sejak pertama kali Reading Group Max Havelaar dimulai, pada pukul 16.00 sore, aku dan 27 anak sudah berkumpul memegang novel di Taman Baca Multatuli. Pada hari itu, kami melakukan pertemuan yang ke-35. Kami akan memulai pembacaan bab terakhir dari novel Max Havelaar, tepatnya bab 20.
    Kubaca paragraf-paragraf awal bab terakhir ini.
    Saat itu malam hari. Tina sedang duduk membaca di selasar bagian dalam, dan Havelaar sedang menggambar pola bodir. Max kecil sedang menyatukan permainan puzzle, dan kehilangan kesabaran karena dia tidak bisa menemukan “tubuh merah wanita itu”. [MH, hlm. 370]
    “Menurutmu apakah lebih bagus seperti ini, Tina?” tanya Havelaar.
    “Lihatlah aku telah membuat pohon palm ini tiga kali lebih besar… Ini benar-benar ‘garis keindahan’ Hogarth bukan?”
    “Benar, Max! Tapi lubang rendanya terlalu berdekatan.”
    “Oh? Kalau begitu bagaimana dengan tali yang lain? Max! Mari lihat celanamu! Halo, apakah kau menggunakan tali itu? Mengapa, aku masih ingat kau mengerjakan yang satu itu, Tina!”
    “Tidak. Di mana kalau begitu?”
    “Saat di The Hague, ketika Max sakit, dan kita begitu khawatir karena dokter mengatakan bahwa kepalanya memiliki bentuk yang tidak umum sehingga kita harus menjaga agar tidak terjadi pendarahan otak… saat itulah kau membordir tali itu.”
    Tina bangkit dan mencium Max kecil.
    “Aku menemukan perutnya, aku menemukan perutnya!” seru anak itu dengan riang, maka wanita merah itu sudah lengkap.
    “Siapa yang bisa mendengar suara tongtong?” tanya ibunya.
    “ Aku bisa,” kata putranya.
    “Waktu tidur! Tapi… aku belum makan kudapan saat malam?”
    “Kau akan makan kudapan dulu, pastinya.”
    Lalu Tina berdiri, dan memberinya makanan ringan, yang tampaknya dia ambil dari laci yang aman di kamarnya, karena beberapa kali terdengar suara kunci dibuka.
    Havelaar dan Tina lantas terlibat dalam percakapan mengenai rumah tangga mereka. Havelaar sangat mengkhawatirkan makanan yang diberikan kepada Max kecil. Tina memastikan bahwa semua makanan yang diberikan itu dalam keadaan aman. Selanjutnya mereka berbincang soal utang yang belum dibayarnya kepada dokter. Tina menenangkan Havelaar untuk kedua kalinya dengan mengatakan bahwa kehidupan mereka di Lebak ini sudah sangat hemat. Tina berharap sebentar lagi mereka dapat melunasi utang-utangnya. Apalagi Tina berharap sebentar lagi Havelaar akan dipromosikan sebagai Residen.
    “Maka segalanya akan segera tenang.” Demikian Tina menenangkan suaminya.
    Havelaar justru makin khawatir jika memikirkan promosi itu. Berikut perkataan Havelaar yang kubaca pelan.
    “Itulah yang mengkhawatirkanku,” kata Havelaar. “Aku sangat menyesal jika meninggalkan Lebak… dengar, akan aku jelaskan. Tidakkah menurutmu kita semakin mencintai Max setelah dia sakit parah? Ya, menurutku itulah yang harus aku rasakan mengenai daerah Lebak yang malang ini, setelah disembuhkan dari kanker yang telah diderita selama bertahun-tahun ini. Pemikiran mengenai promosi membuatku takut—aku tidak bisa pergi dari sini, Tina! Akan tetapi… di sisi lain…ketika aku memikirkan utang-utang kita…”
    Havelaar terlihat tidak tenang. Goresan liar muncul di bordirannya. Terdapat kemarahan dalam motif bunga itu. Lubang-lubang renda itu membentuk sudut, tajam, saling menggigit. Havelaar melompat dan turun ke selasar bagian dalam rumah. Havelaar lantas berujar dengan tajam dan kasar bagi setiap orang asing, namun diterjemahkan dengan sangat berbeda oleh Tina:
    “Terkutuklah keteledoran ini, keteledoran yang memalukan ini! Di sini aku sudah duduk menanti keadilan selama satu bulan, dan sementara itu masyarakat yang malang sangat menderita! Regen tampaknya yakin bahwa tidak ada yang berani menyentuhnya! Lihat…”
    Havelaar lantas ke ruang kerja dan kembali dengan sebuah surat di tangannya.
    “Lihatlah! Dalam surat ini dia dengan berani membuat usulan pada saya mengenai jenis pekerjaan yang ingin dia kerjakan dengan orang-orang yang telah dia panggil secara illegal! Tidakkah ini sangat tidak tahu malu? Dan tahukah kau siapa orang-orang itu? Mereka adalah para wanita yang memiliki anak kecil, dengan bayi di dada mereka, para wanita hamil yang telah dibawa ke sini dari Parangkujang untuk bekerja demi dia! Tidak ada lagi kaum pria yang tersisa! Dan mereka tidak memiliki apa pun untuk dimakan, mereka tidur di jalan, dan makan pasir! Bisakah kau makan pasir? Haruskah mereka memakan pasir hingga aku menjadi Gubernur Jenderal? Kurang ajar!”
    Tina sangat tahu siapa sebenarnya yang dimarahi Max ketika dia berbicara seperti itu padanya, yang sangat dia cintai.
    “Dan,” lanjut Havelaar, “semua ini dilakukan atas tanggung jawabku! Sekarang saat ini, jika orang-orang malang itu sedang berkeliaran di luar dan melihat cahaya lampu kita, mereka akan berkata: ‘Di sana tinggal para bajingan yang seharusnya melindungi kita! Di sana duduk dengan tenang dengan istri dan anak, menggambar pola bordiran… sementara kita terbaring kelaparan di jalan bersama anak-anak kita, seperti anjing liar!’ Ya, aku mendengarnya, aku mendengarnya, tangisan dendam di kepalaku! Max, kemari!”
    Havelaar lalu mencium putranya dengan keliaran yang membuat Max kecil ketakutan.
    “Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan… bahwa banyak ibu yang meninggal karena kesalahanku… ketika mereka berkata bahwa ayah melalaikan tugas yang telah mencuri berkah dalam kepalamu…oh, Max, Max, beritahu mereka betapa menderitanya aku!”
    Kemudian tangisnya pun pecah, air matanya dicium Tina. Dia mengajak Max kecil ke tempat tidurnya—selembar tikar—dan ketika dia kembali dia menemukan bahwa Havelaar sedang dalam percakapan dengan Verbrugge dan Duclari, yang baru saja tiba. Mereka membicarakan keputusan pemerintah yang sedang dinantikan.
    Duclari mengatakan bahwa sejujurnya jika Residen sedang dalam dilema. Residen tidak dapat menyetujui usulan Havelaar sebab jika hal itu terjadi maka bakal banyak hal terungkap. Duclari mengatakan demikian karena dia sudah berada lama di Banten bahkan ketika ia masih seorang NCO. Havelaar pun mengetahui akan hal itu. Bagaimana kedekatan Regen Lebak dengan Residen Banten, Slymering alias Brest van Kempen.
    Selanjutnya kubaca surat pemecatan atas Asisten Residen Lebak, Max Havelaar. Surat dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Timur, A.J. Duymaer van Twist bernomor 54 tertanggal 23 Maret 1856 yang dikirim dari Bogor. Kubaca surat ini dengan banyak penjelasan untuk para peserta Reading Group sore itu. Ini dia suratnya.

    Kantor Gubernur Jenderal
    No. 54 Bogor, 23 Maret 1856

    Cara yang Anda pakai sejak Anda menemukan atau menduga telah terjadi malpraktik dari pihak pemimpin divisi Lebak, dan tingkah laku Anda terhadap pejabat di atas Anda Residen Banten, telah membuat saya sangat kecewa.
    Tindakan Anda di atas tersebut menunjukkan tidak adanya penyelidikan secara tenang, kebijaksanaan dan kewaspadaan sangat penting di dalam kepribadian seorang pejabat (seperti yang tertulis) dalam mengatur kekuasaan di pedalaman, mulai dari sutau konsep pengabdian selaku bawahan pada atasan langsung Anda.
    Baru beberapa hari setelah Anda memasuki tugas baru, Anda merasa tepat untuk menjadikan Pemimpin Administrasi Pribumi Lebak sebagai objek penyelidikan yang bersifat menuduh, tanpa berkonsultasi dahulu pada Residen (seperti yang tertulis).
    Pada penyelidikan itu, bahkan sama sekali tidak memperkuat tuduhan Anda pada pemimpin yang dimaksud menurut fakta (seperti yang tertulis), apa lagi bukti-bukti, Anda menemukan alasan untuk merekomendasikan tindakan yang akan memberi seorang pejabat pribumi simbol Regen Lebak, seseorang berumur enam puluh tahun namun masih merupakan pelayan negara yang giat, salah satu anggota keluarga-keluarga penting Residen tetangga, dan dari dia laporan-laporan tetap bagus, sebuah perlakuan yang bisa berarti menghancurkan seluruh moralnya.
    Terlebih lagi, ketika Residen menunjukkan bahwa dia tidak suka memberi keputusan langsung pada usulan Anda, Anda menolak mematuhi keinginan pemimpin Anda yang masuk akal, bahwa Anda perlu melakukan pengungkapan data lengkap tentang segala hal yang Anda anggap berhubungan dengan kelakuan administrasi pribumi Lebak.
    Sikap seperti itu berhak mendapat hukuman, dan siap menjadi alasan untuk mencurigai bahwa Anda tidak cocok mengisi posisi di Dinas Pemerintah Hindia Timur.
    Oleh karena itu saya memaksa untuk membebaskan Anda dari tugas sebagai Asisten Residen Lebak.
    Mempertimbangkan, bagaimanapun, laporan baik yang dulu diterima mengenai Anda, saya tidak ingin memerhatikan apa yang akan terjadi akibat merampas kesempatan Anda untuk mengisi posisi lain di dinas. Oleh karena itu, untuk sementara saya percayakan pada Anda pelaksanaan tugas sebagai Asisten Residen Ngawi.
    Perilaku Anda dalam posisi itu nanti akan sepenuhnya menentukan kemungkinan untuk bisa menerima Anda kembali di Dinas Pemerintah Hindia Timur.
    Gubernur Jenderal
    Hindia Belanda Timur

    Havelaar lalu mengajak Tina untuk pergi. Lalu memberikan surat itu kepada Duclari, yang membacanya bersama-sama dengan Verbrugge. Betapa geramnya Duclari dan Verbrugge. Namun Havelaar masih bersikap tenang dengan mengatakan bahwa Gubernur Jenderal mungkin salah mengambil keputusan sebab mungkin ia terjebak dalam jaring birokrasi di Bogor. Havelaar yakin Gubernur Jenderal pria yang jujur.
    Havelaar berkeyakinan bahwa jika ia ingin mengakhiri korupsi ini, ia harus berhenti jadi pejabat. Selama ia masih menjadi pejabat begitu banyak orang di antara dia dan pemerintah yang tertarik untuk mengingkari kesengsaraan rakyat. Havelaar tidak akan pergi ke Ngawi sebab ia tahu bahwa posisi itu dikosongkan dengan sengaja untuk dirinya.
    Dia (Havelaar) memperlihatkan berita dalam Javasche Courant (koran resmi Pemerintah Hindia Belanda), surat kabar yang tiba dengan pengantar surat yang sama, bahwa dalam perintah pemerintah di dewan yang berisi penugasan administrasi Ngawi, pada dia juga berisi pemindahan sang Asisten Residen divisi itu ke divisi lain yang lowong.
    “Tahukah Anda mengapa mereka memindahkan saya ke Ngawi bukan ke divisi yang lowong itu? Saya beritahu! Ngawi merupakan bagian Karesidenan Madiun, dan Residen Madiun adalah saudara ipar Residen Banten yang terakhir. Saya berkata selalu ada skandal-skandal yang terjadi di sini… dan bahwa Regen memiliki contoh yang sangat buruk di masa lalu…”
    Kami mengakhiri pertemuan minggu ke-35 ini setelah membaca paragraf yang isinya bahwa Duclari dan Verbrugge mengetahui mengapa Havelaar dipindah ke Ngawi, sebagai tempat percobaan Havelaar, untuk melihat apakah dia bisa memperbaiki sikap!
    Apakah Havelaar pergi ke Ngawi? Tidak, tentu saja jawabnya.
    Sore jatuh di Taman Baca Multatuli. Kami menutup buku. Merapikannya kembali di rak. Malam merambat cepat. Para peserta satu-satu kembali. Apakah kami akan bertemu kembali Selasa sore minggu depan? Insya Allah.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan Reading Group Minggu ke-35 Novel Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top